Change Destiny

Change Destiny
Bab 41 Mommy, don't cry


__ADS_3

Bab 41


.


Agar Melani tidak kembali cari alasan lain,Wiliam berdiri menunggu.


"Ngapain pula pakai acara jemput. Emang aku anaknya yang harus dijemput" gerutu Melani merapikan dokumen dan data penting lain secara kesal, sambil ngejek Wiliam yang memunggunginya.


"Sudah belum!!" ujar Wiliam berbalik.


Mati kutu Melani dibuat Wiliam yang berbalik. "Game over in heaven" Melani tersenyum kaku ,takut ketahuan saat dia ngejek bertepatan berbalik tiba-tiba.


"Su-sudah" kaku jawab Melani.


Bagaimana tidak kaku tegang. Investor sekaligus suami dadakan itu ,kini menguasai setengah kehidupan.


Langkah kaki elegan Melani kemudian ikuti jejak kaki panjang milik si suami .


Main aman saat ini amat diperlukan,guna menjaga stabilitas keuangan perusahaan yang goyang.


Mobil yang laju berhenti disuatu toko. Entah apa yang mau di beli orang di samping Melani, pada salah satu toko berjejeran.


"Pak,tolong belikan cake rasa black fores dan chess cake" perintah si penguasa pada supir.


"Baik,Tuan." supir lalu keluar membeli pesanan.


Saat di dalam mobil duduk berdua, mereka saling membisu dan memalingkan wajah. Memilih melihat keluar kaca jendela mobil.


Cekrekk...


"Tuan ,ini cakenya" supir serahkan 2 kotak cake cantik.


"Serahkan ke Nyonya" jawab Wiliam,beri ruang agar cake bisa di pegang Melani.


Harus sabar banget Melani menuruti perintah Wiliam.


"Sabar, sabar, Mel. Ingat !! sebagai wanita karir sukses penuh gemilang di masa mendatang, kamu harus tunjukkan sikap elegan, ikon dari personality kamu dan juga keluarga" Melani menasehati dirinya sendiri.


Tanganya mengulur terima kotak cake dengan senyum penuh tekanan batin.


Mobil mewah kembali laju diantara lalu lintas panjang sesak pengguna jalan. Hingga tujuan akhir mereka pun sampai sebelum telat jam makan malam.


.


Ting tong....


Bel rumah keluarga Wijaya berbunyi, kedua orang yang berdiri bersebelahan menunggu orang dari dalam membuka pintu.

__ADS_1


"Dibukakan pintu langsung gak mau. Akhirnya mesti nunggu" oceh pelan Melani, bibir merat merot pegang kotak cake sekaligus dua.


Wiliam masih bisa dapat mendengar apa yang diocehkan Melani akan dirinya. Namun meski bagaimana pun ,Wiliam ingin menerapkan etika sebagai orang yang menikah keluar dari bagian keluarga tersebut.


"Eh, Nona dan Tuan sudah datang" sambut pelayan andalan rumah yang kembali masuk kerja, setelah beberapa waktu berhenti.


"Mbok, tolong bawa cake ini masuk ya" Melani menyerahkan kotak cake.


"Baik, Non"


" Tunggu Mbok" Wiliam menahan langkah pelayan.


"Eh,ya ada apa Tuan" pelayan berhenti dan berbalik.


"Tolong jangan sebut istri saya Nona lagi"


"Ow, maaf Tuan .Sudah jadi tradisi.Hehehe....." gurau Mbok, cairkan muka kaku putri majikan,lalu lanjut jalan.


"Kenapa soal sebutan aja pun anda ikut atur, hum?. Apa cemburu karena sebutan anda terlalu tua" ejek Melani ,sambil ketuk pelan bibir pakai jari telunjuk.


Wiliam dari jauh melihat ada kesempatan, ketika Nyonya Wijaya jalan ingin menghampiri mereka.


"Oh... Ternyata kamu ingin nikah dengan pria muda. Kalau begitu, mengapa kamu tidak tolak lamaran sebelumnya" suara Wiliam sengaja agak keras, agar terdengar orang yang jalan mendekat.


Benar saja dugaan Wiliam. Orang tersebut langsung mendekat dan menceramahi orang bersangkutan.


"Mel, kamu tidak boleh berkata gitu sama suamimu. Mama tidak pernah sekalipun ajarkan kalian...... " ucap marah Nyonya Wijaya sambil jewer telinga si putri, dan terputus belum selesai, dengan nafas sesak.


