
Bab 44
.
Wiliam berjalan kembali menuju spring bed empuk, saat duduk berhadapan, dia dengar Melani menangis terseduh menutup wajah dengan bantal.
"Apa dia benar-benar ingin cari mati" pikiran Wiliam dibuat cemas.
Kakinya kembali melangkah. "Sudah tidur di kasurmu sana. Saya ngalah sama bocah kecil" ucap Wiliam berkacak pinggang,dengan bentuk tubuh banyak otot.
Otot yang menarik lawan jenis dan enak di pandang lama oleh lawannya. Akan tetapi tidak dengan Melani yang penglihatan buram tertutup mata sembab.
Tangan Wiliam menarik Melani berdiri untuk bertukar posisi .Dalam batin, seharusnya dia tidak menerima pernikahan dengan wanita labil. Baru saja jadi suami istri secara hukum 3 hari, dia sudah melihat kepribadian Melani melebihi Josh umur 7 tahunan.
Cep... Ceppp....
Tangan besar itu menepuk pelan punggung, dan membelai rambut panjang. Layaknya ayah ke anak yang merajuk tidak dapat beli jajanan.
"Kalau kamu tidak tidur, bisa tambah jelek. Lebih baik, kamu tidur cantik" merebahkan tubuh kecil molek dan menyelimuti.
Melani sendiri tidak dengar jelas, matanya butek buram terlapis air mata, bahkan lupa wajah Wiliam habis di modifikasi sedemikian rupa.
Andai saja Wiliam sadar atau telah bercermin, mungkin tidak akan menolong gadis itu.
Sampai Melani mulai tenang, Wiliam merebahkan sejenak tubuh lelah di samping Melani yang berbaring setara.
Mata Melani tertutup, namun pikiran tertuju sama nominal 1,5 Miliyar rupiah.
Baru saja 3 jam Wiliam rebahan nyaman, pintu kamar itu diketuk.
Cekrekk....
"Selamat pagi, Tuan. Itu, wajah anda" sapa dan tunjuk Mbok menutup mulut yang tertawa.
"Kenapa?" galak wajah Wiliam.
"Gak ada apa-apa, kok" Mbok terdiam takut meski ingin tertawa.
"Terus ngapain masih berdiri" tanya galak Wiliam.
"Mbok ingin bangunkan Nona. Kata Nyonya, hari ini Nona yang akan buat sarapan" Mbok nunduk dari pada tak kuasa tahan tawa.
"Oh. Akan saya bangunkan" menutup pintu.
Langkah panjang itu berjalan membangunkan Melani yang mata semakin bengkak sembab, dan air mata masih mengalir.
"Ini cewek tidak saya apa-apakan, kok masih saja nangis" gumam Wiliam menoel tangan Melani.
"Heii, bangun. Pelayan kamu nunggu di dapur" ketus Wiliam menjulurkan jari telunjuk, test nafas kehidupan Melani.
"Gakk!!!" teriak Melani lompat bangkit, memeluk tubuh kekar itu.
__ADS_1
"Hei..Are you crazy?" mendorong tubuh Melani.
"Terserah kamu. Saya mau mandi dulu.Ingat kamu, yang meluk bukan saya yang kurang ajar" berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum menutup pintu kamar mandi, Wiliam masih perhatikan Melani duduk linglung. "Pasti terjadi masalah serius" menutup pelan pintu.
Sejenak Wiliam prihatin dan penasaran pada penyebab Melani, tapi.... begitu lihat cermin, wajahnya memerah marah. Pantas saja pelayan rumah menertawakan dirinya yang aneh dengan wajah berdandan.
Secepatnya dia bersihkan coretan make up, dan mandi.
Cekrekk....
Wiliam berjalan marah menuju Melani yang kini rebahan.
"Heii.... Apa maksud kamu lakukan ini. Ini ternyata taktik kamu menjatuhkan martabat saya" bentak Wiliam, mengelegar seisi rumah.
Orang-orang dalam rumah yang telah bangun, mendengar suara gaduh tersebut. Mereka berbondong-bondong menguping tidak berani campur tangan sebelum pemilik rumah.
"Ada apa ini" tanya ibu suri.
"Itu, Nyonya. Tuan ngamuk" Mbok nunjuk asal kegaduhan.
"Ah, mana mungkin" mengibas tangan, dan jalan mendekat.
Dalam kamar, Wiliam marah-marah tanpa peduli akan jadi apa pernikahan seumur biji kacang hijau mereka.
