
Bab 43
.
Kesalah pahaman yang menyenangkan bagi orang tua Melani,bukan bagi pasangan baru.
Begitu masuk kamar,Wiliam ingin menguasai kamar. Dia menyuruh agar Melani tidur di sofa asal bukan di tempat tidur. Aksi baku debat itu cukup panjang ,walau suara penuh penekanan pelan.
"Remember!!. Guest is king" memberikan bantal di tangan Melani.
"No...!! It's my room" tolak Melani menarik Wiliam bangkit dari tempat tidur.
Mereka saling tarik-tarikan,sampai pintu kamar.
Cekrekk....
Seseorang membuka pintu diam-diam dan hati-hati jangan sampai ketahuan. Namun,hal tersebut malah buat kedua orang yang beradu debat di dalam terjatuh,dalam posisi lebih salah bagi yang hendak ngintip.
"Upppsss.... Lanjutkan saja. Mama hanya mau bilang 'Selamat beristirahat'" ibu suri tersenyum semeringah. Lihat posisi Wiliam tertindih Melani.
"Ma,...Ini bukan seperti...." Melani berdiri cepat, rambutnya acak-acakan.
"Gak usah jelasin. Mama juga pernah muda dan alami. Sana temani Wiliam" bisik penuh godaan, sambil dorong tubuh Melani nempel balik ke tubuh kekar.
"Selamat istirahat juga,Ma" jawab Wiliam merapikan kemeja kusut.
"Ya. Malam juga Wiliam.Mama titip Melani" melambai dan tutup pintu.
Tangan Melani yang ingin keluar menjelaskan keadaan sesungguhnya,tertahan oleh Wiliam yang narik,dan kembali jatuh dalam pelukan tubuh kekar.
"Sepertinya kamu senang dengan dada bidangku" ejek Wiliam membiarkan Melani nemplok sampai malu sendiri.
"Idihh...Ckck... Siapa pula suka sama Om Om tua kayak anda.Gini-gini aku juga punya selera" sahut Melani tidak ingin kalah, mendorong sekuat dan lebih kuat dari sebelumnya tubuh kekar yang dekat.
Mereka berdua sama-sama pasang ancang-ancang,berlari menguasai tempat tidur tunggal. Siapa cepat dia yang dapat ,dalam situasi saat ini. Begitu Melani duluan menguasai tempat tidur miliknya tanpa peduli sudah mandi atau belum, dia kembali tersingkir sama Wiliam yang gendong dia ala bridal ke sofa.
"Kamu mau Mama-mu masuk dan lihat!!" ancam Wiliam menekan pundak Melani agar duduk patuh.
"Gak akan bisa!.Pintu sudah aku kunci!. Kalau tidak bisa menang ambil wilayah, jangan panggil aku Melani Wijaya" mata Melani mendelik lebar, cari celah untuk lepas dari tangan Wiliam menahan kedua pundak.
"Dasar keras kepala" ujar Wiliam, menatap balik manik mata indah saat marah.
"Sama" balas lawan.
Saat mereka hendak kembali merebut posisi, Melani mendapatkan sebuah mukjizat. Ponsel milik Wiliam berdering dengan ringtone lucu.
One little two little three, my handsome Daddy.
__ADS_1
four little five little six, my lovely Daddy.🎶🎶
Tentu sebelum ringtone lucu itu berakhir tuntas, Wiliam langsung menjawab panggilan. Dan Melani berhasil menguasai wilayah kedaulatan seutuhnya.
"Terserah kata dunia. Yang penting spring bed ini tetap jadi milikku" merentangkan tangan lebar,biar tidak direbut.
Melani mulai pejamkan mata dan narik selimut menutupi sampai batas hidung,saat Wiliam sedang berdiri menghadap jendela kamar, menjawab panggilan penelepon.
Wiliam berbalik usai menelepon sama orang di jauh. Kepala bergeleng lihat posisi tidur Melani memang memonopoli.
"Dasar bocah keras kepala" ucap Wiliam ambil bantal dan guling.
Lalu dia mandi membersihkan badan penuh lengket keringat sehabis baku debat, sebelum masuk mimpi.
Harap maklum, jika nginap tanpa bawa persiapan memadai. Sehabis dirinya mandi bersih, dia hanya mengenakan celana segitiga dan celana panjang yang tadi.