Tuan Wijaya segera hampiri asal suara begitu di panggil panik oleh putrinya.


"Mel, cepat cari obat di laci kamar yang botol putih" perintah Tuan Wijaya memapah istrinya ke kursi terdekat.


"Ikuti intruksiku ya. Tarik nafas, buang,huff....Tarik pelan lagi, hembus.... " intruksi Tuan Wijaya pada istri sambil mengelus dada membantu meredam emosi.


Sudah lama penyakit asma istrinya tidak kambuh semenjak Melani remaja. Tapi karena kepancing amarah lebih, asma tersebut kambuh. Dan untungnya ,obat asma selalu tersedia sebagai jaga-jaga atas saran dokter setiap cek up rutin satu tahun sekali.


"Mama sejak kapan punya asma, Pa?" tanya Wiliam ingin tau.


"Kata Mama, sejak dia kecil. Dan Melani juga punya asma bawaan" sahut Tuan Wijaya mengelap peluh keringat istri.


"Saya punya kenalan dokter di Amerika.Jika berkenan, Papa bisa ajak Mama dan Melani untuk di cek" saran Wiliam.


"Ngak ,usah. Kamu, cukup cek Melani" sambung Nyonya Wijaya dengan nafas satu dua putus.


Wiliam ngangguk tidak memperpanjang pikiran orang sakit.


"Ma, ayo minum obat" panik cemas Melani memasukkan obat ke mulut ibu suri,tangan dan kaki tanpa di sadari sendiri begitu kencang gemetaran.

__ADS_1


"Sini obatnya" Wiliam ulurkan tangan.


Mata berkaca itu menatap Wiliam dengan penuh sedih dan sesal. Coba tidak ada yang pancing sampai kedengaran, mungkin si Mama masih sehat dengan emosi merepet ngoceh sampai puas.


"Kalian temani Josh makan saja. Papa akan bawa Mama ke kamar" ucap Tuan Wijaya memapah berdiri tubuh lemas ibu suri.


"Ma, maaf.... " Melani mengatupkan kedua tangan, wajah berlinang air mata sedih.


"Sana, kalian, makan,dulu" jawab ibu suri terpatah-patah tiap kata.


Melani mengenggam erat tangan yang lemas itu, rasanya sakit sampai nusuk jantung. Sekian lama tidak lagi tampak kondisi miris, dan sekarang terulang kembali. Rasanya lebih baik dengar ocehan sang Mama berkoak-koak pakai toak, dari pada lihat penderitaan sesakit itu.


Hengg.... Hengg.....


Ingus meler di bibir wajah cantik, dengan nafas satu dua terputus karena terpukul batin.


"Mel, kamu tenangkan pikiran. Mama kamu sudah stabil. Kamu jangan buat Mama-mu cemas" Wiliam menepuk-nepuk pelan punggung Melani.


"Ini gara-gara anda!!" omel Melani suara sengau terisak sesak tangis,dan dorong tubuh kekar .


"Iya,saya yang salah. Lain kali tidak akan terulang" jawabnya.


"Daddy.... Mommy kenapa crying ?" Josh menarik lengan jas Wiliam.


"Grandma sick, so Mommy crying" memberitahukan inti masalah.


"Ooo" ngangguk ngerti.


"Mommy, don't cry again. Grandma pasti cepat sembuh. Let's see Grandma now, Mom" ajak Josh, memeluk tubuh ibu baru.


Mesti banyak belajar seorang Wiliam dari bocah kecil,tentang membujuk dan meluluhkan hati wanita yang sedih.


Mereka bertiga jalan bersama menuju kamar utama rumah tersebut, melihat kondisi Nyonya rumah setelah beberapa saat.


"Grandma, sakit yang mana?" tanya Josh duduk lompat naik ke tempat tidur.


"Sini" ibu suri nunjuk dadanya yang masih sesak jika bicara lama.


"Nanti, setelah Josh besar dan jadi dokter, Josh akan rawat Grandma. Biar kuman bakteri virus jauh sakiti Grandma, ya" oceh Josh, mengelus lembut wajah Nyonya Wijaya,dengan gaya meyakinkan bak calon dokter benaran.


Begitu pintar bocah kecil cari perhatian, hanya cukup kata-kata menyenangkan, semua tersentuh.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita


__ADS_2