Change Destiny

Change Destiny
Bab 37 No crazy


__ADS_3

Bab 37


.


Dalam beberapa hari, tim desainer bekerja siang malam menyelesaikan gaun pernikahan istri orang paling ngetop se-Asia.


Jadwal pernikahan yang semakin mepet,juga Melani acuhkan,tidak seperti pengantin wanita lain yang kerap sibuk dengan semua kebutuhan sebuah pesta pernikahan, walaupun itu hanya pesta biasa.


"Mel, besok kita ke butik lagi untuk ukur tubuhmu yang terakhir" ucap ibu suri, sengaja menunggu Melani pulang hampir jam sebelas malam, sampai mata tahan ngantuk.


Sekedar dehem atau angguk aja Melani tidak lakukan, karena bukan sebuah pernikahan yang dia inginkan, melainkan sebuah karir pesat .


"Mel, kamu dengarkan apa yang Mama katakan kan?. Pokoknya setuju atau tidak,besok kamu mesti ke butik" suara kesal ibu suri tertahan untuk melengking akibat hari sudah larut.


Bammm....


Lagi lagi Melani menutupi pintu kamar sebagai aksi protes tidak suka. Kemudian memilih berendam air hangat di bathtub.


"Tuhan...,mengapa hidupku jadi kacau dan semakin kacau tiap hari" sambil berendam air hangat mulut Melani komat kamit mengeluh pada sang pencipta alam semesta.


"Andai aku bisa dikasih pilihan lagi,mending tidak kembali" selalu ucapan keluhan yang sama setiap mengeluh.


Huff...


Melani semakin sering buang nafas kasar setiap waktu, terutama kondisi batin badmood.


Tanpa sadar Melani tertidur dalam bathtub, dan kondisi air terjaga hangat terus sepanjang malam.


Pagi hari..


Melani terbangun kaget dia lupa sudah berapa lama diri sendiri berendam dalam bathtub.


"Aku secepatnya pakai baju sebelum masuk angin" ambil handuk kimono dan keluar untuk pakai baju tidur.


Saat keluar dan lihat jam,wajah Melani semakin shock . Ternyata dirinya tidur semalaman dalam kamar mandi.


"Ya ampun....Aku butuh psikolog saat ini" oceh Melani bergegas pakai baju kerja rapi.


Siapa yang pernah tidur dalam kamar mandi jika normal? .Tentu tidak ada ,selain disekap atau orang depresi. Itu yang buat Melani perlu seorang psikolog mencoba merapikan masalah dalam hidupnya.


Sehabis berpakaian rapi,Melani ngendap-ngendap keluar dari rumah di antara Mama Papa yang sedang sarapan pagi.


Langkah kaki berlari kecil berhasil dia lakukan sampai menaiki taksi lewat.


"Pak,kita ke rumah sakit" ucap Melani pada supir taksi.


"Baik,Non" supir melaju arah rumah sakit permintaan Melani.


Dering ponsel Melani berbunyi sebuah pesan, jadwal, alarm,dan panggilan masuk beruntun.


"Aku ingin hidup tenang... Please left me go" batin Melani capek hadapi semua masalah.


Usia, pengalaman, kadang tidak mampu menghadapi masalah jika kita sendiri tidak ingin menyelesaikannya.

__ADS_1


Yang seharusnya Melani lakukan sekarang yaitu ,coba selesaikan masalah hidup satu persatu dengan sabar. Bukan hanya mampu hadapi masalah dalam perusahaan.


Taksi sampai depan pintu rumah sakit, Melani yang duduk melamun baru sadar ketika supir memanggil dirinya.


"Ini ongkosnya, Pak" membayar biaya tarif agro.


"Terima kasih,Non" menormalkan kembali mesin agro meteran.


Kaki Melani melangkah pelan menuju resepsionis,untuk bertanya dokter yang tepat atasi problem.


"Mel,kamu no crazy. It's only testimoni personality" gumam Melani menyeimbangkan pikiran kalut.


Lalu Melani ngangguk sendiri setelah siap menemui salah satu dokter tepat.


"Sus,saya ingin daftar untuk spesialis psikiater" ragu tapi coba berani.


"Baik. Nama Nyonya siapa?"ucap resepsionis mencatat data pasien.


"Melani Wijaya umur 23 tahun kurang 1 bulan" kasih data rinci.


