
Bab 135
.
"Koko pasti sering ginian kan ke wanita lain" tanya Melani mengarah ke kehidupan Wiliam di luar dengan wanita seksi lain. Interogasinya dadakan dengan wajah sinis.
Wiliam yang memeluk tubuh polos Melani juga ingin tau tingkat intensitas kecemburuan istrinya,saat tau dirinya sering merasakan tubuh wanita luaran sana.
"Iya" sahutnya datar, ngintip reaksi wajah Melani yang suka bersembunyi di dada bidangnya sehabis berhubungan intim.
"Terus kok masih suka sama anu, aku" mulut manyun runcing, rasanya ingin gigit dada kekar.
"Beda saja" merapatkan pelukan.
"Beda ??. Dasar buaya darat!. Ternyata semua pria sama. Kecuali Papa dan kak Agung" omel Melani, jari tak berkuku panjang mencakar dada kekar.
"Kamu kurang puas, hmm?" goda Wiliam. Karena setiap Melani mencakar atau cengkeraman tubuhnya, berarti minta lebih diberi sensasi permainan.
"Auuu ahhh. Aku capek. Mau tidur" jutek jawabnya, balik memunggungi Wiliam.
"Kamu cemburu atau minta tambah?" goda Wiliam memijat gundukan bakpao lembut empuk.
"Jangan pegang!" Melani memukul tangan nakal yang memainkan toping bakpao kacang merah.
"Jangan suka ngambek, nanti cantiknya kurang" tangan nakal merayap ke rambut halus menutup goa pink.
"Koko!!" pekik Melani tak rela digombal sehabis dibuat cemburu.
"Apa?" tersenyum bahagia.
"Aku mau pulang saja" ujar Melani melepaskan pelukan modus.
"Jangan.Bisa sia-sia usaha Mama" menarik duduk tubuh polos bertutup selimut.
"Sana lapor. Aku enggak takut" melotot lebar mata sipitnya.
Akan susah dibujuk kalau tingkat rajuk Melani tinggi. Biar cepat reda, Wiliam rela bernego.
Kesempatan entah baik atau tidak. Melani pun memikirkan secara benar-benar apa permintaan yang akan dinego.
"Aku mau kembali kerja di kantor. Tidak mau terkurung dalam rumah terus. Dan satu lagi yang lebih penting" menatap serius wajah Wiliam yang belum memutuskan.
"Apa lagi?" wajah Wiliam serius mendengarkan,tidur miring menopang kepala pakai tangan.
"Aku enggak mau lagi layani Koko kayak gini lagi" sahut Melani.
"Yang ketiga,saya tolak" ucap Wiliam tidak terima dengan keinginan terakhir Melani.
Ya tentu ditolak Wiliam langsung. Siapa yang akan menemani senjata kramatnya bermain di atas tempat tidur. Selain itu, dia juga tidak terima wanita lain lihat tubuh polosnya selain Melani.
Walau dikelilingi banyak wanita lebih seksi dan liar, namun senjata kramat tidak merespon, tidak seperti saat lihat sedikit ujung tubuh Melani.
"Yang kedua akan saya kabulkan.Yang pertama,itu akan saya pertimbangkan" pura-pura merajuk.
"Kalau yang pertama tidak dikabulkan,maka kita pisah ranjang" ancam Melani, duduk menunggu hasil keputusan Wiliam.
"Kamu!!" kesal Wiliam dengan ancaman Melani.
__ADS_1
"I'm waiting for answer" tegas Melani menusuk dada kekar Wiliam pake jari telunjuk.
"Kalau saya kabulkan,maka tidak boleh ada persyaratan ketiga" balik nego.
Melani jadi terpojok keadaan. Persyaratan dan ancaman darinya jadi boomerang untuk sendiri.
"Kalau ku 'iya kan',dia yang enak. Kalau ku tolak, kapan lagi ada kesempatan" Melani galut sama pikiran dua oposisi.
"Bagaimana, Mel?" tanya Wiliam menyudutkan keputusan Melani.
"Aku pikir dulu" merebahkan tubuh, dan narik selimut yang ditarik Wiliam.
Malam panjang itu cukup buat kedua insan untuk memutuskan apa yang akan terjadi.
Ngokkk...Fiuhhh...
Suara dengkuran Melani keluar diantara malam panjang.
"Kamu sudah tidur. Semoga kamu ambil pilihan yang tepat" ucap Wiliam, membelai dan kecup wajah jutek gemas Melani.
