Change Destiny

Change Destiny
152


__ADS_3

Bab 152


.


Pagi harinya, Melani terbangun dengan pelukan hangat yang pasti suami sah-nya.


Pelan-pelan ia membuka mata dengan keadaan kepada pusing.Tangannya menyibak selimut penutup tubuhnya.


Arrrhhhh....


Teriaknya histeris hingga membangunkan penyelamat sepanjang malam yang baru tertidur lelap menjelang subuh.


"Berisik !" omel Wiliam, menarik perlahan tangan kebas habis dijadikan bantal oleh istrinya.


"Koko gak punya hati!" marah Melani merebut selimut.


Wiliam membuka lebar mata yang terkatup. Mempertanyakan kemarahan Melani tidak jelas itu.


"Apa lagi ulah kamu,hmm?" bangun duduk, lihat Melani sibuk cari baju yang telah melayang entah kemana dia buang.


"Sudah tau orang tidur, tapi berani ambil kesempatan sepihak" tuding Melani, menunjuk Wiliam.


"Saya?" Wiliam mempertanyakan, sambil turunkan telunjuk yang menunjuknya.


Tuduhan itu tidak diterima Wiliam, yang telah berjuang menjaga hingga sang istri dapat tidur cukup tanpa terganggu.


"Jika bukan saya yang telah menolong kamu tadi malam. Mungkin kamu sudah terpasang infus" memelototi Melani, agar jangan asal tuduh dirinya.


Melani terdiam dalam rasa sakit kepala yang menusuk pelan tapi pasti.


Butuh waktu bagi Melani mencerna pembelaan sang suami, hingga akhirnya keluar sepatah kata 'Maaf' dari bibir tipis itu.


"Bagus kalau sudah sadar. Sana mandi air hangat" ujar ketus Wiliam, narik satu selimut lain yang ikut tertarik membalut tubuh setengah berbenang pakaian tak utuh.


"Oh" jawab canggung terbelit malu.


Wiliam menutup kembali mata yang masih ngantuk akibat terganggu,saat Melani sedang mandi.


Sedangkan Melani menyiram tubuh dengan air shower hangat seperti perintah sang suami. Habis mandi, Melani berpakaian bersih rapi keluar dari kamar mandi untuk menunggu breakfast.


Ting...Tong....


Bel pintu kamar hotel berbunyi. Melani jalan hampiri pintu mengintip siapa orang yang menekan tombol pintu, dari kaca kecil untuk melihat orang dibalik pintu.


"Ternyata pengantar sarapan" gumam Melani, membuka kunci manual pintu.


Pintu di buka, dan dipersilahkan masuk office boy pengantar sarapan, sampai di batas tunjukkan tangan Melani ke meja dekat pintu.


"Thank you" ucap Melani mengantar office boy keluar kamar.


"You're welcome" jawab sopan office boy.


Kembali Melani menutup pintu, dan membangunkan orang yang juga mesti sarapan seperti dirinya.

__ADS_1


"Ko, sarapan sudah datang" Melani membangunkan Wiliam,sambil tekan tombol penggerak gorden jendela kamar menyinari isi kamar bercahaya lampu.


Begitu mata di buka, Wiliam lihat jam yang sudah cukup siang baginya bangun.


"Kamu sarapan dulu" ucap Wiliam dengan muka masih ngantuk.


"Oke" jawab datar Melani, langsung ambil jatah piring sarapan miliknya yang sama


Habis Melani sarapan, Wiliam baru hendak makan sarapannya.


"Demam kamu sudah turun?" tanya dingin Wiliam, duduk mulai ngunyah sarapan.


Melani mengukur suhu tubu sendiri sebelum kasih jawaban. "Sudah"


"Coba saya periksa" tangan Wiliam melambai panggil untuk dekat.


"Jadi orang nggak percayaan banget sih!" keluh pelan Melani berbibir meruncing.


Wiliam masih setia nunggu Melani menghampiri untuk di cek langsung, tentunya sambil nikmatin sepiring sarapan.


"Hmmm.Habis ini ke dokter" ucap Wiliam, masih merasa suhu tubuh Melani di ambang tinggi dari suhu tubuhnya.


Cukup ngangguk nurut Melani, karena memang masih pusing dan butuh obat pereda nyeri.


.


Setelah pemeriksaan umum dan dapat resep obat, mereka melanjutkan pergi ke suatu tempat yang mengundang Wiliam.


"Ok" nurutnya ngangguk.


