Change Destiny

Change Destiny
163 Melamar Santi


__ADS_3

Bab 163


.


Gelapnya malam membuat temperatur suhu kian minus.Puncak untuk membuat api unggun pun dimulai.


Berhubung bukan dalam tema di hutan, tidak sulit untuk Melani membuat api unggun seorang diri.


Dengan pematik yang di bawa dari rumah, dirinya berhasil menghidupkan potongan kayu kering tersusun.


Kobaran api menyala besar, tiupan angin sepoi-sepoi pun membuat kobaran api seakan menari menghibur para penikmatnya.


Sebuah iringan lagu percintaan disenandungkan oleh Melani, menemani tarian hangat kobaran api.


Lagu yang dinyanyikan habis, dan digilir ke Josh untuk berpartisipasi.


Josh mulai bernyanyi sambil menggoyangkan tubuhnya meniru tokoh superhero.


Dan Melani juga ikut bergoyang dengan tokoh sailor moon 'Usagi' saat berubah wujud.


Dari jauh, seseorang mengusap kasar wajah akan tingkah Melani.


"Begini mereka jika tanpa saya" menepuk pelan jidat.


Untuk hentikan tingkah Melani, kakinya melangkah lebar dan cepat.


"Ehemmm"


Melani berhenti bergoyang, dan kembali duduk jadi penonton.


"Ubinya belum dibakar?" tanya dingin Wiliam, nunjuk bongkahan ubi utuh.


"Belum" jawabnya sambil tersenyum tegang.


"Mari" tangan mengulur minta kotak berisi ubi jalar.


Untuk ngawasin kelakuan Melani, Wiliam pun harus mengorbankan diri melakukan pekerjaan yang membosankan.


Dirinya memasukkan bongkahan ubi jalar dalam bara kayu bakar bagian bawah.


Plupp....Pluppp ....


Suara percikan ubi yang masuk dalam bara arang kayu pun mengusik tarian api.


"Nyanyi sudah,nari pun sudah, terus apa lagi,Mi?" tanya Josh jadi penghalang antara rival dan ibu cantik.


"Bercerita" sahut pelan Melani melirik ragu untuk bercerita.


"Cerita apa?" terusik ingin tau banyak soal anak pramuka.


"Cerita horor" celetuk orang di belakang punggungnya.


"Iya, Mi?" memastikan jawaban rival dan diangguk Melani. "Horee....." serunya bahagia.


Wiliam membuka awal cerita horor menegangkan, wajah tampan yang disinari cahaya api unggun sengaja dibuat seram,meniru wajah hantu penjaga hutan.


"Jadi, kalau kalian keluar tengah malam dan dengar suara-suara aneh.Itu berarti dia ada disekitar mereka" berhasil menakuti Melani dan Josh dengan wajah diseramkan.


Aaaaa......


Belum acara api unggun selesai, Melani dan Josh teriak ketakutan sambil berlari masuk ke dalam villa.


"Ckckck.... Baru saja dengar cerita takhayul sudah lari terbirit-birit" cibir Wiliam mengambil keluar ubi jalar bakar pakai tusukan besi.


Ubi bakar yang sudah masak di bawa masuk ke dalam villa, setelah besi tusukan menusuk semua ubi dalam bara.


"Baru cerita begitu kalian lari, belum lagi lihat penampakan asli makhluk astral" sindir pedas Wiliam, melepaskan ubi dari tusukan besi .


"Emang Daddy pernah lihat mereka" duduk di belakang sofa panjang.


"Josh jangan lanjutkan" tambah Melani menutup mulut Josh untuk tidak melanjutkan cerita lebih horor, darinya.


"Keluar dan makan ini" perintah tegas Wiliam.


Keduanya keluar dari tempat persembunyian, dan duduk saling berdempetan ketakutan.


"Makan saja. Jangan celingukan" hardik Wiliam.


Josh tidak berani dekati rival yang galak tiada bandingnya. Dirinya pun dempetan lengket ke ibu cantik.


"Cepat makan, lalu masuk kamar" usul Melani sulit kupas kulit ubi bakar yang lengket saat panas.


"Mmm" angguknya sambil niup ubi bakar panas.


"Tau tidak?. Kalau malam-malam, penunggu hutan yang cewek suka ganggu anak-anak" tanya Wiliam sengaja menambah rasa takut kedua bocah.


"Mami, nanti kunci pintu rapat" ujar gemetar Josh ketakutan.


"I-ya" sahut gemetar ketakutan.


"Dan yang cowok, suka dekati perempuan" menambah cerita horor.


Aaaaa....


Teriak histeris keduanya dibuat Wiliam.Ubi yang di pegang langsung terlontar jauh, hanya untuk berpelukan.


