Change Destiny

Change Destiny
125 Mengetahui kehamilan sendiri


__ADS_3

Bab 125


.


Mungkin dikarenakan pengaruh perubahan hormonal. Makanya Melani bertingkah aneh, atau bisa disebut sebagai orang munafik.


Menunggu istrinya berpakaian lengkap keluar dari kamar mandi, Wiliam membrowsing pelajaran tentang tips muaskan istri yang sedang mengandung.


"Emm... Oke" gumamnya menyimak serius teori yang tertulis.


Setiap detail tips yang tertulis, dicatat dalam memori otak agar mudah dipraktekkan saat dapat kesempatan lagi.


"Tuan,aku mau izin ke kantor Papa, boleh ya? " izinnya kaku, lihat wajah suami mesum begitu serius baca pesan.


Wiliam segera keluar dari halaman pencarian di khususkan area 18++, begitu Melani bertanya.


"Tidak boleh" sahutnya dingin.


"Aku enggak bilang boleh atau tidak,tapi 'boleh ya?" kesal Melani untuk mengulang izin. Kaki pun di hentakan kayak anak kecil yang merengek.


"Begitu ya?" mengacuhkan, ingin tau istrinya meminta dengan nada manja atau lembut.


"Ihhhh.... Boleh ya!!" serunya, ngikutin Wiliam berjalan mengambil sesuatu di lemari buku.


"Boleh saja. Asal kamu panggil saya 'Sayang'" jawab dingin,pura-pura jual mahal.


"No!!" ketus Melani memunggungi, berlipat tangan dan wajah di tekuk cemberut.


Dengan mempertahankan prinsip ego masing-masing, mereka saling bertahan dalam kamar tanpa penganggu.


Jam menunjukkan pukul 12:35 menit. Waktunya sudah lewati jam makan siang detik pertama.


Ronald dan Josh yang pulang untuk makan siang hening itu, mendapat kabar akan kepulangan pemilik rumah beserta istri yang sedari tadi belum turun.


"Yeahh....Mami pulang.Josh mau panggil Mami" serunya, langsung berlari cepat menaiki anak tangga.


"Josh, jangan" Ronald telat menahan anak ayam pergi cari induknya.


Tokk.... Tokkk....


"Ma-mii..." panggilnya dengan suara keras agar kedengaran.


Dalam kamar, Melani pun gunakan kesempatan agar bisa keluar.


"Itu Josh manggil. Aku mau keluar" ucapnya berjalan menunggu pintu dibuka Wiliam.


"Baik" bangkit berjalan.


Wiliam sengaja memepetkan tubuhnya pada Melani.


"Mau apa anda?" kaku Melani di tindih dari belakang.


"Mana jari telunjukmu" ucapnya terkesan tegas, padahal sedang modus.


Melani mengulurkan jari telunjuknya. Lalu dibuatkan kode akses keluar masuk kamar mereka oleh Wiliam.


Satu tangan mengajari Melani mengakses kunci password kamar. Yang satu lagi ambil kesempatan untuk merangkul perut yang masih rata.


"Sekarang kamu bisa keluar masuk kamar kita sendiri" bisik Wiliam, meniup lembut daun telinga Melani.


Merinding bulu kuduk tengkuk Melani. Tapi rasanya kesem-sem.


Entah mengapa rasanya ada perasaan senang juga kesal bersamaan muncul dalam detik yang sama.


Cup...


Melani berbalik dan mencium dada kekar yang harum menggodanya.


"Kalau mau, cium di sini" Wiliam membungkuk dan menunjuk bibir sukarela.


Cup....


Melani pun mencium atas permintaan suami mesumnya.

__ADS_1


Bisa kebayang kan gimana reaksi Wiliam habis terkabulkan keinginannya?. Yang pasti dia happiness.


"Silahkan istri saya cantik" godanya membukakan pintu kamar mereka.


Wajah Melani tersipu-sipu dapat godaan maut suami mesumnya.


"Mami" sambut Josh begitu pintu kamar itu terbuka bercelah.


Josh memeluk langsung saat Melani keluar,dan menjauhkan tubuh Daddy dari mereka.


"Josh tau pasti Mami pulang karena rindu Josh kan?" pedenya bertanya.


"Josh kamu belum ganti baju!" ujar Wiliam teracuhkan. Sambutan pun tidak diterima olehnya.


"Mami tunggu Josh mandi di kamar aja ya. Nanti kita turun makan sama-sama" ajaknya membawa istri bapak tanpa izin.


"Oke" jawab Melani mengayunkan tangan yang digandeng anak tirinya.


Mata Wiliam memerah,dia diacuhkan dua orang bocah yang tampak sekongkol ingin meninggalkannya.


"Daddy tunggu di bawah sama uncle saja" ucap Josh ingin menutup pintu kamarnya.


Bammm..


"Anak ini sudah berani merebut istri saya, pakai acara perintah segala" Wiliam menggeram kesal.


Wiliam pun menuruni anak tangga dengan wajah kesal, menghampiri adiknya yang menunggu mereka.


"Ko, kapan pulang?" tanya ramah Ronald,juga waspada saat muka abang tidak bersahabat.


"Tadi pagi" jawab sinis,dan menarik kesal kursi.


"Sama Melani?" basa basi Ronald.


"Kamu harus sopan saat menyebutnya. Dia itu istri saya" tegas Wiliam memperingati.


"Maksud saya Nona Melani?" kaku Ronald.


"Aso" jawab Wiliam menekan cara panggilan yang sopan.


Sudah pasti pula,kalau Melani belum terlihat karena coba jaga jarak teraman dari amukan.


Tidak sabar menunggu dua bocah beda generasi turun, Wiliam pun beranjak berjalan untuk memanggil mereka.