.
Pagi hari ketika Wiliam hidupkan mode normal panggilan ponsel, dia dapat banyak pesan dan miscall dari telepon rumah keluarga Wijaya.
"Tau rasa dia" cibik Wiliam,membaca pesan berisi chat kebakaran jenggot ditinggal semalaman sama Melani.
Wiliam masih bisa tersenyum bahagia ngejek pengirim pesan.
Selagi Melani tidur nyenyak, dia mandi menyegarkan tubuh lengket.
"Biarpun saya tidak bisa buat kamu mencintai saya, tapi saya yakin dengan kehadiran dia,kamu perlahan akan mencintai saya juga" ucap pelan Wiliam,elus perut rata tertutup bed cover.
Hidung Melani mengendus aroma segar. Tangannya mengeranyang kearah aroma berada.
Tangan Melani berhasil menemukan pemilik aroma segar itu. Dijambaknya rambut Wiliam setengah basah.
Wiliam mencampak bed cover, agar terima kompensasi saat tersiksa.
Copp... Copp....
Wiliam menyusu rakus kacang merah. Mata Melani terbuka lebar, tidak kuasa terima signal sensasi lidah nakal Wiliam yang memainkan pucuk bakpao dalam mulut.
Tidak hanya menjambak, Melani juga menekan kepala Wiliam, juga cengkraman pundak dan sprei kusut dari kemarin.
"Kita olah raga sebentar" ucap Wiliam, mencampakkan handuk yang masih melilit di pinggang.
Pemanasan dirasa cukup, Wiliam pun menghujam masuk rudal keras ke goa pink.
Selalu senang hati Wiliam menari di atas tubuh Melani.
"Mel,coba kamu yang di atas" ucap Wiliam, memindahkan posisi tanpa lepas rudal dalam sarung.
"Ihh... Koko" risih Melani disumbat benda panjang keras.
"Nanti saya bantu" Wiliam cengengesan,megang paha mulus yang ada di atas rudal nyangkut.
.
__ADS_1
Melihat Melani mulai capek, Wiliam menyudahi permainan gaya baru itu.
"Yuk,saya mandikan" menggendong tubuh kecil Melani turun dari tempat tidur.
Melani mengalungkan tangannya di leher Wiliam. Kakinya juga ngalung di pinggang kayak anak koala di gendong induk.
Dengan posisi itu William juga suka, karena bisa mencium bibir candunya.
.
Wiliam check out dari hotel setelah sarapan pagi.
Karena di hari sabtu, Wiliam ingin membawa Melani ke rumah sakit pantau kesehatan kecebongnya dalam rahim.
"Kita ke rumah sakit dulu. Baru pulang ke rumah Papa" ucap Wiliam memasangkan sefbelt.
"Kan,aku tidak ada keluhan" jawab Melani, bakal malu kalau ketahuan dokter habis berhubungan intim.
"Tetap harus diperiksa, biar tau keadaan si bocil di dalam" memutar stir kemudi.
"Tau mau diperiksa, seharusnya jangan lakukan.Dia mah enak, gak bakal malu.Nah aku...." gerutunya pelan, lirik sinis tersangka utama perbuatan terlarang.
Wiliam pun bersiul riang meski dengar ocehan Melani.
.
...Rumah sakit...
.
Melani diperiksa oleh dokter wanita. Perut yang dioleskan gel khusus pada alat pemeriksaan itu menunjukkan hasil di layar monitor USG kecil.
Melani tidak berani menatap wajah dokter dan suster yang senyam-senyum padanya. Apa lagi masih ada jejak hubungan di sekujur tubuh.
"Calon bayi tumbuh sehat,detak jantung juga terdengar normal" ucap dokter menggerakkan alat periksa diperut, sambil menyampaikan apa yang ditunjukkan layar monitor kecil.
Suster memperbesar volume, agar pasangan ortu muda bisa jelas dengar suara detak jantung bayi mereka.
"Dok,itu suara jantung anak kami?" tanya Wiliam terharu bahagia.
"Iya Tuan.Tapi jangan terlalu sering diajak bermain juga.Masih tahap perkembangan janin butuh istirahat cukup" ucap saran dokter,mengprint keluar hasil foto USG.
"Bukannya lebih bagus" jawab Wiliam dengan pedenya tidak merasa bersalah.
Beda dengan Melani yang haru jadi termalukan.
"Saya bantu" ucap suster, membantu Melani turun dari ranjang pemeriksaan.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1