
"Tetapi pada hari kami berpisah aku pindah, itu sebabnya aku tidak menceritakan kepadamu aku minta maaf." ucap Serly sambil meneteskan air matanya dan menundukkan wajahnya.
"Lupakan, tidak apa - apa." ucap Angga sambil menatap wajah Serly dan merangkulnya.
"Sekarang aku merasa sangat ringan." ucap Serly sambil menyandarkan kepalanya di dada Angga sambil tersenyum bahagia.
"Bisakah kau membuatkan ku secangkir kopi." ucap Angga sambil merangkul pundak Serly.
Keesokan harinya seperti biasa Serly menjemur pakaian dan Serly mendengar Sabina sedang bertelepon.
"Hei, kau tidak tahu apa yang harus di bicarakan melalui telepon besok adalah hari minggu ayah dan ibu ada di rumah jangan datang, oke much sampai jumpa." ucap Sabina sambil menutup telepon dan berjalan melewati Serly.
"Sabina." ucap Serly sambil berjalan mendekatinya.
"Apa kakak." ucap Sabina sambil menghentikan langkahnya.
"Siapa yang menelepon?." ucap Serly sambil menatap wajah Sabina.
"Pacar." ucap Sabina sambil menatap wajah Serly.
__ADS_1
"Pacar berarti.." ucap Serly sambil memegang pakaian ditangannya.
"Kekasihku." ucap Sabina sinis.
"Tolong jangan salahkan aku karena mengatakan ini, kamu masih seorang gadis muda, pada masa ini kau tidak dapat membedakan antara cinta, ****, kegilaan, ketika kedua orang tua berkerja untuk anda dan rumahmu itu untuk pendidikan mu harap dipahami." ucap Serly sambil mengangkat kain jemurannya.
"Kau tidak perlu menasehati aku." ucap Sabina sambil menatap wajah Serly.
"Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah dan merasa buruk di masa depan kemudian tapi terserah mu." ucap Serly sambil berjalan meninggalkan Sabina.
"Selvi, segerakan selesaikan pekerjaan dan pergi ke rumah bibi Diana dia menelepon saya sudah 2 kali." ucap Serly sambil berjalan mendekati Selvi yang sedang mencuci piring.
"Hu..hu.." Isak tangisan Selvi.
"Apa yang terjadi." ucap Serly sambil memegang lengan Selvi dan menatap wajahnya.
"Aku tidak akan pergi ke rumah itu." ucap Selvi sambil terisak menangis sampai duduk dilantai.
"Apakah bibi memarahi mu?." ucap Serly sambil jongkok dan menatap wajah Selvi.
__ADS_1
"Tidak." ucap Selvi sambil meneteskan air matanya.
"Lalu apa yang terjadi, katakan padaku." ucap Serly sambil menatap wajah Selvi dan dengan rasa takut Selvi menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Kau telah meminta uang kepada bibi kan?." ucap pak Amri sambil membaca koran.
"Iya pak." ucap Selvi sambil berdiri di hadapan pak Amri.
"Kau bisa meminta kepadaku, ada di dalam buku itu ambillah." ucap pak Amri sambil membaca koran, lalu Selvi membuka buku yang gambar wanita telanjang dan mengambil uangnya dan lalu berjalan.
"Buku itu juga untukmu." ucap pak Amri sambil menghentikan langkah Selvi.
"Berapa lama kau menonton film seperti Miyabi itu bukan hanya untuk menonton kau tahu itu untuk apa?." ucap Selvi sambil menangis, mendengar cerita Selvi Serly mulai marah kepada pak Amri.
Paginya seperti biasa Serly selalu menyiapkan tas Angga.
"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah kau pergi bekerja, saya merasa bosan." ucap Serly sambil memasukkan dokumen kedalam tas Angga.
"Apakah kau sendirian di sini? kau memiliki paman Amri, bibi Diana, Sabina dan tetangga lainnya." ucap Angga sambil menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Aku tidak suka berada di sini dengan orang - orang itu." ucap Serly sambil menatap wajah Angga.