
"Mereka telah melakukan apa yang kau rencanakan, mereka telah mengadukan keluhan terhadapmu, bacalah." ucap pak Bambang sambil memberikan sebuah amplop berisi surat keluhan.
"Ketika kau di Surabaya kau jatuh cinta kepada seseorang gadis bernama Serly karena orang tuanya tidak setuju, kalian berdua putus, jadi sekarang kau mencoba membalas dendam dengan mencurigai suami Serly membunuh istrinya." ucap pak Bambang sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sambil menatap ke arah Ridwan yang sedang membaca surat keluhan Angga.
"Angga telah menyatakan dia tidak tertarik pada Ridwan untuk menangani kasus ini." ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.
Malam harinya Steven berkunjung di villa Angga dan duduk di dekat kolam renang.
"Kemanapun aku pergi aku merasakan kehadirannya." ucap Steven sambil ketakutan.
"Siapa yang kau bicarakan." ucap Angga sambil menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
"Serly, di kantor, di rumah, bahkan di sini, bahkan aku merasa dia ada di sini." ucap Steven ketakutan.
__ADS_1
"Kamu mengatakan bahwa dia ada di sini, tapi disini hanya kau, dan aku siapa lagi yang ada disini katakan padaku?, hei aku membawamu kesini untuk bersantai dari ketegangan kantor bahkan kau disini tidak santai dalam bisnis Renovasi kami memiliki 100 pelanggan, kemudian keterlibatan aku dengan Ridwan dalam kasus Serly telah setengah terpecahkan, ada begitu banyak untuk dinikmati tapi kau." ucap Angga sambil menikmati minumannya.
"Hei, kau tidak mengerti? orang - orang yang disekitar mu sudah sekarat, Serly adalah alasannya, bahkan kau akan mati di tangannya." ucap Angga sambil menatap wajah Angga dengan ketakutan.
"Mereka bilang aku punya masalah dengan air pada usia 10 tahun, jika aku tidak mati waktu itu apakah aku harus mati sekarang." ucap Angga mencoba menyakinkan Steven agar supaya tidak takut.
"Bagaimana jika dia membunuhmu?, Sani berada bersama Ridwan." ucap Steven sambil menatap wajah Angga
"Dia tidak akan melakukan." ucap Angga sambil menunduk wajahnya.
"Bagaimana jika aku sendiri yang mengatakan?." ucap Steven sambil menatap wajah Angga.
"Pernah kau mendengar seseorang akan mulai mengoceh ketika mabuk, tapi sekarang aku mengerti, mereka akan membicarakan semua yang mereka pikirkan." ucap Angga sambil memukulkan botol minuman ke kepala Steven sehingga mati dan tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Kau berbicara tentang psikologi tapi kau tidak memahami karakter aku tapi kau memberikan tip yang berguna, Sani." ucap Angga sambil menatap wajah Steven yang berlumuran darah.
"Inilah waktu yang dibutuhkan untuk penyelidikan." ucap Ridwan sambil duduk di ruang rapat bersama petugas kepolisian lainnya.
"Kau telah menyalahgunakan profesi untuk suka dan tidak suka dalam urusan pribadimu." ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.
"Tidak seperti itu pak."ucap Ridwan sambil menundukkan wajahnya.
"Ya seperti itu." ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.
"Apakah kau mencurigai saya?." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak Bambang.
"Jika di berikan dia akan mengatakan bahwa Serly adalah saksi mata?." ucap petugas yang lain.
__ADS_1
"Apakah kau percaya jika aku yang mengatakannya, jika aku bertemu dengan Tuhan secara pribadi, kalian tidak percaya, ucap Ridwan sambil menatap petugas polisi yang lain.
"Kami belum menerima klarifikasi dari anda tentang kasus ini, jadi kami memutuskan untuk menyerahkan kasus ini ke AKP Ali, kapan pun dia membutuhkan, kau dapat membantunya sebagai petugas yang berbakti." ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.