Change Destiny

Change Destiny
97 Saran berujung kemarahan


__ADS_3

Bab 97


.


Sekawanan kupu-kupu memasuki ruang meeting extra large. Masing-masing dari mereka memilih tempat paling nyaman untuk memandang Abang adik saat berwajah serius penuh pesona.


"Kamu duduk di sana" ketua tim kreatif mengatur karyawan pria yang rebut wilayah duduknya.


"Sama aja kan,Bu" jawab pria itu, paham maksud ucapan tersebut.


Dewi ketua tim kreatif melotot lebar pada pria itu yang masih nempel duduk.


"Pergi ya pergi" gerutu pria itu, mencari tempat duduk di belakang barisan cewek.


Aura besar memasuki ruang rapat, semua terdiam sebelum dapat perintah.


"Kita mulai meeting ini" ucap Ronald mengambil ahli pembukaan.


Satu persatu yang bersangkutan mulai mendiskusikan setiap file mereka. Sementara sekretaris yang masih bertugas mencatat semua intisari pembahasan, Melani sudah menemukan solusi permasalahan.


"Tuan, sebaiknya kita usungkan beberapa orang untuk tinjau langsung tempat itu" ucap pelan Melani menyatakan saran pada wakil CEO.


Dari beberapa meter tempat mereka berbisik halus, sepasang mata elang sedang mengintai.


"Apa yang sedang mereka bahas?. Mengapa tidak menganggap saya ada?" tangan CEO mengepal.


Usai penjabaran topik pembahasan, Ronald sebagai wakil CEO menyampaikan saran dari asisten pribadi yang telah dikonfirmasi terlebih dahulu.


"Seperti yang saya katakan tadi, sebagian dari mereka harus langsung turun lapangan. Selain meningkatkan kuantitas produksi, kita juga segera mengetahui kendala yang terjadi untuk secepat mungkin diselesaikan" ucap Ronald berwajah dingin serius, memandang one by one person yang ada.


Para karyawan saling menatap. Benar dengan yang disampaikan oleh wakil CEO. Namun, siapa yang bersedia terjun kelapangan langsung, dengan keadaan lapangan panas akibat mesin ukuran raksasa tidak berhenti beroperasi selama 20 jam lamanya.


"Bagaimana, jika Nona Melani lihat langsung keadaan lapangan. Kan biasanya asisten terdahulu yang sering melakukan inspeksi" saran ketua kreatif.


"Benar... Benar.. Setuju" para wanita setuju usul ketua tim kreatif, saling lempar pandangan.


"Saya bersedia temani Nona untuk tinjau lapangan" sambung pria dari bagian pemasaran.


Keadaan ruang meeting itu jadi riuh suara. Awalnya sang CEO ingin menyetujui saran dari adiknya,akan tetapi melibatkan istri .Usul itu pun sementara waktu akan ditangguhkan sampai menemukan orang yang tepat.


"Meeting selesai" ucap dingin Wiliam menutup pembahasan.


Dia beranjak berdiri dari kursi ketua pemimpin, keluar bersama dengan wakil CEO dan asisten pribadi menuju ruang CEO.


.

__ADS_1


...Ruang CEO...


.


"Usul siapa tadi,hum" tanya Wiliam dengan tampang muka kesal, duduk di kursi kekuasaan.


"A-aku" jawab gugup Melani menunduk dan angkat tangan.


"Tapi yang disarankan Nona Melani tadi telah saya pertimbangkan. Ada benarnya jika bagian kantor sesekali turun lapangan. Biasanya kita hanya mendapat laporan setelah masalah membesar" Ronald membela.


Brakk...


"Apa kalian tidak berfikir panjang,heng!!. Lihat karena usul kamu, sekarang kena batu sendiri" marah Wiliam memukul meja kerja, sambil nunjuk Melani yang menjerumuskan diri sendiri.


Mana ada asisten yang diberi posisi lebih tinggi dari asisten sebelumnya. Guna jabatan itu biar tidak ada yang berani memerintah seenaknya, sementang asisten baru mana cewek pula.


"Ron, kamu keluar dahulu. Ada yang ingin saya bicarakan sama dia" titah Wiliam berwajah serius dingin.


"Tapi, Ko.." cemas Ronald, takut mantan gadis impian tidak tahan dengan amukan sang abang saat lihat api pijar di kedua bola mata hitam pekat.


"Ron..." ucap singkat Wiliam dengan intonasi penekanan yang sudah wajib dipahami.


"Mel, jangan melawan ya" bisik nasehat Ronald sebelum keluar.


Aura kejam itu menghampiri dirinya yang berdiri tegang gemetaran.


"Kemari!!" bentak Wiliam menuju sofa di belakang istrinya berdiri.


