Change Destiny

Change Destiny
Bab 26 My moments


__ADS_3

Bab 26


.


Bertubuh segar berbalut aroma buah sabun mandi,Melani mengambil ponsel genggam untuk berjalan-jalan.


Pemandangan yang masih asri di antara terik matahari,tidak hentikan langkah semangat Melani mengincar tempat masa depannya itu.


"Jika ku beli lahan tambahan sebelah sini ,maka perusahaanku jadi makin luas ke depannya" Melani memetakan area lahan dengan kamera ponsel.


Cekrekk....Cekrekk.....


Kamera ponsel membidik banyak tempat sasaran gadis itu. Setelah puas sama bidikan,gadis kota berkeliling sekitar rumah warga dengan sepeda ontel sewaan.


Mata penduduk tertuju pada gadis kota cantik berkulit putih mulus itu. Beda dengan mereka yang mayoritas berkulit sawo matang dan kasar.


"Selamat siang,ibu-ibu" sapa gadis cantik mendorong sepeda ontel.


Tanpa seorang penunjuk jalan, gadis itu tidak takut akan kesasar atau kaku berinteraksi sama warga desa itu.(Tahukan jika Melani yang sekarang adalah wanita dari masa depan).


"Siang" balas ibu-ibu yang sedang menenun kain.


Gadis itu menyandarkan sepeda ontel pada dinding tiang gubuk,lalu mendekat untuk melihat aktifitas wanita setempat yang masih tradisional.


Cekrekk....


Sebuah bidikan lagi mendokumentasikan kegiatan warga setempat.


Awal-awalnya penduduk yang dibidik kaku untuk berexpose. Perlahan atas dorongan gadis kota,mereka menampilkan pesona senyum ramah tamah yang khas dengan gigi putih berlesung pipit.


Gadis kota membiarkan secara alami gaya pose mereka tanpa ada pengaturan lebih.


Semua tampak nature dan memuaskan hasil asal pemotretan itu.


Sore yang indah bersambut langit jingga kemerahan pun menyadarkan gadis kota untuk balik ke losmen.


"Ini namanya hidup. Bisa bebas tanpa beban" meletakkan ponsel genggam di meja kamar.


Lalu mandi membersihkan semua peluh keringat dan debu menempel tubuh putih.


Byurr....


Air sejuk menyirami tubuh putih mulus yang lelah dalam kebahagiaan bebasnya.


"Life is never flat" membungkus tubuh dengan handuk .


Lalalala.... Terdengar senandung riang mengisi kamar itu,tanpa pengacau yang datang.


"It's time to eat" keluar mencari makan malam sebelum tidur.


Dia hanya memesan makanan sederhana yang jadi item khas daerah itu. Dengan aroma masakan yang masih panas-panas terhidangkan, gadis kota mulai menyantap pakai tangan.


Makanan kalau di kota mirip dengan sebutan nasi uduk ,tapi rasanya beda karena bumbu perenca lebih pol maknyus di setiap olahan.

__ADS_1


Nyumm....Nyummm......


Sisa bumbu di lima jari jemari pun di kecap lidah gadis itu. Sungguh amat puas rasanya bisa sebebas saat ini.


It's time to sleep...


Melani setelah puas bersantap,matanya juga mendukung untuk nikmati liburan.


Blekkk....


Kasur berbusa keras bukan halang rintangan berarti dalam kantuknya. Tubuhnya begitu lihat kasur keras langsung menyatu klop, bagai pasangan serasi.


.


Di tempat lain dalam beda waktu, pengusaha berdarah dingin juga memutuskan ke kota C untuk meninjau area lelang tanah,yang akan di mulai beberapa hari kedepannya.


"Ko,Koko jadi ikut lelang tanah di kota C?" seseorang di seberang bertanya.


"Iya" dingin menjawab.


"Ko,kali ini kita harus bisa ambil kesempatan di daerah itu. Ada kemungkinan lima tahun kedepan akan berkembang pesat" memberi penilaian.


"MMM...Kamu sudah urus penerbanganku kan ?"


"Sudah. Besok jadwalnya"


Hubungan jarak jauh terputus setelah dialog singkat.


.


