
Bab 116
.
"Panas" ucap pelan bersuara serak-serak basah keluar dari bibir kecil itu.
"Lebih cepat lagi laju mobil" titah Wiliam pada supir.
Dalam waktu 3 menit mereka sudah sampai di rumah sewaan Melani yang gelap gulita.
"Kamu bisa pulang. Tinggalkan saja mobil di sini" ucap Wiliam, sambil cari kunci rumah dalam tas tangan istrinya.
"Baik Tuan" supir keluar dari mobil.
Wiliam pun keluar untuk membuka pintu rumah itu, lalu menghidupkan semua lampu dalam rumah minimalis.
"Kita akan menghabiskan malam ini di sini" keluar lagi untuk bawa istri masuk.
Wiliam menggendong masuk Melani ala bridal style yang lagi pusing.
Langkah Wiliam dipercepat masuk rumah,lalu mengunci pintu rumah itu.
Melani yang tidak tahan lagi dengan kegerahan memasuki ruang tidak ber-AC itu, melepaskan sendiri dress yang sedang digunakan.
Glekk...
Seseorang yang berbalik pun langsung menyambut tubuh putih mulus yang masih memakai dalaman.
"Kamu sudah gak sabar,hum" ucap Wiliam menarik tubuh itu dalam dekapannya.
"Lepas!. Dasar pria brengsekk!" memukul tubuh kekar yang memeluk erat dirinya.
"Tubuh kamu lengket, sebaiknya saya mandikan kamu dulu" membopong tubuh kecil sambil cari kamar mandi dalam rumah minimalis.
Terlihat olehnya kamar mandi ukuran kecil di samping kamar lain.
Pemandangan yang selalu membuat Wiliam gagal mencicipi lebih lama dan dalam,kini sudah mulai menggoda dirinya.
Agar cepat bisa melakukan hal yang di inginkan, William segera membersihkan tubuh mereka dengan sabun.
Hanya ada satu kasur single size saat Wiliam membuka kamar tidur samping kamar mandi.
"Tidak apa,kita coba saja di sini" merebahkan tubuh polos di atas tempat tidur,lalu hidupkan AC sebelum memulai permainan.
"Panas" tubuh Melani mengeliat.
Sontak orang yang bersama dengannya ikut mulai kegerahan.Apalagi suhu dalam ruangan belum dingin.
Cup....
Wiliam memulai dari sebuah permainan pada mulut mereka, dengan satu tangan menopang tengkuk Melani, dan satunya lagi ngulen bakpao putih empuk yang berasa hangat kuku.
Hanya sebentar Wiliam mengabsen rongga mulut istrinya yang sudah ngos-ngosan, dan tubuh kian mengeliat.
Wiliam mulai menjalar meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di leher,lalu menikmati 2 toping sajian pembuka yang kenyal.
"Detik ini juga,kamu akan jadi wanita saya" bisik Wiliam yang menggoyangkan tubuhnya.
Tubuh Melani juga merespon apa yang dilakukan Wiliam pada tubuhnya.
"Ummm.... Arrrgggggg.... Sakit" Melani mengerang kesakitan, menarik sprei kasurnya.
Getaran lembut yang menyambut masuk pucuk pisangnya, semakin buat Wiliam gencar ingin merasakan sensasi lain ketika masuk lebih dalam.
"Sakit!" jerit Melani dengan suara serak menggoda.
Wiliam pun menerobos paksa dengan 2 kali hentakan kasar.
William menyeringai setelah berhasil membobol pertahanan ketat yang begitu kecil.
Hasil yang didapat ternyata jauh di luar dugaan. Sensasi pijatan dan cengkraman dari dalam yang basah, semakin buat hasratnya meningkat 3 sampai 5 kali lipat.
Arrrhhhh.....
Sesekali Wiliam tersenyum memandang tubuh yang ia tindih dan sedang bermain dengannya.
"Argghhh..." Melani dan Wiliam mengerang bersama saat berada dipuncak permainan mereka.
"Sekarang kamu sudah seutuhnya jadi milik saya" membelai lembut wajah cantik, dan mengecup bibir tipis.
Malam itu Wiliam tidak hanya sekali atau dua tiga kali menyemburkan cairan kental di dalam . Dia melakukan sampai tubuh mereka berdua sama-sama terkulai puas.
"Kamu ini kuncing liar" menyeringai lihat cakaran jari Melani membekas di sekujur tubuh dan lengan.
__ADS_1
Wajah Wiliam terlihat semakin fress tanpa tidur semalaman sehabis bergadang untuk bermain.
"Sudah pagi, saya mesti ke kantor. Kita lanjutkan nanti malam saja" bisiknya .
Kemudian menarik selimut ternoda darah dan cairan yang dijadikan alas seprei, untuk nutupin tubuh polos Melani.
