Change Destiny

Change Destiny
Bab 52 Anak cabang perusahaan


__ADS_3

Bab 52


.


Dengan segelas air hangat baru , ART kurus mengetuk pintu kamar tamu memberikan Melani air minum itu.


"Terima kasih Mbak" ucapku menerima segelas air minum hangat itu.


"Sama-sama Nyonya" berdiri memperhatikan mimik wajahku.


"Mbak saya ingin istirahat dulu" aku rebahkan perlahan tubuh yang lelah.


"Baik, Nyonya. Jika ada yang penting anda bisa memanggil saya kembali" pamitnya keluar pintu kamar ku.


Ketika aku mulai tidur masuk dunia mimpi,aku tidak tau apa lagi yang sedang dilakukan Wiliam di luar kamar yang sekarang aku tempati.


.


Selang beberapa jam menuju makan malam , aku terbangun lebih rileks. Aku pun bersiap untuk makan malam.


Di meja makan Wiliam telah duduk menunggu diriku untuk makan malam bersamanya.


"Masih sesak?" tanya Wiliam datar.


"Sudah,Tuan" jawabku kaku,menarik kursi.


Tidak banyak yang kami bicarakan ketika makan, hingga usai makan dia mengajakku kembali berbincang di ruang tengah.


"Masalah yang tadi kita bicarakan ,saya ingin membuat kesepakatan baru" ucap Wiliam.


"Maksud anda?" jantungku mulai berdetak kencang.


"Saya akan membeli obligasi milik kamu"


"Mengapa dia berani membeli obligasi yang sudah turun semakin turun?" tanyaku dalam batin.


"Hei, hei... Kamu mendengarkan saya" melambaikan tangan.


"Iya, aku mendengarnya. Tapi ,mengapa anda ingin membeli obligasi tersebut?" menatap sejajar.


"Karena saya tidak ingin direpotkan dengan penyakit kamu" jawabnya simple.


"Tapi ,apa anda tahu obligasi itu seperti sebuah permainan judi. Kita tidak dapat memprediksi nya kapan akan menguntungkan" jelas Melani.


"Hal tersebut tidak perlu kamu katakan, yang penting kamu menjual obligasi tersebut pada saya" tegas jawabnya.


Entah apa yang sedang dipikirkan seorang William Lee, begitu nekat untuk membeli obligasi yang kian merosot drastis.


Ya sudah lah, dari pada aku juga pusing memikirkan obligasi tersebut ,aku pun bersedia untuk menjualnya pada pemilik baru.


"Berapa harga yang Tuan dapat beli?" Melani bernego harga.


"Kamu hitung sendiri. Jika menurut kamu layak dengan harga segitu,maka saya akan membelinya" tandas Wiliam.


Sejenak Melani berfikir berapa kerugian yang telah dialami, dan modal yang tertanam dalam obligasi tersebut.


Perhitungan secara garis besar, juga tidak mungkin membiarkan William jatuh bangkrut dalam jurang yang sama.

__ADS_1


"Baik, aku akan menjualnya dengan harga awal pembelian" menatap ragu wajah dingin Wiliam.


Tidak ada kata keluar dari mulut pria dingin itu, langkah kakinya meninggalkan diriku duduk di sofa ruang tengah .


Hufff....menghempas kasar nafas.


Mana ada orang bodoh yang mau membeli obligasi yang sudah terjun bebas ke jurang bawah kehancuran.


Aku pun berdiri berjalan meninggalkan ruang tengah tersebut menuju kamar tamu tempatku.


Sambil aku rebahkan tubuhku yang lelah, aku dapat merasakan sedikit berkurang beban di hati.


Wiliam adalah orang pertama yang mengetahui permasalahan ku. Entah bersedia atau tidak membantu benaran,tetapi setidaknya dia telah mengetahui seluk beluk penyebab depresi.


Dengan perut telah terisi makanan, aku pun duduk memikirkan kebodohan yang ku lakukan.


"Melani sungguh bodohnya dirimu. Kembali ke masa lalu bukannya menjadi lebih baik ,malah kamu menghancurkan tiap anak tangga menuju puncak keberhasilan. Sekarang lihatlah,akibat kebodohan dirimu ,kamu jadi minus nilai karir di masa mendatang" rutuk sesal Melani ,duduk memegang kedua lututnya.


.


Beberapa hari kemudian....


Josh yang sudah merindukan Melani mencoba menghubungi langsung, sebelum ia tidur.