Keesokan hari sesuai jadwal penerbangan, Wiliam bertolak lagi ke Indonesia, tanpa acara singgah ke rumah jenguk anak atau lainnya.


Butuh Lima belas jam pengusaha berdarah dingin tiba di kota C dengan penerbangan pesawat jet pribadi.


.


...Kota C...


.


Gadis kota yang telah tinggal tiga hari tiga malam di kota itu, banyak dapat gambar objek menarik yang sebelumnya ia tidak tau.


Tampak ada rombongan petani berbondong memikul pacul berlari di pinggiran sawah. Entah ada apa di desa itu,yang buat semua seakan heboh kedatangan tamu ibu kota atau mungkin pejabat negara saja.


"Kenapa semua berlari,Kang?" tanya gadis kota di antara petani dan pengembala.


"Ada tamu,Neng.Kabarnya akan calon pembeli tanah sengketa milik juragan" jawab peternak itik.


"Oh" gadis manggut nyahut sambung.


Seingat gadis itu,tanah sengketa itu tidak akan laku terjual dengan harga mahal. Mana letak kawasan itu dekat pinggir pantai, yang tidak bisa di kelola jadi industri atau prospek lain lebih cepat bangkit.


Gadis kota itu mengikuti arah kemana tujuan para penduduk berkumpul sedari pagi hingga sore menjelang tiba.

__ADS_1


"Emmm... Kayak orang penting" memotret wajah warga antusias menunggu pembeli lahan tanah sengketa.


"Itu..." tunjuk seorang warga pada mobil Jeep .


Gadis itu masih memfokuskan hasil potret yang alami di senja sore.


Dughhh...


Kamera ponsel jatuh bersama tubuhnya akibat penduduk berjalan desakan, menghampiri mobil Jeep.


"Oh no!!.My moments" wajah Melani bersedih, memandang ponsel yang jatuh plus terinjak.


Tidak dapat berkata apa pun lagi ,selain hanya mungut bangkai ponsel berjejak sandal dan tapak kaki putih hitam kotor.


Untuk kedua kali semenjak tiba di kota C , Melani harus turut berduka cita pada beberapa benda sekitar.


Hufff....


Nasib sudah jadi bangkai, Melani pun lihat sepenting apa orang yang datang ke kota tertinggal.


"Haaaa....!! you....!!!😳" membulat besar mata sipit kedua orang bertatapan sambil saling nunjuk.


Gadis kota segera berbalik untuk menghindari kesialan lain. Ternyata nasib sial ponsel diakibatkan oleh orang yang coba ia hindari.


Beda sama pemikiran pengusaha berdarah dingin,yang mikir punya saingan dalam lelang ini.


Melani setiba di losmen langsung mengunci kamar dan membersihkan tubuh penuh kotoran debu.


"Masa sampai sini juga,aku masih harus ketemu. Bisa bahaya jika ketahuan aku akan beli lahan baru" cemasnya dalam guyuran air.


Tidak masuk akal bisa bertemu tanpa rahasia kepergian bocornya itu. Melani semakin bingung cara untuk menghindar sembilan puluh tujuh persen.


"Apa aku sekalian pergi ke kutub buka bisnis baru di sana?" Melani mondar mandir ngeringin rambut.


Muncul pemikiran aneh tentang misi dari dewa pencabut nyawa padanya. Mungkin misinya barunya adalah buka bisnis baru di belahan dunia lain selain Amerika dan Asia.


Berkembang senyum di bibir kecil mungil merah ,dengan pikiran positif thinking nya itu.


"Ya sudah. Kalau begini aku batal beli lahan di sini. Aku mesti kumpulin cuan lebih, beli lahan yang punya prospektif lebih banyak" rencana baru terbentuk,jauh dari jalur kehidupan masa depannya.


Melani coba membenahi ponsel yang butuh perawatan intensif secara hati-hati,agar dapat ia gunakan secara darurat untuk menelpon orang di rumah.


"Handphone yang baik,mogok matinya nanti lagi ya?. Sekarang,tolong hidup sebentar. Biar aku bisa bawa kamu pulang" mengelap layar pake tisu basah.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungan semua.


Sehat sejahtera selalu untuk kita 🙏

__ADS_1


__ADS_2