Change Destiny

Change Destiny
84 Masakan rasa hancur


__ADS_3

Bab 84


.


Saat Melani menuju dapur untuk memasak, pria dingin mandi membersihkan tubuhnya.


"Dasar Om Om penzolim!. Lihat saja suatu saat nanti, setelah kuat cakar-cakarku untuk membalas semua ini,maka tidak akan ku beri ampun" omel mengeram Melani mengeluarkan sayur dan daging dalam lemari pendingin.


Sambil ngumpat ngomel,dia memotong sayuran dengan asal-asalan, begitu juga memotong ikan. Wujud kemarahan dilampiaskan pada sayur dan daging. Sayur dalam potongan panjang pendek itu lalu ditumis dengan kadar bumbu asal cemplung, tanpa diicip. Ikan juga dipanggang dalam oven tanpa dihilangkan bau amis terlebih dahulu, langsung dibalur bumbu.


Wiliam memberi waktu cukup untuk istrinya memasak beberapa menu sederhana. Sambil menunggu,dia memeriksa ponselnya.


Sudah empat puluh lima menit Melani memasak seperti dikejar anjing. Baju piyama bersih menjadi bau apek, akibat keringat yang bercucuran.


"Selesai" meletakkan hasil masakan di atas meja makan.


Wajah kucel capek itu memanggil pria dingin untuk makan malam.


"Sudah siap masakannya,Tuan" panggil Melani dengan nada jutek.


Wiliam membuka pintu kamar, tapi tidak tercium aroma masakan lezat. Untuk memastikan benaran sudah selesai masak atau belum, kakinya berjalan ke arah meja makan.


Dengan indera penciuman dan penglihatan, pria dingin curiga masakan itu sama sekali tidak bisa dimakannya.


Tumisan sayur yang seharusnya hijau segar, menjadi hijau kecoklatan. Begitu pula ikan panggang yang terlihat agak menggosong.


"Kamu yakin ini semua bisa dimakan" tunjuk ragu pria dingin.


Melani ngangguk disambung bergedik bahu.


"Apa sudah kamu coba. Atau jangan-jangan kamu taburi racun" pria dingin menuduh asal, karena suasana sama-sama marah.


"Apa untungnya bagiku racunin anda" jutek jawabnya.


Padahal kalau bisa menaburi sedikit racun dalam masakan akan lebih baik. Namun apa daya, racun tidak tersedia, pikiran juga tidak terlintas jauh sampai ke sana tadinya.


"Kalau begitu kamu coba!" hardik pria dingin.


"Tadi bilang tidak boleh makan, sekarang disuruh coba. Kalau takut mati bilang saja" oceh pelan Melani ambil sendok untuk cicip, tapi terdengar pria dingin.


Melani mencicipi rasa sayur tumisan yang buruk dipandang mata, cukup seujung sendok.


"Tuh... Tidak ada racun!" ketus Melani laporan.


"Rasanya pasti hancur kan?"


"Enggak juga. Ada manis asin lengkap enak" dalih yakin Melani, merasa masakan memang agak hancur kemanisan.


"Sekarang itu" tunjuk pria dingin pada sayuran lain dan daging.


Yang awal rasa masakan terlalu manis, hasil kedua terlalu asin ,yang ketiga hambar kebanyakan air, sedangkan ikan panggang terlalu pahit akibat over cook.


Tapi semua itu disangkal Melani, biar tidak menyusahkan dirinya.


"Semua sudah aku coba. Dan terbukti aman" ucap Melani memutar bola matanya.

__ADS_1


Pria dingin mengeser kursi untuk duduk, sementara Melani diwajibkan untuk berdiri menunggu.


Uwekk.....


Pria dingin melepeh keluar sayur yang dicoba. Pembohongan tidak dapat dimaafkan olehnya begitu saja.


"Kamu sudah berani coba berbohong,hum!" menarik kasar tangan Melani.


"Mana ada bohong" dalihnya tau kesalahan.


"Sekarang habiskan ini" hardik pria dingin.


Haaa..... Mulut Melani menganga ,masa harus makan semua masakannya sendiri dengan rasa hancur berantakan tidak karuan.


"Cepat!!" bentak pria dingin.


"Anda yakin kasih aku makan?" tanya Melani.


"Mmmm....." dehemnya.


Melani menarik kursi,lalu mengambil piring dan sendok.


Pria dingin duduk bersandar kursi, menunggu masakan hancur dihabiskan. Bibirnya menyungging,tiap kali mimik wajah istrinya makan dengan penuh tekanan.


"Aku sudah kenyang" ucap Melani tidak sanggup menghabiskan semua.


Tidak menjawab iya atau tidak, pria dingin beranjak berdiri meninggalkan istrinya untuk buat makanan sendiri.


