
Bab 35
.
Tanpa basa basi lebih, ibu tua ungkapan maksud kedatangan secara formal,yang mereka sama-sama sudah tau.
Usai pembicaraan penting itu selesai, mereka saling jabat tangan dan menunggu kedatangan berikut lebih sakral.
"Akhirnya aku akan segera punya mantu" ibu suri melempar pelan tubuhnya di sofa dengan girang.
"Gak perlu segirang itu. Yang nikah itu Melani , bukan kita" celetuk dingin Tuan Wijaya, kasihan sama nasib putrinya.
"Tenang saja. Melani sendiri yang sudah setuju" memeluk mesra pundak Tuan Wijaya.
"Ya,ya,ya.Orang nanya pas dia gak konsentrasi" Tuan Wijaya menepuk pelan punggung tangan ibu suri.
Berita baik ini tidak dibicarakan ibu suri pada Melani yang pulang dengan muka jutek cemberut cuek.
Dia membiarkan Melani tau pada waktunya sudah dekat.
1 bulan lagi....
.
Pikiran Melani belum tenang dengan semua projek yang berubah jauh dari perkiraan.Dia selalu pulang ke rumah hampir larut malam setiap hari.
"Pulang malam lagi?" ibu suri menemani Melani duduk makan malam.
" Iya,Ma" menyumpit mie telur.
"Lihat wajah mu yang lama gak terawat,sudah seperti emak-emak anak segudang" mengambilkan jus alpukat.
"Apa boleh buat. Belum ada waktu merawat diri" sahut lesu berbalut letih.
"Makanya,hari minggu ikut Mama ke salon" titah ibu suri.
Bola mata Melani berputar malas dengar saran Mamanya yang banyak mau menang sendiri, ujung-ujungnya.
"Mel sudah selesai makan" geser kursi.
"Nih anak di temani makan tetap saja manyun" oceh ibu suri berputar duduk.
"Mel istirahat dulu,Ma" tunjuk kamarnya.
"Mel, tunggu dulu. Habis makan jangan langsung tidur" tangan ibu suri melambai panggil.
Kaki Melani berhenti di tempat dan memutar badan hadap ibu suri.
Sudah pasti ada alasan akhir-akhir ini ibu suri semakin banyak mengatur tingkah lakunya,tidak boleh begini dan begitu.
"Pasti ada yang Mama mau omongin kan?" tanya Melani jalan lesu.
__ADS_1
"Tau juga Melani kalau ada yang mau ku omongin" batin Nyonya Wijaya ,mandang tiap langkah yang bakal hilang tiap hari dilihatnya.
"Iya,yuk duduk di sofa saja" pindah tempat duduk.
Setelah duduk keduanya dengan posisi enak masing-masing, ibu suri mulai bicara.
"Mel,kamu harus tau. Apa yang Mama lakukan semua ini demi kebaikan masa depanmu" ucap ibu suri pada Melani yang duduk di sebelahnya.
"Iya,Ma" bosan dengar ucapan ulang tiap hari.
"Mama ingin kamu menikah,biar ada yang jaga kamu dan ada teman curhat" memegang tangan Melani.
Melani ngangguk hafalan omongan ibu suri yang semakin sering beberapa Minggu.
"Sebenarnya, Mama Papa sudah terima lamaran keluarga Tuan Wiliam" berhenti lihat respon Melani.
Korban target kaget setengah mati,loncat duduk nyamping lihat wajah sang ibu.
"Ma, Mama hanya bercanda saja kan?" membulat besar bola mata Melani.
"Gak Mel. Untuk hal sepenting dan bersejarah ini, Mama gak bercanda" yakinkan pandangan putrinya.
"Hehehe...It's only joke" Melani tertawa kaget paksa .
Melani tidak percaya dengan indera pendengarannya. Walau pikiran kacau dan banyak ngelamun,tapi tidak mungkin berpengaruh pada telinga.
Beberapa kali Melani menarik telinga dan korek lubang telinga juga. Tidak ada yang aneh pada pendengarannya,semua masih normal.
"Gakk!!!. Aku gak mau. Pokoknya sekali tidak ya tetap tidak!!. No Way!!" tolak Melani bernada ninggi, berdiri dengan kesal,matanya juga melotot lebar .