"Karena tidak ada yang ganggu Daddy,maka Daddy bisa tidur tenang" menyunggingkan senyum jahat.

__ADS_1


"Malam ini Daddy tidur sama kita saja" jawab Josh cari aman.


"No.Nanti kalian protes" pura-pura menolak ajakan Josh.


"Tidak" serentak jawab dan geleng-geleng kepala.


"Ok.Tapi Daddy tidur di tengah" mempergunakan kesempatan dalam kesedikitan.


Sejenak kedua bocah bertatap sebelum mengiyakan saran amat tidak menguntungkan, terutama untuk Melani.


"Ok" serentak menjawab setuju.


Saat ingin lanjutkan makan ubi bakar,baru mereka sadari bahwa ubi mereka telah terpental jauh.


"Ini untuk kamu" memberikan ubi baru pada Josh.


Dan saat Melani ingin ambil ubi bakar baru, dirinya disodorkan ubi bakar bekas gigitan Wiliam.


"Makan dan jangan protes" ucap ketus dingin Wiliam.


"Dia ambil yang baru.Lalu aku dikasih barang sisahan?.Ini telah menginjak hak asasi manusia" omel batin Melani menggeram kesal.


Walaupun kesal,Melani tetap habiskan ubi bakar bekas gigitan Wiliam. Lalu pergi gosok gigi dan berganti baju sebelum tidur.


Tempat tidur ukuran besar pun menyambut kedatangan keluarga kecil itu dalam belaian lembut dan dingin empuk.


"Josh ditengah saja,ko" ucap Melani, kasihan bagian tidur sekutu sangat kecil.


"No" menggoyangkan jari telunjuk.


"Josh kemari" panggilnya menepuk bagian tempat tidur lebih lebar.


"Mau ngapain?" mata melototi Josh melangkahi perutnya.


"Pindah" tunjuknya dengan senyum manis.


"Terus Mami kamu?"


"Aku tidur di bawah" mengambil bantal punyanya.


"No!" teriak Wiliam tidak terima.


"Kalau begitu Daddy saja" Josh mengusulkan orang yang tepat tidur di bawah tempat tidur.


Melani cengengesan karena setuju dengan saran sekutu menguntungkan baginya.


"No. Semua tidur pada tempatnya" menarik tangan Melani.


"Kasian Josh,ko" memelas.


"Kamu tidur di tengah, tapi hadap saya" mengatur posisi 2 bocah agar tidur tidak berhimpitan.


"Kalau masih banyak bertingkah, kalian saya tinggal.Biar saja penunggu rumah dan lainnya mengganggu kalian" ancamnya sambil narik selimut tutupi tubuh mereka.


Mulut Melani dan Josh tertutup rapat, mengikuti ancaman penguasa.


Mata Melani tertutup,tapi bola matanya berlari menghindari aura mata penguasa yang berusaha mengganggu.


Zzzz...


Suara dengkuran Josh membuat Wiliam tersenyum,tapi Melani makin ketakutan.


Perlahan, tangan Wiliam menyapu lembut wajah cantik terusik sehelai rambut.


Cup...


Dilayangkan pula kecupan di kening Melani.


"Sudah tau aku kedatangan tamu, masih saja terus ganggu.Bisa kebanjiran pembalutku jika dia mulai bertingkah" keluh Melani merasakan aliran darah lebih cepat dan hangat.


"Kamu belum tidur kan?" tanyanya, membelai bibir tipis bergetar. "Kita ngobrol di luar yuk" mengusap lekukan tubuh tidur miring.


Tidak mungkin menjawab dalam kepura-puraan tidur. Yang bisa buat Wiliam makin menggila padanya.


"Kalau kamu tidak ingin keluar, kita lakukan disini" mengancam sambil melepaskan pengait pakaian dalam.


Sontak mata Melani melotot lebar, memunggungi Wiliam untuk mengaitkan kait yang terlepas.


"Kita keluar" ajaknya dengan aura pemaksaan.


"Mmm" tidak bisa melawan.


Mereka keluar perlahan dari kamar tersebut.Sesampai di luar kamar, tubuh Melani didorong melengket ke tembok kamar.


Bibir yang sedari tadi telah mengusik, langsung disergap Wiliam. Jejeran gigi yang berbaris kurang rapi, diabsen oleh lidah Wiliam.


"Saya mau ini" meremash gundukan bakpao hangat terbungkus.


"Jangan ko.Aku lagi menstruasi" tidak punya tenaga lebih untuk dorong tubuh kekar suami mesum.


"Tidak apa" acuhnya, membuka satu persatu kancing piyama.


"Nanti bocor" berusaha ngancing balik.


