Change Destiny

Change Destiny
167 Penagih janji


__ADS_3

Bab 167


.


Karena keputusan Melani untuk menerima Wiliam beberapa waktu lalu, dia pun dengan segala cara membujuk Wiliam untuk tidak marah,dan menyetujui keinginan Josh.


"Kamu jangan coba-coba memanipulasi saya.Atau kamu dan Josh akan saya kirim ke mansion" ancamnya teguh pendirian.


"Aku mana berani.Tapi kalau ada tambah seorang anak lagi..." lanjutan langsung dibungkam Wiliam pakai tangan.


"Kalau mau anak, kita bisa adopsi" tegasnya tidak ingin melanjutkan percakapan.


Melani tidak bisa berkata apa pun.Dan biarkan pria dingin itu menenangkan kegalauan seorang diri di ruang kerjanya.


.


2 bulan kemudian....


Wiliam diundang dalam sebuah acara.Dirinya pun mengajak Melani dan Josh ikut.


Acara itu rupanya adalah reunian teman sekolahnya puluhan tahun silam.


"Ini istri dan anak kamu Wili?" tanya seorang pria berambut cepak.


"Iya" jawabnya singkat dingin.


"Masih muda,tapi anak sudah besar" ucap pria rambut cepak, dengan tatapan genit.


"Ya" menggeser tubuh halangi pandangan teman buaya darat. "Mana anak istri kamu?" lanjut tanya ketus.


"Anak aku dibawa istri pertama, dan sekarang lagi taksir sekretarisku" jawab dengan pede.


Tau temannya seorang pengombal ulung, Wiliam membawa jauh keluarga kecilnya dari buaya darat.


Bukan saja pria rambut cepak yang penasaran dengan 2 pengikut Wiliam. Teman-teman yang lain juga lebih mempertanyakan wanita disampingnya.


Merasa Wiliam menutupi status jomblo,dan mengakui anak orang sebagai istri dan anak, mereka pun jadikan bahan tertawaan.


Beda dengan teman wanita yang mencibir Melani sebagai wanita panggilan.


"Kamu tidak apa kan?" tanya Wiliam lihat Melani pura-pura baik saja.


"Ya" terpaksa senyum semua baik-baik saja.


"Mami tenang saja, Josh akan kasih orang jahat hadiah" bisik Josh ikut marah.


"Jangan Josh, nanti Daddy hukum kamu lagi" menasehati sekutu


"Don't worry Mi" meyakinkan.


"Josh, jangan" menggeleng kepala.


"Apa yang jangan" berbalik dengar selentingan bisik-bisik tetangga.


"Jangan pergi sendiri ambil makanan" dalih Melani selamatkan sekutu.


"Kamu temani dia saja" memberi izin.


Melani dan Josh berpisah dari Wiliam. Saat mereka terpisah, mereka diledekin sebagai ibu dan anak gadungan, oleh sejumlah wanita yang pernah patah hati.


"Elehh... Paling-paling mereka dibayar 1 malam untuk temani Wiliam" cibir wanita bersanggul anggun.


"Sayang ya, cantik-cantik jual diri" tambah wanita 2.


"Mungkin sudah profesinya,jadi wanita sewaan" sambung wanita 3.


Ha-ha-ha..... Tawa serumpun wanita buat Josh yang dengar menggeram marah.


"Kalian orang jahat" ujar Josh nunjuk satu persatu wanita menghadang jalan mereka.


"Hei,bocil!.Kamu seharusnya ada di rumah,apa kamu bersekongkol dengannya" wanita 2 mendorong tubuh Josh hingga terhuyung.


"Joshh !!" jerit Melani tidak terima sekutunya disakiti orang lain.


"Kalian kayak keluarga sungguhan, tapi sayangnya tidak lebih dari seorang penipu" tuding wanita bersanggul.


"Kalian boleh hina aku, tapi tidak boleh hina anak seorang pengusaha besar" Melani maju melawan dengan tangan membentang lebar.


Hahaha.... Tawa mereka bergelegar menertawakan Melani yang seorang wanita panggilan,dan Josh yang dikira anak pemulung yang butuh uang.


Plakk.....


Melani menampar serumpun wanita, tangannya yang bergetar penuh amarah sudah tidak dapat ditahan untuk mengepal saja.


"Kau berani menampar kami!" bentak wanita 4, tidak terima terhina.


"Iya menang" lantangnya suara menjawab.


"Kalau berani ,ikut kami" wanita bersanggul,mengkode teman-temannya untuk menangkap musuh mereka.


