Change Destiny

Change Destiny
Bab 51 Ampun, Bik Jum


__ADS_3

Bab 51


.


Ironis banget nasib Melani,dengan depresi berat masih harus terbayang rasa takut. Dia berjalan dengan kaki gemetar membuka pintu.


Cekrekk....


Tampak wajah jengkel dan sedikit stres sedang berdiri pintu itu terbuka.


"Bisa kita bicara serius?" tatapan Wiliam penuh misteri bercampur aura dingin.


Aku mengangguk berdiri gemetaran, debaran jantungku semakin kencang, nafasku antar satu dua memompa oksigen yang masuk.


"Kita ke ruang kerja saya sekarang" Wiliam berjalan di depan dengan langkah cepat dan berat.


Semenjak aku temui spesialis pisikiater hipnotis kedua kalinya, memori yang sempat aku pendam beberapa waktu lalu kembali jelas terukir di pemikiranku.


Ya ,tentu juga aku sudah ingat siapa Wiliam. Pria dingin yang telah menikahiku dengan status sebagai suami.


Langkah-langkah kecil kakiku menaiki anak tangga rumah mewah itu. Hingga aku berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya.


"Duduk" titahnya dengan suara tertekan amarah, menunjuk sofa .


Aku beranikan untuk duduk tepat berhadapan dengan dirinya ,dan mulai mendengar setiap apa yang dikatakannya.


"Kamu harus berkata sejujurnya" ucap Wiliam menghidupkan tombol On pada laptop.


Aku pun kembali mengangguk, dengan tangan aku kepal erat, setidaknya mengurangi rasa gugup.


"Apakah kamu menarik modal dua puluh persen dari dana utama, setelah saya menandatangani kontrak kerjasama itu,hum?"


Aku dapat merasakan aura tatapan Wiliam penuh emosi,meski aku tertunduk.


"Dari mana dia dapat mengetahui rahasia itu?. Tidak mungkin pihak bank membocorkan rekening dana milikku" bathinku bertanda tanya.


Rahasia yang hanya aku seorang tau dengan pihak bank terkait, saat aku bertransaksi.


Ctak....


Jentikan jari Wiliam kembali mengagetkanku.


"Jawab!!. Dan ini penyebab asma kamu kambuh sampai depresi ?" bentaknya menunggu jawabanku.


"I-iya" sahutku menyatukan kepalan tangan.


"Saya tidak peduli kamu pergi kemana kan semua uangmu.Tapi ,ingat baik-baik satu hal. Ini terakhir kali saya akan membantu masalah kamu. Jika di lain hari kamu mengalami hal seperti ini lagi saya akan lepas tanggung jawab" tegasnya.


Seolah dia mengetahui secara detail terperinci semua masalah yang sedang kualami saat ini. Atau memang dia telah mengetahui segala sesuatunya.


"Dan obligasi ini yang kamu beli?" memutar laptop mengarah padaku.


Tanpa berpikir jauh keadaan seorang pasien depresi, Wiliam terus bertindak menurut apa yang dianggapnya benar.

__ADS_1


Sungguh tidak habis pikir, bagaimana dia bisa menemukan itu semua tanpa aku beritahu.


Mata Melani melihat sekilas nama obligasi itu di layar laptop, lalu kembali nunduk menahan rasa sesak teramat menyakitkan.


"Bo-leh a-ku ke-luar?" tanya Melani bernafas terputus-putus dan beranjak berdiri.


"Asma kamu kumat lagi, hum ?" menatap sejajar wajah Melani tertunduk.


Kali ini gak kuat jawab pakai suara, hanya bisa membalas pakai anggukkan.


"Tarik nafas kamu pelan-pelan" mendudukan Melani sebelum terjatuh.


Wiliam berjalan keluar memanggil ART ,lalu berbalik masuk menyandarkan tubuh kecilku agar lebih nyaman.


Kaki Melani yang berselonjor lurus di atas sofa, di tarik tepat dalam pangkuan Wiliam yang pegang tumit istri kecil.


Entah apa yang hendak dilakukan pria dingin itu dengan kaki tersebut.


Arrggg.... Rintih sakit Melani saat Wiliam mencubit tarik pergelangan belakang kaki, antara rongga mata kaki itu.


Arrggg... Kembali meringis kesakitan kedua kalinya Melani digitukan.


ART kurus yang hendak mengetuk pintu pun jadi terdiam mematung dengar rintih kesakitan.


"Kayaknya Tuan dan Nyonya...??.Pasti Nyonya Melani calon istri Tuan, atau memang suami istri yang sedang bertengkar ?" praduga ART kurus dengan senyum nyengar-nyengir dan menempelkan daun telinga ke pintu.


"Enakkan kan?" tanya Wiliam, letakkan turun kaki-kaki Melani dari pangkuan.


Di luar pintu, pikiran imajinasi ART kurus melambung tinggi jauh dari planet bumi ,sore gini. Pikirannya sedang membayangkan dua orang di dalam satu ruangan sedang tergoda sosok ketiga yang hadir, dan terpancing untuk berolah raga ria .


Aww.... Daun telinga ART yang satu lagi di tarik menjauh dari pintu oleh seseorang.


"Kamu ngapain nguping?.Tidak baik nguping percapakan majikan. Cepat balik kerja?" omel kepala ART.


"Ampun, Bik Jum. Wong, Tuan manggil" jawab ART kurus.


"Bener...!!.Awas kalau bohong. Tambah monyong bibir ko'e" kepala ART melipat tangan.


"Loh ...kok mulut ku.Kan telinga yang nguping,mulut yang monyong, hehe... " ART tertawa terkekeh menutup mulut.


"Wesss, sono kalau Tuan emang manggil" ujar kepala ART.


"Yes, Madam " ART kurus memberi hormat upacara .


ART kurus kembali menghampiri ruang kerja, dan mengetuk pintu saat suara tidak terdengar dari dalam.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan juga berirama pelan hati-hati, agar tidak merusak suasana indehoy Tuan dan Nyonya.


"Masuk" jawab Wiliam duduk menghadap pintu.


"Permisi Tuan. Tadi Tuan panggil, ada perlu apa ya?" menunduk, tapi lirikan mata bisa lihat Melani.

__ADS_1


"Kamu bantu Nyonya balik ke kamar" titah Wiliam beranjak berdiri keluar.


"Baik, Tuan"


"Mari saya bantu, Nyonya" bantu Melani berdiri.


Pikiran ART kurus masih saja melayang di luar angkasa, lihat keadaan Melani dalam keadaan lelah, harus dibantu balik kamar, dan keadaan ruang kerja agak berantakan.


"Mbak, Mbak " panggil Melani ingin minum.


"Eh, iya. Ada apa Nyonya?" ART kurus menoleh dengan senyum cengar-cengir.


"Tolong, ambil ,minum,Mbak" suara Melani terputus-putus sesak.


"Baik, Nyonya. Sekarang duduk di sini dulu ya" mendudukan Melani di ruang tengah.


Saat ART kurus pergi ke dapur ambil minum, Melani berfikir kembali. Bagaimana pria dingin bisa dapat bocoran info tadi. Seingat daya ingatan masa depan Melani, pria itu memang punya kekuasaan besar, dan punya koneksi luas termasuk dengan genk mafia.


"Kenapa kamu masih di sini?Cepat minum obat kamu" entah kapan pria dingin berada di belakang.


"Aku, haus" putus-putus sahut Melani, pegang dada sesak.


"Ayo masuk kamar" Wiliam memapah berdiri.


Walau enggan dan canggung, Melani tidak bisa melawan saat kondisi begini.


Kami berjalan beriringan, dapat kurasakan tenaga tangannya yang kuat hanya sekedar memapah tubuh kecil tak seberapa berat.


"Aku ,lanjut ,sendiri " sakit kaki dan tanganku dengan tenaga tangannya.


"Emmm" melepaskan papahan setiba di depan kamar.


Aku berjalan menyeret kaki masuk kamar, dan Wiliam masih berdiri menunggu aku sampai benar-benar masuk.


"Permisi Tuan" ucap ART kurus membawa segelas air.


"Itu air hangat?" tanya Wiliam.


"Bukan Tuan" binggung.


"Cepat tambah air panas, baru kasih Nyonya untuk minum obat" lanjut berjalan.


"Sejak kapan minum pil Kb harus pakai air hangat ya? " monolog ART kurus garuk binggung kepala.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2