"Baik. Harap anda tunggu,nomer antrian Nyonya ke tujuh" ucap pasien.


"Oh. Itu gak lama lagi ya?"


"Bukan Nyonya.Biasanya dokter akan lebih lama , apabila pasien butuh waktu lebih lama juga" jelas resepsionis.


"Berarti harus nunggu 3 jam lagi dong"


"Saya kira, anda harus nunggu 7 sampai 8 jam lagi"


Perawatan resepsionis menggeleng kepala, bagaimana lagi ia harus bilang agar pasien tersebut sabar , mungkin akan sampai sore baru gilirannya.


"Saya bisa minta nomor telepon untuk saya hubungi kembali, Sus?"


"Iya bisa. Ini nomornya" perawatan menulis nomor telpon rumah sakit.


"Terima kasih. Saya akan telepon jika waktu antrian sudah dekat" Melani memasukkan nomor dalam kontak ponsel.


Langkah Melani pun keluar dari pintu rumah sakit, tanpa tau saat ini dia ingin mengarah pergi kemana.


Setiap jejak kaki telah banyak kali melewati bangunan gedung dan rumah. Hingga dia tiba disebuah taman kecil.


"Ya sudahlah ,aku ngadem saja di sini" kaki Melani menuju bangku pondokan taman .


Sambil duduk, dia melamun .Saat sadar, taman kecil itu dipenuhi lansia dan bayi yang berjemur bareng baby sister mereka.


Makin banyak pertimbangan dan ilham didapat oleh pikiran Melani. Pikiran dan pintu hati yang tertutup rapat akan dunia sekitar pelan-pelan mulai di buka.


"Ternyata jika sudah tua kita butuh teman" ucap pelan Melani menahan dagu pakai tangan.


"Pagi-pagi kok melamun?" tanya kakek.


Melani tersadar dari lamunan,dan duduk tegak rapi.

__ADS_1


"Sedang cari ide saja kok" Melani merapikan tatanan rambut.


"Oh begitu. Kakek pikir lagi banyak pikiran" ujar kakek tua.


"Gak lah kek" sahut malu Melani nutupi kalut pikiran dan batin.


"Mau muda atau tua,semua pasti punya beban tersendiri. Ibarat benang kusut ,kita mesti pelan-pelan membuka untaian ikatan benang kusut itu sampai lurus. Jika tidak bisa di rapikan,maka ada ikatan yang harus di gunting lalu di sambung kembali jadi lurus" ceramah kakek.


Hufff.....


Menghela nafas satu-satunya cara Melani membuang 0,5 persen galaunya.


"Terima kasih untuk nasehatnya,Kek. Sekarang aku pamit kerja dulu ya,Kek" beranjak berdiri.


Kakek tersenyum melihat punggung Melani berjalan lesu bagai orang menyerah sebelum perang.


Beberapa menit kemudian, Melani sudah tiba di kantor untuk bekerja seperti biasa.


Timbunan kerja di meja kerjanya setidaknya dapat buat dirinya tidak banyak teringat bayangan masa depan dan sekarang.


Tok... Tok...


"Masuk" ucap Melani dengar suara ketukan pintu ruangannya.


"Nona. Ada tamu ingin bertemu anda" ucap sekretaris.


"Sudah buat janji?" fokus ngetik laptop.


"Belum. Tapi kata beliau,anda wajib bertemu dengannya" ucap sekretaris.


"Tidak bisa. Kamu lihat saya sedang sibuk kan" ujar Melani kesal.


"Sibuk apa,hum" seseorang masuk nyelonong dalam ruang CEO.


Mata Melani terbelalak ,dan ingin salahkan sekretarisnya yang tidak kunci pintu itu saat masuk.


"Tuan, anda seharusnya tunggu di ruang tamu" sekretaris menghadang tamu jalan lebih masuk.


"Cepat!. Saya juga banyak urusan lain,bukan kamu saja" tegas titah orang itu,tangan masuk saku celana.


Mata sekretaris memandang bosnya yang kaku tegang,dan tidak mau lihat tamu itu dalam ruangan.


"Nona" panggil sekretaris.


"Pergi, ya pergi. Gak perlu anda kemari" jawab jutek.


Sekretaris bingung lihat bosnya yang takut namun harus nurut sama perkataan si tamu.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2