"Kalian yang paksa aku begini.Jadi jangan salahkan aku berbuat kasar" ancamnya, sambil memberontak untuk dilepaskan.


Ketika Melani dibawa serumpun wanita, Josh mencari alat yang bisa digunakan untuk jadi senjata.


Disaat tepat, tempat yang dijadikan acara reunian adalah milik keluarga Kurniawan, dan mengenali siapa yang mereka sekap, tentunya tidak izinkan serumpun wanita menghakimi Melani.


"Tolong hentikan, sebelum kalian berurusan dengan Tuan Wiliam" asisten keluarga Kurniawan coba menghentikan kejahatan terjadi.


"Tidak mungkin untuk wanita rendahan seperti dia, akan dibela orang berpengaruh besar" ujar wanita ke 5.


Hiatt.....


Suara Josh nonggol dengan tangan membawa 2 piring cake.


Bidikan Josh juga mengenai wajah 2 wanita, dan akhirnya bercemelontengan.


"Tuan muda,tolong hentikan" asisten keluarga Kurniawan, menangkap Josh yang ingin menyerang.


"Lepaskan!. Mereka sudah sakiti Mami" memberontak.


"Cepat kalian hentikan!" bentak asisten keluarga Kurniawan.


Wanita-wanita itu menggeleng kepala, tidak percaya ucapan asisten tersebut.


Ditempat lain, Wiliam sedang mencari 2 bocah yang dibawa bersamanya datang.


"Kemana mereka pergi" menuju tempat meja penuh makanan, sambil menyapa teman dari kelas lain.


Tidak teringat olehnya untuk mencari dengan telepon, sampai sudah capek berkeliling,dia pun baru menelepon.


"Angkat Melani.Apa kamu coba kabur sama Josh?" bolak-balik badan.


Melani yang ditelepon masih dalam keadaan terikat tangannya dibelakang. Ponsel yang berdering malah diambil salah seorang wanita.


"Lihat-lihat.Suaminya telepon" wanita ke 3 mempertontonkan layar ponsel bertuliskan 'My husband'.


Wkwkwk......


Semua wanita tertawa terpingkal-pingkal lihat nama di layar ponsel.


"Angkat teleponnya, suruh dia jemput istrinya" ujar wanita bersanggul pada wanita ke 4 yang tahan ponsel Melani.


"Hei !!kamu suami wanita panggilan kan?. Gue kasih tau kalau istri kamu sedang menemani sugar daddy kesebuah pesta" ucap kasar wanita ke 4.


"Dimana dia sekarang!" tegas Wiliam bertanya.


"Akan gue share loc tempatnya.Ingat cepat datang !" wanita ke 4 mengirimkan letak GPS mereka berada.


Dalam 3 menit,suami yang dikira orang kismin itu muncul kagetkan semua orang.


"Wiliam !" kaget mereka,mata melotot lebar.

__ADS_1


"Lepaskan istri saya.Dan tampar mulut kalian" hardik Wiliam berlipat tangan.


"Ba-baik" jawab serentak.


"Daddy mereka bully Mami" adunya menambah merica dan cabe rawit.


"Benar itu!!" bentak Wiliam.


Tidak seorang pun dari mereka berani ngakuin.Justru mereka melaporkan bahwa Melani yang sudah menampar mereka.


"Minta maaf sekarang juga!" bentaknya.


"Maafkan kami" menunduk minta maaf dengan muka tak ikhlas.


"Awas kalau saya melihat wajah kalian lagi" ancamnya tidak takut pada suami para wanita.


"Iya"


Wiliam bawa keluarga kecilnya tinggalkan acara tidak bermakna itu,sambil memerintahkan asisten keluarga Kurniawan untuk tidak memberikan akses masuk pada para perusak acara.


"Baik Tuan.Akan saya sampaikan ke Tuan Kurniawan" jawabnya sembari mengantar.


Berhubung belum malam sekali, Melani minta untuk ke bioskop hilangkan perasaan tidak nyamannya.


"Boleh ya Dad" Josh ikut memohon.


"No!" menggeleng kepala.


"Koko jahat!" celetuk Melani memalingkan wajah.


"Iya.Daddy jahat" ikut-ikutan.


"Ratu dan pangeran ngambek" sindir Wiliam menahan tawa.


"Biar" serentak sahut.


"Nanti di depan,kita belok kiri" titahnya pada supir.


"Horee..." seraya 2 bocah berpelukan bahagia.


"Bukan bioskop,tapi restoran" celetuk dingin Wiliam.


"Aicchhh" kembali lesu menunduk.


Dengan baju bagus,tak mungkin Wiliam membawa keluarganya ke bioskop, yang ada mengundang paparazi pemburu gosip.


