Change Destiny

Change Destiny
Bab 34 Jadi nenek instan


__ADS_3

Bab 34


.


Nyonya Wijaya memicing mata curiga sama Melani yang beralasan sakit,karena kening saat disentuh tidak panas.


"Udah ,gak usah bohongi Mama. Cepat ganti baju" mendorong masuk putrinya.


Pikiran Melani tambah sumpek gak karuan dengan desakan Nyonya Wijaya ngebet ngajak ketemu orang.


Dua puluh menit kemudian, Melani turun dengan dress simple selutut.


"Ayo kita pergi" Nyonya Wijaya narik tangan Melani.


Dalam mobil, pikiran Melani melayang tertuju pada modal murni di obligasi. Ia terus merutuk kelalaiannya tanpa ada seorang pun tau hal itu.


Hufff....


Sesekali Melani berhela nafas kesal, tanpa tau sedang diajak kemana.


"Mel, kamu kenapa ?.Kok dari tadi Mama lihat kamu lesu banyak pikiran?" tanya Nyonya Wijaya.


"Mel tadikan bilang sakit, Mama gak percaya" Melani memutar malas bola mata.


"Sakit bagian mana?.Keningmu gak panas, normal seperti Mama" megang kening Melani lagi.


"Mel, sakit kepala. Mana mungkin ada kaitan sama panas atau demam" bibir Melani mewek.


"Makanya,sekarang ikut Mama adalah pilihan terbaik obati pusingmu. Itu pasti karena ngurus terus kerjaan" oceh Nyonya Wijaya.


"Dah lah, percuma bantah terus. Yang ada Mama makin panjang ngomel" ucap batin Melani memijat kening berkerut.


Mobil mereka tiba pada sebuah restoran, di dalamnya beberapa orang sedang menunggu kedatangan mereka.


Senyum berkembang di bibir pengundang begitu lihat sosok tamu undangan datang sama sosok diharapkan.


"Sangat cantik dan cocok" ucap wanita pada wanita satu lagi.


"Ho'oh, mesti cepat sebelum direbut orang lain" balas temannya ikut lihat.


Tanpa bantah ,Melani harus menjaga wibawa Mamanya di depan orang luar. Ia terpaksa senyum ramah dan duduk meski enggan.


"Selamat siang Nyonya" Nyonya Wijaya dan Melani sapa serentak.


"Selamat siang" sahut serentak.


Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, mempersilahkan tamu undangan duduk .


"Terimakasih" sahut Nyonya Wijaya.


Mata dua wanita memandang Melani lekat-lekat, mungkin serekat lem setan. Hal itu buat Melani duduk gusar bertambah cemas double.


"Aunty" bocah kecil tiba-tiba datang dari arah samping, lalu meluk erat.

__ADS_1


"Hai Josh. Kamu baru pulang sekolah ya?" tanya Melani mengalihkan kekakuannya.


"No aunty. Saya libur, karena ikut demo" bocah kecil milih duduk tepat sampingnya.


"Bisa kita bicara sebentar ?" pinta pelan Ronald nunjuk meja beberapa jarak dari kumpulan.


Melani ngangguk setuju diajak berbincang, meski bakal gak nyambung nantinya.


"Josh ikut" bocah lompat turun dari kursi.


"No. Stay here, Josh" titah tegas Ronald.


"Iya Josh, kamu sama omah uyut milih makanan dulu" sambung ibu tua.


"Oke. Quickly ya uncle" nurut sambil nunggu sabar.


Ronald mengajak Melani bicara hal penting .Hal penting mengenai perasaan serta keinginan dua wanita tua dan seorang bocah kecil.


"Nona Melani, saya sangat senang bisa mengenal anda. Tapi anda juga pasti sudah tau apa tujuan anda di undang kemari, kan?" mata Ronald memandang wajah Melani duduk termenung.


Benar-benar ucapan Ronald sama sekali gak nyangkut ke telinga Melani. Sampai akhirnya Ronald menjentikkan jari setelah beberapa kali melambai.


"Nona, apa kamu sehat?" tanya Ronald.


"Iya" sahut Melani tersenyum paksa.


"Lalu, apa anda bisa kabulkan sedikit keinginan kecil Josh" menahan rasa sakit hati demi kebahagiaan orang banyak.