"I-iya" berbalik dan jalan nunduk.


"Melani oh Melani, mengapa sial banget nasib kali ini. Ini jauh dari expetasi. Jauh dari masa depan kamu yang penuh gemilang dan award" lubuk hatinya berkeluh.


Lihat langkah istri seakan enggan lebih dekat padanya, CEO dingin langsung narik tangan istri.


Yang awal hanya ingin meminta duduk di depan dan membahas dengan kepala dingin itu , berujung pada tubuh kecil jatuh dalam pelukannya.


"Ma-maaf Tuan" gelagapan berlaku kurang ajar, segera berdiri tegak.


"Minta maaf untuk apa,hum?" kembali menarik dan membuat jatuh dalam pelukannya.


"Ini tidak sopan" mendorong agar bisa jauh.


"Hanya kita berdua, tidak perlu terlalu formal" menahan istri pergi dari pelukannya. Ujung bibir tersimpul suatu pikiran.


"Tidak boleh" mendorong sampai lolos, walau harus jatuh terduduk di bawah kaki suami.

__ADS_1


"Kamu ini. Tidak bisa kalau tidak buat saya tenang" memapah berdiri dengan wajah dingin.


"Sebaiknya anda jangan terlalu dekat dengan aku" tolak Melani berdiri menjauh.


"Emangnya, kita sedekat apa?. Bahkan kamu lebih dekat sama Ronald dan lainnya, dari pada saya" duduk mengangkat kaki menindih.


Sudah pasti sorotan mata cemburu dapat dirasakan tidak perlu dilihat langsung.


"Aku hanya bersikap profesional" jawab kaku Melani. Merasa sama pada karyawan lain, hanya sedikit perbedaan pada suaminya, itu pun karena selalu dibentak,kena marah, ditakuti. Andaikan semua itu tidak terjadi, mungkin hubungan keprofesionalan lebih enak dilihat publik.


"Terserah apa kata kamu, lah. Tapi mengapa kamu mengusungkan ide seperti tadi,hmm?. Sekarang kamu sendiri dijadikan sasaran mereka. Apa kamu mau meninjau lokasi yang bahkan ketua tiap divisi tidak mau lakukan?" ucap dingin dan sinis.


"Itu memang sudah sewajarnya ditinjau langsung tiap tim. Di masa mendatang, semua orang yang biasa kerja dalam ruangan nyaman, wajib untuk mengetahui inti permasalahan,guna mempermudah atasi masalah" jelas Melani meyakinkan metode sarannya.


"Hahaha.... Masa depan?. Masa itu adalah besok, jadi kamu seorang objektif yang bersedia turun lapangan" menertawakan penjelasan istri.


"Mengapa tidak. Bahkan seorang atasan juga perlu tau hal terkecil. Ibarat kita jika terus berjalan menghadap langit dan lupa menundukkan kepala lihat bawah, mungkin tidak bakal tau ada paku atau lubang di depan" jawab dengan perumpamaan.


"Oh.... Maksud kamu seperti waktu kita di hutan" tertawa geli.


Awal penjelasan serius berakhir memalukan dirinya sendiri.


Bibir Melani menciut cemberut kesal. Mengapa dia mengingatkan kebodohan diri sendiri pada orang yang sengaja mencari kesalahan untuk disindir.


Cup....Cup....


Dua ciuman mendarat singkat di pucuk kepala dan kening istri.


"Kamu yang sekarang adalah asisten pribadi saya,dan juga ibu sambung Josh. Jadi tolong jangan melibatkan dirimu untuk dibully bawahan. Apa jadinya jika status kamu terungkap publik, dalam kondisi tidak menguntungkan. Saya dan Josh juga yang akan malu" ucap lembut Wiliam memeluk tubuh kecil itu.


Sejak kapan pula seorang CEO dingin dapat berkata penuh perhatian. Seingat sepanjang sejarah masa depan Melani, sosok pria dingin ini selalu arogan jutek meski dikerumini kupu-kupu atau semut, yang tulus baik atau sekedar cari kesempatan.


"Mel,ini hanya sebuah fatamorgana. Tidak ada yang real. Awas jangan terlalu mudah percaya dengan ucapan dia. Ingat!. Dia pernah bilang kamu harus bisa menghipnotis pandangan orang sekitar kamu,agar nurut dan tunduk dengan tiap perkataan.Jadi, bisa saja ini merupakan salah satu kiat dia menghipnotis pemikiran kamu terhadap dirinya" sosok batin Melani menyimpulkan perlakuan Wiliam.


"Iya,benar. Dia pernah bilang begitu. Terima kasih sudah ingatin aku" jawab batin Melani.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2