"Halo,Mami" sapa Josh berpakaian piyama.


"Halo,Josh" balas sapa Melani.


"Mami sudah sehat?.Kapan balik Indonesia?"


"Berarti, besok Mami sudah bisa balik ke Indonesia dong" seru senang Josh.


"Itu harus tanya Daddy kamu" tidak bisa ambil keputusan sepihak.


"Yaaaa....." ucap Josh kecewa.


"Nanti aku tanya Daddy kamu" sahut Melani.


Secercah harapan kembali menyemangati Josh.


"Janji" menatap penuh pengharapan.


Melani mengangguk,lalu melambaikan tangan mengakhiri percakapan.


Semenjak Wiliam membeli obligasi,beban di hati Melani berangsur kurang. Perlahan kepercayaan diri dan semangat berkarir kembali terpupuk.


"Tidak ada salahnya jika aku minta izin pulang ke Indonesia. Aku juga mesti menata kembali karir aku yang sudah putus kacau balau" gumam Melani duduk membaca majalah bisnis.


Sore hari di benua Amerika, Wiliam yang baru pulang dari kantor mendapat sambutan ART yang buka pintu .


"Nyonya tidak keluar rumah kan?" tanya Wiliam menganti sepatu.


"Tidak Tuan.Seharian Nyonya baca majalah" lapor ART kribo, merapikan sepatu.


Baru beberapa langkah Wiliam menuju ruang tengah,tampak wajah serius Melani sedang menulis.


"Apa yang kamu tulis,hum" berdiri memperhatikan tumpukan majalah terbuka .

__ADS_1


"Selamat datang" sapa Melani mendongak sebentar lalu nunduk nulis lagi.


Sudahlah,kalau orang fokus bakal tidak akan dijawab. Dari pada gondok ,kaki Wiliam berjalan menaiki anak tangga lantai dua.


Sejam kemudian,dengan pakaian santai bersih, Wiliam turun dari lantai dua dengan bawa selembar kartu undangan.


Tangan Wiliam menyodorkan kartu undangan itu tepat di atas coretan Melani.


"Apa ini,Tuan?" Melani mendongak.


"Apa kamu tidak bisa baca" jawab dinginnya.


"Bukan itu. Maksudnya ini untuk apa?" memperjelas pertanyaan.


"Kamu wakilkan saya pergi ke pertemuan lelang amal itu besok lusa" Wiliam memperjelas.


"Tapi, aku tidak pernah ikuti sosialisasi beginian" sahut Melani membaca kartu undangan.


"Kamu cukup hadir wakilkan saya.Sisanya akan diatur orang kepercayaan saya"


Lihat wajah Wiliam dingin, Melani tidak berani banyak tanya hal itu .


"Mmm.... Bolehkah aku izin pulang secepatnya?" tanya kaku Melani.


"Kenapa?" bertatap.


"Josh,tadi pagi telepon.Dia tanya kapan aku bisa pulang.Lagian tugas kantor aku juga pasti sudah menumpuk" ucap Melani.


"Bulan depan" singkat jawab Wiliam, beranjak berdiri.


"Bulan depan itu sangat lama. Lagian aku tidak punya kegiatan kalau di sini. Asma dan depresi juga sudah berangsur baik" gerutu pelan Melani menahan dagu pakai kepalan tangan.


"Siapa bilang kamu tidak ada kegiatan. Sekarang perusahaan kamu jadi anak cabang perusahaan milik saya.Yang berarti bahwa saya adalah atasan kamu" sahut Wiliam mendengar gerutu halus itu.


He he he.... Melani tersenyum kecut sadari kenyataan,bahwa perusahaan tidak jadi bangkrut setelah diakusisi oleh Wiliam.


Mau bagaimana lagi, sebelum hancur lebur, menjaga lebih penting dari pada mengobati.


Tidak bisa jadi CEO di perusahaan sendiri, setidaknya masih jadi direktur utama.


"Nyonya, hidangan sudah selesai" lapor ART kribo.


"Ok, makasih Mbak" merapikan semua majalah keasal ,lalu duduk manis menunggu tuan rumah yang tepatnya sekaligus bos.


Seperti biasa, mereka makan tanpa suara tidak penting. Suasana kaku sedari Melani datang ke rumah tersebut.


Bahkan, sehabis makan jika tidak ada topik yang mau dibahas, mereka masuk dalam ruangan mereka masing-masing.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apapun.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2