"Ya ,bisa" jawab Melani tanpa tau apa yang tadi sedang Ronald bicarakan.


"Thank's ,sudah mau bantu kabulkan harapan Josh. Saya harap kamu bisa bahagia" Ronald berdiri untuk gabung dengan lain.


Melani binggung sama ungkapan Ronald, tapi ya sudahlah. Yang ada jika diperpanjang, bakal runyem berujung babak belur ke bisnis perusahaan. Dia pun ikut langkah Ronald dari belakang gabung bareng dengan lain.


Menu hidangan segera tersaji dalam keadaan masih panas, dan segera mereka santap.


"Aunty, Josh mau itu" nunjuk hidangan kepiting disamping Nyonya Wijaya.


"Oh" kaget Melani diminta tolong.


Gadis itu mengambil seekor kepiting saus tiram, lalu meletakkan di piring bocah.


"Tolong kupasin,ya Aunty " pinta manjanya Josh.


"Josh ,biar unclemu saja yang kupas" celetuk ibu tua.


"Sini" Ronald menarik piring bocah.


"No. Josh mau Aunty" bocah kembali tarik.


Terpaksa sudah Melani ikut rebut piring membantu mengupas daging kepiting rajung.


Aksi itu buat tiga wanita tersenyum bahagia. Insting ke ibuan Melani semakin berkilau cerah.

__ADS_1


"Kayaknya sudah harus cepat" bisik nenek pada Nyonya Wijaya.


Nyonya Wijaya ngangguk setuju. Bisa jadi nenek instan,juga bukan hal buruk. Sambil belajar beradaptasi sama kepribadian anak zaman now, pikir Nyonya Wijaya, tanpa diskusi dengan orang yang bakal jalani hidup baru.


Sehabis makan siang dan bincang-bincang bentar, mereka pun berpencar. Dan melakukan rencana yang tadi telah di bicarakan tanpa sepengetahuan jelas Melani dan Wiliam.


Dua minggu dari pertemuan terakhir mereka ,ibu tua datang ke rumah keluarga Wijaya ,dengan bawa sebuah kabar.


"Selamat datang Nyonya. Ayo duduk" sambut ajak Nyonya Wijaya.


"Baik.Baik" ibu tua ikut berlangkah senang.


Sambutan hangat menyamankan ibu tua yang bakal mengumumkan kabar baik.


"Saya to the point dengan kedatangan saya hari ini ya" ucap lancar ibu tua, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


"Aku panggil suamiku untuk ikut dengar langsung ya. Sebentar, silahkan minum tehnya dulu" sahut Nyonya Wijaya, bergegas manggil keluar Tuan Wijaya dari kamar kerja.


Ibu tua sambil nunggu ,lihat-lihat foto keluarga Wijaya yang terpampang pada dinding rumah. Dan beberapa piagam tropi pada meja hias ruang.


Senyumnya makin semeringah lebar puas yakin.Kalau Melani gadis tepat ,untuk bersanding sama Wiliam yang juga banyak penghargaan sejak kecil.


"Itu foto Melani menang lomba balet, usia 8 tahun" ujar Nyonya Wijaya ikuti pandangan ibu tua pada foto masa kecil Melani.


"Cantik, imut. Kalau punya anak pasti secantik dia" sahut ibu tua, berbalik dan duduk balik.


"Apa kabar Nyonya " sapa Tuan Wijaya.


"Baik. Anda Papa nona Melani ?" ibu tua bersalaman.


"Iya. Silahkan duduk" sahut Tuan Wijaya duduk berhadapan.


"Pantas Melani bisa cantik begini. Rupanya memang punya keturunan yang rupawan" puji ibu tua.


"Anda berlebihan. Hehehe" Nyonya Wijaya tertawa pelan bangga puas dengan pujian tamu spesial.


"Gak kok. Memang terbukti nyata. Jika Melani sama Wiliam sudah punya anak, pasti anak mereka serupawan leluhur keluarga. Buah tidak bakal jatuh jauh dari pohonnya" ucap panjang lebar ibu tua.


.


...****************...


...*******...


.


Terimakasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


.


.....Welcome 2022.....

__ADS_1


Kita sambut hari baru di tahun yang baru dengan harapan semakin jauh lebih baik 🙏


__ADS_2