Sampai juga supir membawa keluarga kecil itu di restoran mahal.


"Turun" titah Wiliam bukakan pintu mobil.


"Ya" terpaksa nurut.


"Josh kenyang"


"Aku juga"


"Kenyang?. Makan apa kalian tadi,hahh!!" berkacak pinggang.


"Makan cake" asal jawab Josh, dengan wajah meyakinkan.


"Really??" Wiliam tidak percaya.


Sungguh tidak bisa dipercaya ucapan Josh, dengan tingkah kaku mereka.


"Sekarang masuk!!" tegas Wiliam, menarik keduanya.


"Jangan ditarik,ko.Malu" ucap pelan Melani,jadi perhatian pelayan restoran.


"Bagus kalau tau malu" dari gandeng tangan,jadi merangkul pinggang biola.


"Selamat datang Tuan dan sekeluarga" sambut pelayan membawa notes dan pen.


"Saya pilih menu istimewa hari ini" tidak lihat daftar menu.


"Ice cream vanilla" celetuk Josh.


"Satu saja" tidak izinkan orang disampingnya ikut memilih.


"Aku belum?" ucapnya lirih.


"Kamu minum jus saja"


"Nanti Josh bagi" tambahnya mengedipkan mata.


Dengan posisi duduk ujung ke ujung, tentunya tidak dapat berbagi, makanya Melani beranjak berdiri pindah posisi duduknya.


"Kamu duduk disebelah saya" Wiliam mengatur tempat duduk 2 bocah.


"Ok" bertukar duduk dengan Josh.


Tak lama menu spesial datang satu persatu dibawa koki dan pelayan lain selagi panas.


"Silahkan dicicip Tuan" ucap koki meletakkan menu pembuka.


Sepiring hidangan seafood dengan granis sayuran cacahan kubis, serta kecap asin berfermentasi wijen.


Menu utama dan menu pelengkap lainnya diletakkan pelayan, dengan arahan pengaturan koki.


"Selamat menikmati" pamit koki dan pelayan lain.


"Makan" titah Wiliam pada 2 bocah yang bercicit cuit tak jelas.


"Siap" serentak jawab, membuka lipatan kain.


Melani menyumpit seafood dan telur hitam(phitan) ke piring Josh. Hal tersebut membuat Wiliam cemburu tak jelas juga.


"Koko nggak makan?" tanya Melani lihat piring Wiliam bersih tanpa noda.


"Mmm" dehemnya tapi pandangan ngarah ke makanan, dan berharap orang disamping tau maksud pandangan.


"Aku ambilkan, ya"


"Mmm" dehemnya, akhirnya dimengerti pula kemauannya.


"Mami suapin Josh" pinta Josh kesulitan nyumpit makanan.


"Ok" mengacuhkan balik, lupa untuk mengambil makanan untuk Tuan dingin.


"Aaa..." mulut Josh menganga lebar.


Tidak disangka pula, Wiliam ingin dapat perhatian yang sama, dengan cara menyindir Melani secara tidak langsung.


"Buka mulut kamu" ujar dingin Wiliam, menyumpit seafood.


"Aku??" tunjuk diri sendiri.


"Mmm.... Cepat" menyodorkan sumpit isi udang mayonaise.


"Aaa..." mulut Melani terbuka lebar.


"Ammmm" memasukkan makanan ke mulut sendiri.


"Ihh..." geram Melani diejek.


"Nih" membiarkan ujung udang di mulut untuk di makan Melani.


Karena kesal dan tertantang, Melani pun mengigit ujung udang yang telah masuk setengahnya ke mulut Wiliam.


Wiliam semeringah, tidak sangka Melani berani melakukan itu meski ada Josh.


"Lagi?" goda Wiliam, mengelap bibir tipis candunya berlepotan mayonaise.

__ADS_1


"Nggak"


"Jangan jutek" menoel hidung Melani.


"Mami.Aaa...." Josh minta disuapi lagi.


"Pakai sendok. Belajar mandiri" ucap ketus Wiliam selalu tertikung.


"Ya" jawab lesu.


"Tidak apa, Mami suapin" membela sekutu yang tersudut.


"Kamu juga makan sendiri" hardik Wiliam ke Melani.


"Ya" menunduk.


Hidangan penutup dibawa masuk pelayan. Begitu terletak di meja, langsung ice cream diraih Josh.


"Cukup makan 5 sendok" ujar Wiliam menghentikan Josh habiskan eskrim.


"Sisanya untuk Mami" bisik Melani dan diangguk Josh.