"Masa aku harus habiskan!. Mendingan kalau enak!" keluh Melani dengan mata berkaca-kaca coba sambung habiskan.


Sepiring nasi goreng seafood hasil buatan pria dingin keluar dari dapur.


Rasanya ingin tertawa lihat kepolosan istrinya, yang masih sanggup habiskan masakan berantakan.


Tanpa berkomentar apa pun, pria dingin duduk dengan membawa sepiring makanan lebih enak.


Perut yang sudah kenyang tidak lagi tergoda sama bau harum itu, meski harus hadapi cara pria dingin menyindir hasil masakan secara tidak langsung.


Mereka makan dengan mimik muka masing-masing, sampai makanan mereka habis.


"Nanti cuci semua piring kotor.Jangan lupa bersihkan semua kekacauan yang kamu buat" ucap dingin Wiliam, mengeser kursi tinggalkan Melani yang kewalahan makan ikan panggang rasa pahit.


Melani ngangguk, dengan mimik muka prihatin.


Pria dingin seakan berhadapan dengan bocah sepuluh tahun yang lugu. Ingin tertawa,tapi juga masih marah.


Hukuman hari itu pun berakhir dengan tersiksanya Melani habiskan masakan sendiri.


.


Sudah tiga hari Melani kembali ke mansion itu, benjolan serta bekas sudah pudar.


"Besok kita kembali ke rumah besar" ucap Wiliam memeriksa laporan hasil penyuntingan.


"Baik" lesu jawabnya.

__ADS_1


Malam itu, Melani berkemas semua pakaian yang dibawa dari rumah secukupnya, bersama peralatan make up dan lainnya ke dalam koper.


Hari ini Melani termasuk patuh tidak membuat kesalahan kecil,dan itu tidak membuat pria dingin tidak terpancing marah.


Malam semakin larut dan mereka memasuki mimpi masing-masing.


Wiliam yang terkadang bangun tengah malam atau tersentak saat tidur, juga tidak mendengar suara istrinya mengigau atau ngorok.


Ditariknya selimut bedcover menutupi tubuh kecil istrinya yang tidur menghempas bedcover.


"Kalau tidak pakai selimut,yang ada masuk angin dan merepotkan saya harus urus kamu yang sakit lagi" omel pria dingin, menarik selimut sampai batas dagu.


.


Esok harinya, sehabis makan siang Melani dijemput supir untuk kembali ke rumah besar, sekalian menjemput anak big bos pulang sekaligus.


Alangkah bahagianya hati anak big bos setelah hampir seabad, eh maksudnya seminggu tidak diperbolehkan bertemu sama ibu baru meski hanya melalui telepon.


"Mami, I miss you" langsung menghempaskan tubuhnya pada tubuh ibu baru.


Hehe.... Melani tersenyum kaku tidak bisa membalas, karena dia sebenarnya ingin pergi jauh dari kehidupan Wiliam, bukan ingin nambah beban baru.


"Pak,ayo kita pulang" seru bahagia Josh memerintah supir.


"Baik,Tuan muda" supir tersenyum bahagia.


Tidak perlu banyak bicara, cukup mendekap sudah cukup bagi anak big bos happiness.


Bahkan begitu mobil sampai rumah besar, tanpa lepaskan genggaman tangan, si bocah terus nempel kayak perangko.


"Mami,nanti Josh tunjukkan game terbaru, terus tunggu Josh siap belajar,kita baru main,ya" ocehnya sambil jinjit pencet bel rumah.


Ingin jawab tidak bisa, karena takut dimarahin penguasa rumah juga tidak dapat dikeluarkan. Ingin ikuti permintaan anak big bos, rasanya galau gimana.


Hufff..... Beribet banget hidup ini, andai semudah membalikkan telapak tangan pasti sangat enak. Atau seperti menekan remote TV, memilih Chanel yang asyik.


Bukan hanya dapat sambutan dari anak big bos,dia juga dapat sambutan anggota keluarga lainnya.


"Grandma jangan peluk Mami terus, nanti Mami marah loh" ancam Josh yang cemburu terhempas nyingkir.


"Gak bakalan. Justru kamu harus segera ganti seragam sebelum Daddy kamu tanya,hum" ibu tua balas ancam, sambil cubit gemas pucuk hidung bocah.


Pasrah sajalah apa yang dikatakan mereka, hanya perlu bertahan selama 2 tahun jadi asisten pribadi penurut, sesuai perjanjian.


Kopernya dibawa naik ART ke lantai atas menuju kamar utama. Bukan bisa santai sejenak saat tiba, bunyi telepon berdering memberikan tugas baru setibanya.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2