Langkah kaki Melani jalan kasar dengan langkah panjang masuk kamar.
Bamm...
Pintu kamar di tutup keras, biar ada orang tau kalau dia sedang demo protes.
"Dasar nih anak. Dikasih pilihan hidup lebih baik kok gak mau. Jangan harap Mama biarkan kamu jadi perawan tua seumur hidup. Cam kan itu!!" omel Nyonya Wijaya di depan pintu kamar Melani,bersuara cempreng nyaring lupa posisinya sebagai istri konglomerat.
"Sekali tidak tetap tidak" balas Melani teriak dari dalam kamar
Sudah kayak orang menggemakan kemerdekaan setiap tujuh belas Agustusan.
Suara teriakan ibu dan anak terdengar sampai telinga Tuan Wijaya yang berbaring di kamar .
"Aduh ... Perang dunia lagi kan?" ujar Tuan Wijaya turun dari spring bed ,pakai sandal.
Cekrekk....
Kaki Tuan Wijaya jalan cepat meleraikan kehebohan di rumah .
"Ma, cukup.Apa gak malu kalau sampai tetangga dengar" narik ibu suri masuk kamar .
__ADS_1
"Pokoknya,Mama gak mau di bilang punya perawan tua gak laku" suara ibu suri semakin tinggi cempreng.
"Gak ada yang bakal bilang gitu. Kalau kamu begini, justru orang bilang kamu yang melarang putri kita nikah" nasehat Tuan Wijaya .
Kaki ibu suri berhenti gerak jalan ,matanya melototi suami,tangan melipat di dada.
Bukan lagi perang dunia jika sudah begini.Mungkin bumi bakal di goncang gancing sampai balik dari posisi.
"Bukan gitu maksudku. Kan lebih baik,kalau bilangin Melani dengan suara lembut halus" Tuan Wijaya senyum nyengir biar perang dunia tidak terjadi.
"Oh...Koko secara gak langsung mau bilang aku yang salah,humm !" bibir Nyonya Wijaya meruncing seperti habis di raut.
"Bukan,bukan. Sudah besok biar aku saja yang nasehati Melani, sekarang masuk kamar tidur" Tuan Wijaya merangkul pundak istrinya.
Mata Nyonya Wijaya menyipit tajam tidak terima ucapan suaminya yang terlalu memanjakan putri mereka.
Agar emosi istri segera mereda,Tuan Wijaya memijit pundak istrinya.
"Sudah enakkan kan?" tanya Tuan Wijaya.
"Gak!!. Sebelum Koko berhasil buat Melani nurut nikah" tegas Nyonya Wijaya muka cemberut.
"Iya,iya. Besok aku omongin pelan-pelan. Sekarang tidur saja dulu" merebahkan tubuh istrinya.
"Hengg...Awas kalau gak berhasil!!" ancam Nyonya Wijaya narik kasar selimut tutup sampai wajah.
"Huff... Punya istri singa betina begini deh" gumam Tuan Wijaya.
"Apa maksud Koko ,haa!!" narik turun selimut, mendengar gumaman si suami.
Hehe.... Tuan Wijaya tersenyum kaku, garuk tengkuk tidak gatal.
Segera Tuan Wijaya ikut rebahan samping ibu suri dan menina bobokannya,membelai dan usap punggung wanita pendampingnya.
Malam menjemput kedua insan masuk dalam dunia mimpi terindah, sambil merecharge ulang tenaga habis terpakai hari ini.
Dalam kamar lain,Melani tidur bolak balik gusar dengan ucapan sang Mama yang ngebet pingin dirinya menikah di usia muda. Bahkan usianya saja belum genap dua puluh tiga tahun.
"Arrrggg..... Mengapa jadi kacau balau setelah balik!!. Misi dan hidup macam apa yang sekarang ku jalani" rutuk Melani ,menutupi wajah kesalnya pakai bantal.
Bisa mati kekurangan oksigen tidak ada dalam pikiran Melani yang gabut,yang ia tau ia ingin membenarkan kehidupan lampau jadi lebih baik dan menyenangkan,bukan tambah kacau semerawut.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungan semua.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua 🙏
__ADS_1