Semakin semeringah Wiliam sadari istrinya benar-benar baru lepas segel untuk pertama kalinya,lalu mengecup wajah cantik yang tertidur pulas lelah.
Wiliam keluar untuk membersihkan tubuh sehabis bermain sepanjang malam, walau hanya dengan satu gaya.
Kemudian dia masuk ke kamar untuk mengambil pakaian.
Terlihat tubuh kecil istrinya mengeliat di balik selimut.
"Kamu sudah bangun?. Cepat mandi, baru lanjut tidur" ucap dingin Wiliam mengenakan celana boxer.
"Jahat!!" teriak marah Melani.
Area sekitar paha terasa perih, dan sakit sekujur tubuh.
"Kamu bilang saya 'Jahat'. Apa kamu ingin melakukan dengan pria lain,hum?" menghampiri.
"Keluar..." marah Melani menutupi tubuhnya yang tidak lagi bersegel.
"Baik" mengenakan dasi.
Terdengar suara sayup-sayup tangisan di balik selimut, sebelum Wiliam meninggalkan istrinya yang belum terima kenyataan yang telah terjadi diantara mereka berdua sepanjang malam berasa singkat.
Wiliam pun keluar kamar,lalu menelepon seseorang untuk membawakan mereka sarapan ke rumah sewaan itu.
Tak lupa ia minta orang lain untuk mengantar satu set pakaian lengkap dengan ukuran milik istrinya.
Usai sarapan dan semua yang di pesan datang, Wiliam pun keluar untuk pergi bekerja. Ia juga menempatkan bodyguard untuk menjaga wanita istimewa, selama wanitanya ingin berada di dalam rumah.
.
Rumah sewa itu jadi terasa sunyi senyap kembali.
Melani kesulitan untuk bangkit sendiri dari tempat tidurnya. Entah apa saja yang telah terjadi, hingga serasa semua tulang rontok dari persendian. Tapi yang pasti,harta paling berharga miliknya sudah diambil paksa oleh pengusaha berdarah dingin yang bernota bene adalah suami sah.
"Hikss... Hiksss.... Apa gunanya lagi aku bertahan hidup. Semua yang ku miliki dan ku jaga sudah raib" sesenggukan meratapi nasibnya.
Di bawah pancuran shower, ia merutuk nasib. Sesekali merasakan perih dan serasa ada benda mengganjal di miliknya.
Arrrgggggg....
.
Di gedung mewah, Wiliam tampak lebih tenang setelah berbulan-bulan berwajah mengerikan.
Sambutan dari para staf dan juga sang adik di respect dengan normal.
"Ko, hari ini Koko ulang tahun. Koko mau rayakan dimana?" tanya Ronald,ikut masuk ke ruang CEO.
"Tanggal berapa hari ini?" balas tanya.
Seperti biasanya tiap tahun, Wiliam mengacuhkan tanggal yang tidak ada arti dalam hidupnya itu. Tapi kali ini,ia ingin menjadikan hari itu sebagai hari teristimewa sepanjang usianya.
"Tanggal 28 Agustus" jawab Ronald.
"Oh. Saya ada urusan lain. Saya juga akan pulang lebih cepat" jawab dingin.
"Baiklah. Saya akan kasih tau Josh, Koko akan pulang menemuinya" tampak biasa pada jawaban sang abang.
"Hari ini,jika ada wanita yang mencari saya, kamu usir saja. Saya butuh ketenangan" ucapnya sampaikan tugas, sambil ngibaskan tangan.
"Baik" Ronald beranjak berdiri dan keluar dari ruang CEO.
Wiliam terduduk bersandar sendiri di kursi kebesaran. Pikirannya yang masih terniang akan kejadian mulai kemarin malam sampai tadi pagi, masih menempel jelas.
Memang tidak ada yang dapat ia kritik pada tubuh istrinya itu. Semua terlampau sempurna untuk dinikmati.
"Karena kamu sudah kasih saya kado spesial. Maka saya juga akan memberi kamu kado juga" mengeluarkan ponsel menelepon penjualan emas berlian.
Soal mengeluarkan sejumlah uang,asal dapat menenangkan kemelut dalam pikiran, tidak jadi masalah. Apalagi yang telah diberikan Melani adalah harta paling berharga. Semahal apapun akan dibeli.
Satu set perhiasan lengkap dari giwang sampai kalung kaki, yang bermata berlian dilapisi emas putih, senilai 999 jutaan rupiah langsung dibayar cash.
"Tolong kamu bungkus rapi. Dan segera kirim kemari" titah Wiliam pada pemilik toko perhiasan.
