Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
Ridwan teringat pertemuannya dengan Serly


__ADS_3

Saat melihat ke arah Serly Ridwan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, dan Serly hanya bisa melirik ke arah Ridwan.


"Teman - teman ayo naik, hari sudah larut." ucap teman Ridwan sambil menarik Ridwan naik ke atas bus, dan Ridwan terus menatap wajah Serly dari kejauhan.


Saat di kampus saat Serly sedang mengisi lembar soal dengan menulis tangan kirinya. tiba-tiba angin kencang datang dan menerbangkan kertasnya.


"Hei .. tidak." teriak Serly sambil berlari mengejar lembaran kertasnya.


"Hai nyonya." ucap seorang cowok kampus yang menjadi kakak kelasnya yang sedang duduk di atas keretanya.


"Hei, kau kami memanggil anda."ucap cowok itu kepada Serly dan kemudian Serly berjalan mendekati mereka.


"Hei kau kemari dan berdiri di sini, siapa nama mu." ucap kakak kelas Serly yang bernama William.


"Serly." ucap Serly ketakutan.


"Jurusan kuliah apa yang kau lamar." ucap William sambil menatap wajah Serly.


"Kakak bertanya padamu, ayo jawab." ucap teman Wiliam.

__ADS_1


"Kalau tidak maukah kau berdansa." ucap teman William sambil tertawa.


"PKPA." ucap Serly sambil melihat kakak kelasnya menertawakannya.


"Hei.. apakah kau dari Tanggerang." ucap William sambil tertawa.


"Ya." ucap Serly.


"Lihat wajahnya membaca, wow wanita yang luar biasa, coba tanyakan dia apakah dia telah pubertas." ucap William kepada temannya.


"Hahaha." semua teman - teman William mentertawakan Serly.


"Apakah ini caramu meninggalkan formulir?.anda biarkan terbang." ucap Ridwan sambil memberikan kertas formulir kepada Serly.


"Hei.. kawan siapa anda gadis ini." ucap William sambil menatap wajah Ridwan.


"Saya kenal dia di Surabaya, anak kawan dari ayah saya." ucap Ridwan kepada Wiliam dan teman- temannya.


"Serly pulanglah, saya akan pulang sore nanti, sampaikan salam saya kepada ayah anda." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.

__ADS_1


"Hem.." ucap Serly sambil menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Ridwan dan William.


"Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami sebelumnya." ucap Wiliam sambil menatap wajah Ridwan.


Mendengar perkataan Ridwan Serly sangat senang, kemudian Ridwan kembali sadar bahwa dia telah sampai di depan apartemen Serly dan kemudian Ridwan keluar dari dalam mobilnya dan menjumpai tetangga Serly yang bernama pak Amri dan nyonya Diana


Setelah itu Ridwan mulai memasang voice recorder dan meletakkan di atas meja dan nyonya Diana mulai menceritakan tentang Serly


"Pada mulanya, Serly selalu datang kepada saya dengan memanggil tante, kemudian sikapnya berubah, setelah seseorang datang ke rumah Serly, ku dengar dia teman Serly dia berkelakuan seperti dia tidak mengenal Serly, seluruh orang apartemen mengetahuinya dan suaminya juga mengetahui tentang ini, kasihan nya apa boleh dia lakukan, dia telah meninggal." ucap nyonya Diana.


"Kau mengatakan seseorang kerap datang ke apartemen Serly, boleh nyonya beritahu rupanya?." ucap Ridwan sambil menatap wajah Diana.


"Pak saya tidak tahu apa - apa tentangnya saya dan istriku adalah seorang pengajar di kampus, kami pergi kerja jam 8 pagi dan kami pulang sekitar jam 7 malam." ucap pak Amri sambil menatap wajah Ridwan.


"Seperti yang saya katakan semua gosip tentang gadis itu benar." ucap Diana sambil berjalan ke arah dapur.


"Itu anak anda." ucap Ridwan sambil melirik ke seorang gadis yang duduk bermain laptop.


"Iya pak, dia tahun pertama di kuliah bagian komputer, apakah anda mau bercerita dengannya." ucap pak Amri sambil menatap wajah Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2