
Bab 7 %
.
Hahaha.....
Semua kembali tertawa menyoraki Melani yang tersungkur akibat ulah kaki salah satu fans Shella. Wajah Melani tepat jatuh tertampung di atas sepatu kilap dosen tamu.
"Kurang ajar!!.Siapa yang berani lakukan ini padaku" Melani menahan puncak amarah.
Dia sudah mulai lelah melawan takdir jika tidak menguntungkan masa depan karirnya.
Tangan seseorang mengulur, ingin memberikan pertolongan. Tangan siapa lagi jika bukan pemilik sepatu.
Dag dig dug....
Jantung Melani semakin berdegub kencang tidak beraturan.
"Quickly" pria tampan bernada dingin, agar gadis yang mengotori sepatu segera bangkit.
Dengan wajah paksa senyum ramah, Melani tidak terima uluran tangan pria yang menakutkan itu. Ia lebih milih bangkit sendiri.
Melani sudah berani menolak bantuan seorang pengusaha sukses,hal itu buat pria tampan tersinggung dan malu.
"Siapa cewek ini!.Kenapa begini berani tolak terima bantuanku" geram pria tampan.
Pria tampan rasanya ingin membalas rasa malu, ia pun merencanakan agar gadis kecil itu menjadi asisten selama satu minggu full time 24 jam.
Tamat sudah riwayat Melani jika mesti jadi asisten pria tampan itu selama 24 jam. Karena tidak ada yang bisa beristirahat, bila tidak terima izin darinya.
.
Jam pergantian kelas di mulai lagi. Sebagai asisten dosen tamu,Melani tidak bisa pulang sebelum jam ngajar dosen berakhir.
Sambil belajar, Melani juga harus mencatat semua materi yang disampaikan.
Tidak masalah jika hanya itu saja. Tapi dosen tamu terus menyerang pertanyaan ke Melani, yang untungnya Melani menguasai perfect isi setiap topik pembicaraan.
"Ini dosen guest killer. Kalau tidak keahlian dimasa depan,aku sudah mati dibuat ini killer" gerutu Melani, menulis materi pembicaraan.
Satu hari terlewati...
Dua hari pun masih lewat...
.
...Kantor L...
__ADS_1
.
Hari ketiga, Melani semakin tidak kuat mesti harus ikut kekantor megah urus semua pekerjaan asisten yang sengaja di liburkan.
"Huaa.... " renggek Melani meratap malang nasib masa lalu yang berubah.
"Tuhan..., Tolong kembalikan masa laluku yang santai. Jangan pertemukan aku dengan killer man, plizz" Melani mengatupkan tangan, bersimpuh memohon pada sang pencipta yang maha bolak balik hati, dan berbelas kasih pada umatnya yang tulus memohon.
Cekrekk....
"Ngapain kamu gitu!!" Ronald binggung lihat Melani bersimpuh,langkah kaki tetap jalan ke sofa.
"Sorry Mister, saya hanya berdoa" Melani merapikan pakaian.
"Oh. Good." Ronald acungkan jempol.
"Kamu di panggil big brother. Katanya ikut meeting bareng kami sampe jam sepuluh malam, no bantah,Titik!" menyampaikan pesan dari pemilik perusahaan.
"Ok" lemas Melani tidak bisa bilang 'Tidak'
Ronald keluar setelah menyampaikan pesan. Selain itu, Ronald juga kasihan pada gadis muda yang jadi korban sang kakak akibat masalah sepele doank .
.
Pukul dua sore, Melani hanya dengan pakaian formal kampus ngikutin meeting bareng pengusaha sukses terkenal.
Terbukti dengan kepala mata sendiri menyaksikan sepak terjang seorang Lee Min Wi (Wiliam Lee) saat bernego langsung.
Lawan-lawan pesaing bisnis asal asia banyak pukul mundur, setelah dengar pengusaha berdarah dingin itu turun tangan langsung.
Melani tertegun antara takjub dan takut cara kerja seorang Wiliam Lee. Tidak ada kenal ampun dan pandang buluh pada lawan saing bisnis.
Harga yang ditetapkan sesuai dengan bahan dan cara kerja yang berkompenten, hingga tidak dapat membuat pesaing lain bisa ikuti alur kerjanya.