"Kamu tidak boleh" mendengar bisikan tetangga.


"Mubajir donk" menerima sodoran gelas jus strawberry.


"Minum itu saja" tidak ingin dibantah.


Sruuppp....


Melani seruput jus strawberry, tapi matanya lirik mangkuk eskrim disampingnya.


Josh diam-diam menyuapi Melani makan eskrim tanpa ketahuan bapaknya yang sedang balas pesan.


"Josh!!. Melani!!" Wiliam kaget ketika berbalik, mangkuk eskrim sudah kosong.


"Hehehe" cengengesan keduanya,memasang wajah manis lucu.


"Pulang nanti kalian berdiri 1 kaki,tangan jewer telinga" tegasnya menghukum.


"Berapa lama?" Melani tanya dengan suara manja.


"1 jam!"


"Haaa!! 1 jam?" panik.


Mereka pun dengan segala cara membujuk Wiliam, untuk dapat remisi hukuman 1 jam itu.


Sampai di rumah, mereka terus memohon dengan wajah dan tingkah aneh mereka.Terutama Melani yang bernego secara privasi.


"Kalau Koko kurangi hukuman kami,Mel akan layani Koko malam ini" meski canggung, tetap harus berusaha semaksimal mungkin.


"Benarkah?" menyudutkan Melani ke tembok kamar mereka.


"I-ya benaran" tegang kaku dengan tatapan buas Wiliam.


"Buktikan dulu" menelusuri belahan dada Melani pakai telunjuk.


"A-apa?" pura-pura nggak paham.


"Cium saya dulu" memajukan wajahnya.


"Hanya cium kan?" memastikan dan diangguk Wiliam dengan sikap aneh.


Cup....


Melani jarang mencium pria di depannya, karena ia lebih sering diserang olehnya dengan ciuman mematikan.


"Sudah" ucap Melani menyudahi ciuman bibir tidak ada sensasi.


"Itu bukan ciuman" menarik tubuh Melani dalam pelukannya.


Wiliam menyerang bibir tipis candunya bertubi-tubi, hingga nafas mereka ngos-ngosan.


"Itu baru ciuman" puas menyerang mulut Melani yang kaku, tapi nikmat.


"Sekarang hukuman kami?"


"Berdiri satu kaki, tangan jewer telinga selama 5 menit" tidak ingin menunggu lama Melani melayani dirinya.


Melani segera keluar kasih tau sekutu,dan langsung jalani hukuman.


5 menit kemudian...


Melani pura-pura lupa pada negosiasinya.Karena melayani seorang Wiliam tidak akan mudah.Butuh kekuatan mental, serta persiapan matang.


"Josh,malam ini Mami tidur sama kamu saja,ya" ucapnya sambil ngunci pintu kamar Josh secara manual.


"Horee... Mami tidur sama Josh lagi" berlompatan bahagia.


Penagih janji pun menggedor pintu rivalnya dengan keras.


"Buka pintunya!!"


"Jangan buka, Josh" menahan Josh membukakan pintu.


"Kalau tidak buka,uang jajan kamu Daddy tahan!" menunggu pintu dibuka.


"Tenang saja,nanti Mami yang kasih"


"Ok" setuju.


"Kamu juga, Mel.Kamu tidak boleh pulang ke rumah orang tua kamu selama 3 bulan"


Ancaman Wiliam selalu dapat mengalahkan kedua bocah yang melawan dirinya. Dia pun menyunggingkan bibir dengar kunci manual dibuka dari dalam.


"Sekarang balik ke kamar" titahnya pada Melani.


"Bye Josh" melambaikan tangan perpisahan sedih.


"Mami .." panggilnya dengan suara piluh.


"No drama melankolis" ujar dingin Wiliam memisahkan keduanya.


Hikss... Hiksss....


Tangis sendu Melani terpisah karena ancaman.Andai saja mereka punya kekuatan rahasia,tentu tidak akan takut pada ancaman Wiliam sebesar apa pun.


"Buka baju saya" merentang tangan.


"Aku mandi dulu"


"Nanti saja mandi.Sekarang layani saya dulu"


"Kan tadi kotor" jalan miring, hindari predator.


"Nanti juga kotor" menangkap mangsa.


"Hehehe...Iya,ya" tawanya kaku tidak bisa kabur.


"Mau saya layani, atau kamu yang layani" tanya Wiliam tak sabar nunggu.


"Aku aja" kaku melepaskan tiap kancing kemeja Wiliam.


"Hufff.... Sabar Mel.Lagian ini bukan hal baru, cuma beda tipis saja" mengsugesti pikiran dan hati sendiri.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2