Tiba mereka disebuah restoran mewah. Langkah Wiliam diikuti Melani dari jarak belakang, 2 meteran.


"Ingat jangan kabur!" tegas Wiliam ingatin Melani sebelum berpisah tempat duduk.


Antara tempat duduk mereka terpaut puluhan meja, dan menjauhkan percakapan bisnis yang akan dibahas.


Pembahasan singkat itu berujung dengan kemunculan wanita-wanita sexy cantik, yang berhasil melacak keberadaan pengusaha tampan berwibawa.


Dari kejauhan, Melani yang baru merasa lebih ringan intensitas rasa sakit kepala habis minum obat, terus menggerutu dan mengumpat meja yang berada jauh di belakang.


"Katanya bicara bisnis.Eh alih-alih bisnis, buntutnya cewek juga" dumal Melani mengenal 2 wanita bule yang kemarin malam ceburkan dia ke kolam.


Malas sebenarnya ingin ikut campur,tapi percuma bisa kembali ke masa lalu untuk lebih berani mengambil keadilan,tapi disia-siakan begitu saja.


"Aku bikin malu saja, mereka" ujar Melani, dengan senyum terjahat.


Melani mengambil gelas air minum, berjalan dekati para wanita yang kerumuni 3 pria pengusaha membahas bisnis.


"Oppsss!!, Sorry" ucap Melani pura-pura tidak sengaja menumpahkan air minum, yang membasahi kepala wanita-wanita itu.


"Hey, you!!!" bentak seorang wanita Asia, dengan wajah terciprat air.


"I'm sorry " Melani menangkupkan tangan, ingin membalas 2 wanita bule, alhasil semua kebagian.

__ADS_1


"What is it ?" tanya seorang pengusaha memilah keributan.


"She already wet my face" adu wanita Asia dan disusul dengan aduan wanita lainnya, dengan gaya centil masing-masing.(Dia sudah basahi wajah aku)


2 Pria menyimak aduan para wanita yang mencari muka pada Wiliam.


"Maybe she accidentally" jawab jutek Wiliam tidak memihak siapa pun (Mungkin dia tidak sengaja)


Melani melipat wajah tidak senang atas wajah Wiliam tidak bersahabat dengannya.


"Kita lihat bagaimana aku buat kamu memihakku" umpat marah batin Melani, punya cara agar Wiliam berpihak padanya.


Sedikit putar sikap dari pada biasanya, Melani yang tidak pernah bermanja dalam keadaan normal,180 derajat memposisikan diri sebagai wanita yang teraniaya.


"Sorry Mister. I tripped on my feet earlier, that's why the water I brought fell wet these ladies " dalih Melani dengan wajah polos lugu telah di kasari.(Maaf, Tuan.Tadi kaki aku tersandung, makanya air yang aku bawa jatuh basahi nona-nona ini)


2 pria pengusaha menaruh ibah, dan menyudahi masalah sepele tidak tersengaja.


"You better order food, I'll pay later" ucap seorang pengusaha menjadi penengah. (Lebih baik kalian pesan makanan, nanti saya bayar)


Wiliam menatap sarkastik ke salah seorang pengusaha yang lekat pandangan ke istrinya.


"Kemari kamu" ujar Wiliam mengarah ke Melani yang berani balas pandangan pria lain.


Dalam bahasa Indonesia, tidak ada yang mengerti apa kata keluar dari mulut Wiliam, kecuali Melani dan pengagum asal Indonesia.


Bukan Melani yang dekati Wiliam.Kesalah pahaman semakin berbelit bagai benang kusut bersimpul.


"Pergi sana!" Wiliam ngusir wanita yang merespon perintah darinya.


"Tapi anda tadi manggil" sahut wanita Indonesia, memelintir ujung rambut bentuk sosis.


Wiliam usap kasar wajah sambil kibas tangan ngusir wanita yang salah merespon.


Tidak sabar dengan pandangan pria satunya lagi ke istri, Wiliam berdiri lalu narik tangan Melani.


Krakkk...


Hati para wanita sompel di ujung atas, lihat Melani jatuh dalam pelukan pria idaman mereka, dalam keadaan yang mereka harapkan pula.


"Ini saatnya aku buat mereka patah hati" ucap batin Melani, sudah dapat kesempatan untuk membalas kemarahan kemarin malam.


Tangan Melani yang satunya merangkul pinggang Wiliam. Senyum jahatnya,buat dia hilang akal sehat biasanya.


.


......................


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2