"Mesti hati-hati jika lain kali bersaing dengan ini orang. Bisa mati tidak berkutik sebelum berperang taktik" Melani bermonolog, saat pengusaha berdarah dingin menjabat tangan partner baru sebelum pergi ke tempat meeting lain.
Dalam mobil perjalan balik ke tempat lain.
Kryukkk....
Salah seorang dari perut mereka bernyanyi,yang pasti bukan perut supir yang bisa makan kapan saja.
Kryukkk....
"Kamu lapar?" ceplos Ronald.
Melani tersenyum kaku malu. Penyakit lama jika gugup plus takut, buat perutnya lebih cepat lapar.
__ADS_1
Ronald tersenyum tipis ,tawa lepas ditahan demi image seorang keluarga Lee.
Sang ketua hanya duduk berkerut dingin tanpa ada sepatah kata keluar dari mulut emasnya itu.
Setiba ditempat meeting kedua mereka, ketua memberi waktu lima menit agar Melani mengganjal perut dengan roti. Ia tidak ingin malu, hanya karena seorang asisten pengganti.
Melani bergegas mencari waffel atau roti gandum untuk mengganjal perut lebih lama. Tidak lupa ia juga membeli beberapa biskuit, di letakkan dalam tas sebagai stok cadangan saat lapar kembali menyerang.
Nyumm... Nyummm....
Biasa bisa makan santai,tenang dan tetap anggun,kali ini dalam keadaan darurat semua itu tidak ada lagi dalam pikiran Melani. Ia lebih takut jika mendapat hukuman dari ketua pengusaha berdarah dingin.
"Ini pertama dan terakhir kali aku makan rakus, hiks.. " sambil ngunyah buru-buru Melani meratap sedih nasibnya yang kembali dari masa depan.
"Sudah siap?" seseorang memberikan sebotol air mineral dari samping.
Uhukk.... Uhukk...
Di kagetkan begitu buat Melani keselek makanan hingga bercucur air mata hangat,membasahi pipinya mengembung kunyahan roti gandum.
Sungguh malang nasib Melani yang kembali ke masa lalunya sendiri. Tidak habis kejadian kecil mendatangi dirinya yang baru balik hampir dua bulan.
"Slow" Ronald berdiri memandang wajah Melani.
Gimana mau makan slow?, orang waktu yang dikasih hanya lima menit. Sudah kayak main telan mulut buaya saja,tanpa perlu mengunyah makanan yang masuk kerongkongan.
"Lama-lama seperti cewek bar-bar primitif kalau kelamaan punya atasan ini" keluh batin Melani, mengusah dada sambil neguk pelan-pelan air mineral.
"Lama banget makan mu" ketus pengusaha berdarah dingin, lihat jam tangan sebelah kiri sudah lima menit kasih waktu.
Ihhhh..... Rasanya ingin melapor ke Komnas HAM,atas tindakan semena-mena pada karyawan. Bagaimana pun juga karyawan juga manusia, punya hati punya rasa.
Muka Melani bertekuk cemberut, dalam batinnya ia menyumpahi seorang Wiliam Lee. "Ku sumpahin kau mister Lee!!!.Jika lain kali kita bersaing bisnis, maka semua tidak ada yang milih kau!!.Semua akan jatuh berpihak padaku"
Takk... Takk....
Suara cicak menyahut sumpahan batin Melani.Dalam gedung semewah begitu, mana mungkin ada suara cicak. Melani menengadah ke atas plafom, aura misteri semakin menakuti Melani yang langsung jalan menyusul kedua pria yang sudah agak jauh di depan.
Ia langsung menutup rapat mulut dengan tas, dan tidak berani merutuk sembarangan.
Meeting pun di mulai. Dalam ruang rapat Melani duduk di kursi belakang tepat di belakang Ronald, bersama sekretaris dan karyawan lawan bisnis perusahaan lain.
Keadaan yang masih kosong belum semua hadir sesuai jadwal yang telah di tetapkan, bahkan sudah terulur lima belas menit, buat pengusaha berdarah dingin itu duduk tenang tapi aura sekitar jadi membeku dibuatnya.
Padahal penguasa berdarah dingin hanya menarik naik lengan jas lihat jam tangan.
.
__ADS_1