"Bocor?" berhenti, bingung.


"Iya,ko.Kalau Koko lakukan saat Mel sedang PMS, darah yang keluar akan lebih banyak penuhi pembalut yang baru penuh besok subuh" menjelaskan apa yang harus diketahui suaminya.

__ADS_1


"Kalau sudah penuh ganti lagi" mulai tidak peduli lagi, mengunci tangan Melani di atas kepala.


"Darah segar bersih Mel juga ikut mengalir, terus kalau Mel jadi anemia karena ulah Koko kan nggak lucu" mempercepat penjelasan.


Wiliam melepaskan kuncian tangan,dan terdiam.


"Sekarang sudah penuh belum?" tanya Wiliam khawatir pada kondisi Melani.


"Kayaknya belum" bergedik bahu.


Wiliam langsung bawa Melani ke kamar mandi untuk periksa pembalut. Tidak segan pula dirinya melihat darah kotor bau amis, yang ditunjukkan terpaksa oleh Melani.


"Ini kategori penuh apa belum?" tanya penasaran Wiliam.


"Hampir bocor" jawabnya malu, tidak berani mengangkat kepala.


Wiliam mengambilkan pembalut bersih untuk ditukar.


Plupp....


Sebongkah gumpalan darah kental jatuh menetes, saat Melani niat menukar ****** ********.


"Mel,itu darah apa?" tanya kaget Wiliam.


"Darah kotor" cepat menukar sebelum banyak pertanyaan.


"Darah kotor yang bisa buat anemia?" ingin banyak tau.


"Bukan" menggeleng, memasang pembalut baru.


Begitu pria kalau penasaran akut pingin tau, karena tidak mengalaminya.


Setelah membersihkan gumpalan darah.Melani menjelaskan lebih terperinci.


"Itu darah kotor dari hasil sel telur yang tidak terbuahi.Nah, kalau berhasil dibuahi..." lanjutan langsung dihentikan William yang sudah paham.


Wiliam keluar kamar mandi dengan wajah murung. Dan tidak banyak bertanya hal yang sudah dia tau.


.


Di tempat lain dengan waktu berbeda juga, Ronald mulai menetapkan perasaan pada wanita dalam perjodohan.


Dan hal itu disambut Santi dengan bahagia, karena status lajang jomblo akan segera dihempaskan.


"Baiklah, akhir tahun ini saya akan menemui orang tua kamu" ucap Ronald pada orang diseberang.


"Ok,ok.Aku akan bilang" jawab Santi dengan hati bahagia.


"Kalau begitu,kamu lanjut tidur saja" Ronald ingin menyudahi percakapan beda waktu signifikan.


"Baik sayang,emuachh" jawab Santi melayangkan ciuman jarak jauh.


Tut.. Tut....


Santi meletakkan ponsel disampingnya. Ingin memejamkan mata, tapi mata begitu segar setelah dengar lamaran awalan Ronald.


Dirinya tertawa bahagia, tubuhnya berguling ke kiri dan kanan.


"Akhirnya aku tidak jomblo lagi.Dan sebentar lagi,aku jadi pengantin paling bahagia" tengkurap, menahan dagu wajah cekikikan.


Bukan hanya itu, dia bercermin dan meniru pose orang yang sedang dilamar resmi.


Tangan satunya mengulur untuk menerima cincin,dan satunya lagi mengelus wajah sendiri yang tersipu malu bahagia.


"Yes,I do" menjawab halusinasi lamaran.


Efek bahagia juga buat akal sehat Santi hilang entah kemana.Dirinya memikirkan jadi istri yang baik mengurus segala kebutuhan suami tercinta.


"Sayangk, izinkan aku yang melayani-mu" ucap Santi bantu Ronald melepaskan baju,lalu bantu gosok punggung dengan spon.


Cup....


Sebuah kecupan pemberian Ronald buat Santi ingin ikut mandi bersama.


"Kita mandi bareng aja" melepaskan pakaian tanpa malu, dan diangguk Ronald sambil tebar pesona.


Kini Santi tidak berhelai benang.Dia pun mulai pencet botol sabun cair tepat di dadanya.Lalu menggosok dada Ronald pakai dadanya ber-gel sabun cair.


"Kita main disini yuk" Ronald menggoda, mengajak bersenggama.


"Ayuk" mengalungkan tangannya di leher Ronald.


Emmm....Arrhhh.....


Santi mengerang beberapa kali, merasakan sensasi permainan Ronald di daerah miliknya.


Tiap hentakan kecil,bikin Santi merem melek sambil menggigit bibir bawahnya.


Setelah sama-sama puas, mereka menyudahi dengan membersihkan tubuh mereka.


.


......................


.


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2