"Mel... Ini Mama, buka pintunya, Mel" ibu suri mengetuk cemas, takut Wiliam main tangan.
Cekrekk....
"Benar itu, Mbok?" tanya ibu suri.
"I-iya, Nya" Mbok nunduk takut lihat wajah tampan saat marah.
"Wiliam.Mama mewakili Melani minta maaf. Jika kamu ingin marahin Melani, Mama tidak akan halangi. Asal kamu tidak melakukan kekerasan fisik" ibu suri membungkuk minta maaf.
"Sudahlah. Lagian, saya yang salah telah setuju dengan pernikahan ini" masuk ambil jas, lalu keluar kesal.
Sarapan pagi indah mereka gagal. Perut terasa kenyang sama amukan Wiliam. Belum lagi lihat kamar itu berantakan.Laptop jatuh di lantai sampai terbagi dua, bantal dan guling berserakan di lantai.
Nyonya Wijaya tidak habis pikir dengan pola pikiran Melani. Sedari kecil telah di didik sebagai wanita dari kalangan terhormat, pendidikan bagus, sopan santun pada orang yang lebih tua.
"Mel, mengapa kamu jahilin suamimu?.Mama tidak mengajarkan anak-anak Mama bersikap tidak sopan pada pasang,apa lagi dia jauh lebih tua" menarik kasar turun selimut.
"Mel... Mel.... " panik ibu suri lihat Melani kaku tegang terbaring.
Sebenarnya apa yang terjadi pada kedua pasangan baru ini. Mengapa baru ketemu 1 malam keadaan semakin kacau?.Semua itu hanya bisa dijawab Melani dan Wiliam seorang.
Sebelum Wiliam keluar dari rumah mereka. Nyonya Wijaya menahan Wiliam.
"Mengapa anda mrnghalangi jalan saya" ucap dingin Wiliam tertahan.
__ADS_1
"Melani kejang" sahut ibu suri, wajah pucat ketakutan setengah mati.
Wiliam bukan suami tidak berperikemanusiaan, sesama manusia dia juga punya hati nurani.
Dengan langkah antara jengkel serta ibah, dia kembali masuk kamar tersebut.
"Daddy, Mami kenapa?" bocah berdiri mematung di depan pintu.
"Josh kamu sarapan sama Grandma dan Grandpa,lalu berangkat sekolah.Daddy mau bawa Mami ke rumah sakit" pesannya, sambil mengangkat tubuh Melani.
"Tapi ,Mami tidak apa-apa kan, Dedi?" memberi jalan.
"Humm... Kamu nurut sama Grandma ya" ngangguk dan lanjut jalan.
Sebagai seorang ibu, tentunya Nyonya Wijaya cemas akan keadaan putrinya. Namun atas usul sang suami, membiarkan kedua pengantin baru menangani bahtera rumah tangga baru mereka pula, maka Nyonya Wijaya nurut.
Josh pun diajak sarapan begitu sarapan selesai dibuat, serta diantar ke sekolah oleh Tuan Wijaya.
Nyonya Wijaya yang sedang menunggu telepon, akan pemberitahuan berita keadaan Melani duduk dengan cemas berteman si Mbok.
"Mbok, awake cemas iso orak opo-opo" mengeluh serta ngelus dada.
"Sabar Nya. Si Non pasti sembuh. Gusti pencipta akan menolong hamba baik Ke" Mbok duduk di lantai, memijit kaki majikan gemetaran.
.
...Di rumah sakit...
.
Hasil pemeriksaan dokter, menyatakan Melani mengalami depresi berat.
"Sebaiknya anda cari bantuan dokter spesialis psikiater dan paru-paru" dokter umum menyarakan pemeriksaan lebih detail.
Wiliam mengangguk paham.Dan menelpon seseorang membuat jadwal dengan dokter terbaik.
"Saya akan tiba 10 hari lagi.Pastikan semua telah terjadwal" titah Wiliam batal balik ke Amerika dengan waktu terbentur resepsi pernikahan mereka.
"Baik, Tuan" sahut orang diseberang.
Lalu Wiliam menelepon Nyonya Wijaya, memberitahukan kabar terbaru keadaan Melani,yang sudah terkendali dengan obat-obatan.
"Syukur, puji Tuhan. Wiliam, biar Mama yang jaga putri Mama,jika kamu hendak balik ke Amerika" Nyonya Wijaya dapat bernafas lega.
"Tidak perlu. Jadwal keberangkatan sudah di schedule ulang" Wiliam memijit kening capek.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.