"Siap Tuan" pemilik toko pun memerintah karyawannya untuk mengirimkan pesanan Wiliam begitu telah dikemas dengan rapi ,yang diberi hiasan ikat pita keemasan.
Kotak berukuran persegi, berwarna merah, berhias ikatan pita keemasan itu pun di masukkan dalam tas khusus menuju tempat tujuan.
__ADS_1
Pemilik toko kali ini mendapat hoki lumayan,begitu satu set perhiasan mahal laku terjual. Tidak seperti biasanya, perhiasan hanya akan terjual secara satuan.
"Pasti wanita istimewa yang dikasih kado mahal dan istimewa" gumam pemilik toko perhiasan.
Setiba di gedung mewah, karyawan toko perhiasan langsung menemui Wiliam. Tanpa banyak perantara dalam serah terima barang yang telah lunas beserta lampiran surat jual beli legal itu.
"Tuan, silahkan periksa keadaan perhiasan" membuka kotak persegi, dan menyerahkan kaca pembesar untuk memastikan semua masih baru.
Wiliam memeriksa dengan teliti barang pesanan tersebut.
Untuk apa yang telah ia dapat kemarin malam,maka ia juga akan memeriksa dengan jeli perhiasan yang dibeli.
"Baik. Saya juga mau pesan satu set lagi,tapi desainnya akan saya kirim ke kalian beberapa hari lagi" ucap Wiliam meletakkan kaca pembesar.
"Dengan senang hati Tuan. Kami akan menunggu pesanan anda" menutup kotak dan merapikan ikatan pita keemasan.
Karyawan toko perhiasan pun keluar membawa tas perhiasan khusus, dan meninggalkan paper bag yang berisi kotak kado mahal.
.
Ronald yang berpas-pasan dengan karyawan tadi, menebak jika abangnya telah membeli perhiasan untuk seorang wanita. Tapi tidak tau siapa wanita yang akan mendapat perhiasan tersebut.
"Semoga saja Melani tidak akan cemburu" gumam Ronald.
Ronald baru menyadari untuk tidak menggubris banyak wanita luar sana, setelah tau rasa kecewa cinta bertepuk sebelah tangan.
Ia juga ingin berkomitmen hanya dengan satu wanita yang bisa menggantikan sang mantan,isi kekosongan hati.
.
Jam sudah pukul 3 sore. Wiliam yang tadi berencana untuk pulang lebih awal,pun menyerahkan sisa pekerjaan pada adiknya.
"Kamu lanjutkan" ucap dingin Wiliam yang menutupi paper bag dengan jasnya.
"Baik"
Wiliam pun melangkah kaki keluar dari gedung mewah.
"Kita ke rumah semalam" ucap Wiliam pada supir.
"Baik Tuan" jawab supir memutar stir dan menginjak pedal gas.
Keadaan wajah Wiliam yang terlalu tenang juga tidak mengenakkan hati supir. Karena sehabis tenang, biasanya akan terjadi badai besar.
"Semoga hari ini Tuan tidak ngamuk-ngamuk" doa sang supir,sambil mata melirik lihat Wiliam dari kaca depan mobil.
Mobil sampai di rumah minimalis. Bodyguard yang berjaga juga masih berdiri waspada menjaga keadaan.
"Apa Nyonya ada keluar?" tanya Wiliam.
"Tidak Tuan. Sedari tadi Nyonya tidak keluar, maupun ada yang datang" jawab bodyguard.
"Baik. Sekarang kalian bisa gantian" ucap Wiliam membuka kunci handle pintu.
Jika tidak keluar, mungkin itu karena kecapekan. Tapi jika tidak ada yang datang, berarti istrinya tidak makan siang.
Langkahnya melihat meja ruang tengah yang masih utuh bungkusan kotak sarapan.
"Dasar bodoh!. Sudah capek masa tidak lapar" meletakkan bungkusan paper bag di sofa kecil.
Cekrekkk ....
Wiliam masuk kamar, dilihat tubuh Melani tidur miring meringkuk kayak udang rebus.
"Kamu kenapa?. Sakit?" tanya Wiliam mendekat.
"Keluar...!! Aku tidak mau lihat anda!" bentak marah Melani.
Wiliam paham maksud Melani. Tapi jika bukan karena kesalahannya sendiri, tidak mungkin dia mengambil paksa hak milik tersebut.
"Ini salah kamu sendiri. Seharusnya kamu harus berterima kasih, karena saya telah menolong. Bukan kamu usir"
"Iya..Ini salahku, karena dapat nasib sial. Sekarang juga anda keluar" rutuk sesal, sambil ngusir orang yang masuk.
"Kamu" Wiliam menggeram marah.
Awalnya dia ingin bersikap lembut pada wanitanya, namun sebagai orang punya harga diri,dia pun keluar dan menutup kasar pintu kamar.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.