Baru menaiki beberapa anak tangga, Wiliam bertemu dua bocah beda generasi dan baru sadar,kalau istrinya sedang memakai pakaiannya yang terlihat longgar.


"Josh kamu makan dulu sama uncle" titah Wiliam,tangan menahan Melani yang ingin nyusul.


"Terus Mami?" menatap melas,meraih tangan ibu cantik yang satu lagi.


Melani ikut menatap memelas pada suami mesum yang kembali normal jadi pria dingin.


"Apa?" ketus jutek Wiliam mengarah pada wajah memelas Melani.


"Boleh ya?" Melani memohon dengan suara lembut.


"No!. Atau kita pindah!" ancam Wiliam melihat berganti Melani dan Josh.


Bocah beda generasi menggeleng kepala. Mereka yang habis bisik tetangga sewaktu di tinggal berdua,tentu tidak rela dipisah paksa.


"Josh kamu makan duluan saja sama uncle,nanti Mami nyusul" bujuknya, mengedipkan mata agar persekongkolan mereka tidak ketahuan.


"Oke deh, Mi" jawab lesuh Josh, dan ngangguk ngerti.


Wiliam membawa Melani kembali masuk kamar utama mereka. Lalu dijelaskan alasan mengapa dirinya melarang Melani turun makan siang.


"Memang kamu mau memamerkan pakaian baju saya, yang sedang dipakai?. Mana kelihatan tali br* kamu" tanyanya, dan digeleng kepala Melani yang menyembunyikan tali yang terlihat.


Otak Wiliam kembali hank, dia mendekati tubuh Melani yang mulai gelisah berpakaian kedodoran.


"Kalau risih,sini saya buka. Lagi pula di sini hanya ada kita bertiga" ucap Wiliam sudah meraih ujung bawah kaos yang dipakai.


"Don't touch me!!" menepis tangan nakal Wiliam.

__ADS_1


"Okey. Tapi saya boleh sentuh ini" tangan Wiliam langsung menempel di perut rata berisi kecebongnya.


Melani mundur satu langkah, karena tau ujung-ujungnya akan berakhir di atas tempat tidur.


Kruukkk.....


Bunyi cacing sedang bersiap konser solo perdana.


Wiliam pun ambil ponsel,dan menanyakan pesanan yang mengapa belum datang.


"Saya ingin dalam 3 menit, pesanan sudah sampai!" tegas Wiliam kecewa dengan pelayanan orang diseberang.


Sambil menunggu, Wiliam memangku Melani yang sengaja di kurung dalam pelukan.


"Ini tanggal berapa?" celetuk Melani.


"Tanggal 8. Kenapa? Ada janji?"


"Tanggal 8... ??.Aku telat 4 hari" gumamnya merasa cemas.


"Telat apa dan mau apa?" Wiliam tampak bingung dan penasaran tidak paham.


"Bukan itu" berdiri dari pangkuan.


Melani galau dengan siklus bulan ini. Dari dulu dia tidak pernah telat datang bulan,yang ada malah cepat beberapa hari.


"Mungkin hormon. Kalau 3 hari lagi belum datang,aku baru cari dokter" gumam Melani, mondar mandir.


"Ngapain cari dokter?.Apa ada yang sakit?" memeluk tubuh Melani yang berlalu lalang kayak gosokkan baju.


"Aku belum haid" ujarnya dengan wajah khawatir.


"Oh.Nggak apa-apa" sahut Wiliam dengan wajah senyam-senyum tersembunyi rahasia.


"Nggak apa-apa gimana?. Sekarang banyak khasus penyakit yang menyerang organ kewanitaan.Jika aku tidak respect, dan hal yang buruk terjadi sudah terlambat" omel Melani.


Cupp....


Wiliam menyosor bibir tipis itu, menghentikan omelan istrinya yang penuh doa buruk.


"Saya tidak akan izinkan penyakit menyerang kamu dan anak kita" jawab Wiliam memegang wajah cantik cemas itu.


"Penyakitnya tidak serang Josh, tapi aku" wajah bersedih.


Ingin ketawa dan juga sulit bicara lebih jelas buat Wiliam, karena dia tidak mungkin memberi tekanan baru sebelum Melani menerima sedikit bagian tubuhnya.


"Lebih baik saya jujur. Dari pada bikin Melani negatif thinking" mengusap kening berkerut.


"Mel,kamu dalam keadaan sehat. Anak yang saya maksud adalah calon bayi kita dalam perut kamu" ucap hati-hati menyesuaikan kondisi Melani jangan sampai shock.


"Maksud anda aku, HAMIL!!" Melani tidak percaya, karena persetubuhan mereka baru dilakukan 3 kali, sudah membuahkan hasil.


Bukan itu juga akan ketidak percayaan terjadi. Melani tidak terima takdirnya berbeda lewati 360 derajat.


Sudah dapat dipastikan 1.000 persen, bahwa dia tidak akan jadi wanita karir yang sukses di masa mendatang.


"Mel, are you okey?" Wiliam menopang tubuh kecil yang ambruk setelah dengar berita baik untuknya, bukan berarti untuk orang lain.


"Anda pasti bohong" Melani menarik kerah baju Wiliam.


"Tidak. Dokter sudah memberitahukan hasil pemeriksaan kamu, dan positif dengan benda tadi" jawab lembut biar tidak panik.


"Enggak mungkin!. Aku ini wanita karir,sukses, single" oceh pelan Melani meremas perut masih rata.


Wiliam pun langsung menahan tangan Melani yang akan mengguncang kehidupan baru yang lemah dalam perut itu.


"Mel, kamu jangan sakiti anak dalam perut. Dia tidak berdosa" bujuk Wiliam mengelus lembut wajah depresi itu.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2