Sambil berbaring di sofa panjang, Wiliam menutupi bentuk tubuh yang masih kekar di usianya dengan bantal.
Dan keduanya masuk ke mimpi masing-masing cari ilham sendiri ,dalam keadaan lampu kamar terang menderang.
Tik tok... Tikk tok....
Jarum jam berputar terus, Melani terbangun dari tidur karena sesak buang air kecil. Di lihatnya jam alarm baru pukul 12.45 wib, dan ada punggung terbuka menghadapnya.
"Ihhh.... Kenapa gak pulang. Apa gak tau malu" Melani berjalan kesal, dengan kaki mengepit nahan buang air kecil.
Tetesan air pancuran shower dalam kamar mandi mengsentakkan tidur Wiliam. Punggungnya yang kebas dengan posisi tidur miring, beranjak berdiri pindah ke spring bed luas.
"Ini baru disebut tidur" Wiliam menarik selimut menutupi tubuh.
Baru beberapa menit Melani dalam kamar mandi, wilayah kekuasaan telah berpindah tangan.
Mungkin setelah Melani keluar dari kamar mandi, perang dunia akan bersambung kembali.
Dengan wajah fress dan tubuh segar kembali, serta piyama bersih, Melani keluar niat untuk sambung tidur.
Matanya yang udah jauh dari kata kantuk semakin tambah marah, lihat spring bed empuk di kuasai tanpa sepengetahuan dirinya.
Ingin ribut tengah malam juga mesti lihat kondisi. Gak mungkin akibat hal mudah sampai bangunkan seisi RT.
"Ahaa!!!. We see, what happen I can doing" Melani menaik turunkan alis dengan senyum licik dan tangan mencari sesuatu.
Beberapa menit kemudian....
"Finish. Anda sekarang jauh lebih tampan" Melani berkacak pinggang dan senyum licik menatap wajah Wiliam habis jadi bahan ejekan kalau lupa cuci muka.
Senyum puas buat Melani bersedia tiduran di sofa, namun dia teringat untuk lihat diagram candle statistik saham tadi sore.
__ADS_1
Tambah pusing sakit kepala ,Melani lihat diagram itu. Garis merah menunjukkan penurunan di bawah harga pembelian rata-rata.
"Kenapa minus ratusan" gumam cemas Melani, cari statistik aplikasi lain.
Terlalu setres pikiran Melani memikirkan kerugian semakin besar, dari pada peluang balik modal.
Asma yang biasa diambang normal dan bisa dikontrol cepat, malah menyerang Melani.
Satu tangannya terulur minta pertolongan pada lawan, satunya lagi menepuk pelan dada yang amat sesak nafas.
Orang yang dibangunkan entah sudah masuk dunia mimpi lapis keberapa, hingga tidak dengar nafas ngos-ngosan Melani.
Pranggg....
Laptop terjatuh dari pangkuan pahanya, dan orang yang tertidur nyenyak tersentak kembali.
"Suara apa itu?" Wiliam beranjak duduk.
Untungnya orang yang ada dalam kamar itu kebanyakan tidur ayam(tidur tidak terlalu pulas)
Mata Wiliam melihat Melani terbaring sambil nepuk dada. Dia pun beranjak berdiri dengan cepat. Belajar pengalaman dari ibu mertua yang juga baru kambuh tidak ada salah.
"Heii. Kamu dengar saya" menepuk pelan wajah cantik.
Tangan Wiliam membuka laci kaca hias, mencari obat dan alat nafas biasa digunakan.
"Kenapa gadis ini tidak menyimpan alat penyambung hidup sendiri" gerutu Wiliam, hanya dapat minyak kayu putih, mana hampir expairit date.
Wiliam membuka penutup botol,lalu hirupkan ke hidung Melani.
Beberapa saat kemudian...
"Bagimana,hum?" tanya Wiliam,bantu Melani duduk.
Melani ngangguk dengan mata berkaca-kaca, teringat kerugian mencapai 1,5 Miliyar rupiah.
"Sudah. Gak usah terharu. Saya ikhlas menolong" sahut Wiliam,beranjak pindah.
Bibir Melani mewek, air mata mengalir dari sudutnya, tekanan pikiran yang amat mendalam buat dia tidak mendengar setiap perkataan orang di samping.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua