
Bab 89
.
Jam makan malam hampir tiba,tapi Melani belum juga keluar dari kamar utama untuk bersih-bersih.
"Masa aku makan dengan bau asem" berhenti mondar mandir, mencium lipatan lengan dan rambut bau apek.
Yang ditunggu akhirnya bangun, dia merenggangkan kedua tangan dengan lebar.
Kret....Krettt....
Terdengar bunyi otot-otot kaku yang dilemaskan.
"Tuan, aku sudah boleh keluar kan?" kaku bertanya, sambil nunjuk pintu yang masih terkunci password.
"Tunggu saya mandi dulu" titahnya, turun dari tempat tidur menuju lemari pakaian rahasia berisi toilet mewah luas.
Sementara harus menunggu, Melani merenggangkan otot kaki tegang dan capek.
"Mandi kok lama. Melebihi perempuan" celoteh Melani duduk memijat kaki.
Dengan aroma tubuh segar dan berpakaian rapi, suami tampan keluar dari lemari rahasia.
Aroma yang sudah terbiasa tercium setiap hari menyapu penciuman Melani,sama sekali tidak menggoyahkan hati gadis cantik itu.
Bokongnya melompat naik dari sofa, mengikuti jejak tapak kaki suami yang buka kode sandi terlihat mudah itu.
"Kok aku gak bisa buka ?. Padahal tidak banyak tombol di pencet?" Melani penasaran, sambil elus dagu.
"Kamu lihat apa, hum?" Wiliam menoleh ke belakang.
"Nggak ada" jutek jawabnya, memalingkan wajah ketahuan ke arah lain.
Mereka melangkah keluar dari kamar. Dengan cepat Melani berlari pelan menuruni anak tangga menuju kamar tamunya untuk segera mandi sebelum makan malam. Apalagi membuat big bos yang notabene suami harus menunggu dirinya terlampau lama.
"Mandi bebek aku jadinya" gerutu Melani menyabuni rambut sampai kaki dengan secepat kilat.
Dalam 5 menit Melani sudah usai mandi dan berpakaian bersih, tapi rambut masih setengah kering.
"Kalau tiap hari mandi bebek,lama kelamaan jadi manusia gimbal aja sekalian" gerutu Melani, membuka pintu kamar.
Tanpa poles memoles produk kecantikan, dia segera menyusul big bos yang sudah duduk menunggu untuk makan malam.
"Kamu nggak mandi,ya" sindir Wiliam, dengan bibir sunggging sinis.
"Ada" menarik kursi.
"Awas kalau gak mandi, saya minta bodyguard sekalian lempar kamu ke got" ancam seloroh Wiliam, membalikkan piring tengkurap.
"Kan salah anda.Kenapa pakai acara kunci pintu segala" cibir halus Melani, membalikkan piring.
"Kamu bilang apa?" Wiliam menatap, terdengar selentingan dari mulut istri.
"Mmm.... Aku habis makan mau telepon Josh" dalih kaku Melani.
__ADS_1
"Oh" tidak percaya,tapi ya sudahlah.
Sebagai asisten pribadi sekaligus istri,Melani mengambilkan pasta pada piring suaminya itu, beserta hidangan lain sebagai pelengkap.
Kebiasaan yang sudah terlatih semenjak tinggal di negeri orang, sudah mereka terapkan. Guna mempermudah jika harus menghadiri jamuan. Sesekali mereka juga makan masakan khas negeri sendiri juga.
Saat makan masakan khas negeri sendiri, rasa rindu para ART asal Indonesia juga bisa terobati.
.
3 bulan kemudian.....
Melani sudah menguasai conversation bahasa Spanyol lumayan lancar. Terkadang dia berbicara dengan asisten pria mengunakan logat Spanyol, biar tidak kaku.
Namun sudah saatnya juga dia pulang ke negerinya, dalam beberapa hari kedepan.
"Seguiré practicando, para que cuando nos volvamos a encontrar podamos comunicarnos sin problemas." ucap Melani ( Aku akan terus berlatih, agar ketika kita bertemu lagi, kita bisa berkomunikasi dengan lancar.)
"Sí, esperaré tu regreso." jawab asisten pria ( Ya,saya akan menantikan anda kembali).
Dari kejauhan sepasang mata elang sedang mengintai mereka yang tampak akrab setiap pertemuan. Beda jika saat Melani dekat dirinya, pasti harus ada ancaman yang berujung tangisan mewek.
"Geo, kamu tetap awasi perkembangan. Jika ada masalah, segera hubungi" pesan Wiliam dengan wajah dingin tidak bersahabat (B.Inggris).
"Yes, Sir" sahut asisten pria.
Sudah terbiasa bagi asisten pria itu diperlukan dingin. Namun jauh dilubuk hati terdalam big bos,dapat ia rasakan ada setitik cahaya hangat.
Beberapa hari sebelum kepulangan mereka ke Indonesia, Wiliam masih sempat untuk hadiri undangan non resmi dari beberapa koleganya.
"Yeahh.... Akhirnya aku bisa istirahat" ujar bahagia Melani tidak ngekor ke acara semi formal.
"Nyonya kenapa?" tanya ART kribo, jarang lihat wanita muda bahagia.
"Nggak ada apa-apa Mbak. Cuma senang aja,bisa cepat istirahat" menepuk pelan pundak ART.
"Oh..." manggut-manggut.
Sehabis mengemasi beberapa pakaian ke dalam koper, Melani melempar tubuh capeknya ke atas tempat tidur.
"Papa...Mel akan segera pulang" merentang lebar kedua tangan di atas kasur empuk.
Tanpa disadari matanya sudah tertutup rapat memasuki dunia mimpi tiap malam.
Tik tok..Tik tok..
Jam tetap berputar meski yang tidur sudah berpergian ke alam mimpi nun jauh lewati batas planet.
Namun siapa sangka, malam itu terjadi pemadaman listrik akibat hujan lebat. Tidak seorang pun orang yang tertinggal tau kalau Melani takut kegelapan, sementara big bos sedang keluar party. Karena ketidak tahuan mereka,dan tidak mendengar jeritan Nyonya muda, mereka semakin asik terbawa ke alam mimpi, dengan balutan angin sejuk menyelimuti kegelapan.
"Huhu.... Papa... Mama...Mel, takut gelap" tangis Melani merangkul kedua lututnya, tidak menemukan ponsel berada. Di tambah percikan kilat menembus tirai gorden penutup jendela.
Saat ponsel berdering,baru sedikit lega ia bernafas. Tangannya langsung meraih ponsel yang ternyata ada bawah tempat tidur.
"Hikss...Hiksss... Tolong, aku" sesenggukan dia menjawab panggilan, tanpa lihat siapa penelepon, lalu matikan begitu saja panggilan.
__ADS_1
"Halo,Mel..." panggil seseorang. Niat ingin mengabarkan tidak akan pulang cepat,jadi khawatir.
Perasaannya begitu cemas, merasa tidak tenang orang itu pun segera meninggalkan party yang ada.
Dalam kecepatan sedang,jalanan licin dan dentuman petir, akhirnya ia sadar kalau istri memiliki phobia kegelapan.
Tapi mengapa tidak seorang pun yang menghidupkan ganset rumah. Atau memang terjadi hal buruk yang sedang menimpa orang-orang di rumah?. Banyak pertanyaan spekulasi bermunculan dalam pikiran Wiliam yang duduk dalam keadaan setengah mabuk.
Benar saja, saat mobil memasuki pagar, rumah dalam keadaan gelap gulita.
"Geo,kamu tanya mengapa mereka tidak hidupkan ganset?" titah Wiliam setengah mabuk puyeng (B.Inggris).
"Yes,Sir" mengambil payung, lalu keluar bertanya.
Jika harus menunggu asisten prianya, pasti orang di dalam akan semakin histeris. Lebih baik dengan sentengah mabuk,ia keluar meski di guyur hujan deras.
Kunci duplikat membuka pintu tanpa menunggu ART membukakan pintu.
Dengan tubuh basah terguyur hujan,ia melangkah sempoyongan mengetuk pintu kamar Melani.
"Mel..." panggilnya dengan suara berat.
Orang di dalam kamar segera berdiri untuk membuka pintu.
Grebb...
Rasa takut tanpa banyak pikir, Melani memeluk tubuh basah suaminya.
"Mel, tenang. Saya sudah pulang" ucap Wiliam membalas pelukan istrinya yang selalu berdebat.
"Aku takut" jawabnya gemetaran, menunjukkan kamar yang gelap gulita.
Kepala Wiliam mengintip ke dalam kamar yang memang gelap gulita tanpa penerangan listrik.
"Kita ke kamar saya ya,hum" ajak Wiliam, tidak ditolak istrinya.
Baru beberapa langkah lampu penerangan ganset sudah menyala. Melani pun lebih lega bernafas,dan baru sadar dia dalam rangkulan pria berbasah kuyup.
"Kamu mau balik ke kamar mu?" tanya Wiliam memijit pelipisnya.
Melani ngangguk cepat, tapi jika mati lampu lagi pasti akan gelap kembali.
"Anda temani saya?" tanya Melani.
"Baik" melepaskan pelukan.
Tanpa pikiran negatif dan neko-neko yang memang tidak pernah terjadi hampir 6 bulan dalam status, membuat Melani tidak perlu waspada pada suaminya itu. Kepercayaan yang telah diberlakukan dalam peraturan lisan tetap jadi pedoman bagi Wiliam.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.