Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
kecemburuan Sani kepada Maya.


__ADS_3

"Tak seorangpun bisa membayangkan ."bisik Ibrahim kepada Ali sambil menatap kearah Maya yang memberikan obat kepada Abi.


"Bahwa dia seorang bandit yang sangat berbahaya." ucap Ali sambil menatap kearah Abi dan dan Maya.


"Tidak, iya punya istri yang seksi." ucap Ibrahim sambil tersenyum.


"Karenanya aku dapat bertahan." ucap Abi sambil memegang tangan Maya dan menciumnya.


"Cukup sudah pujiannya, ayo minum." ucap Maya sambil memberikan obat dan gelas yang berisi air putih ke Abi.


"Kalau adegan romantisnya sudah selesai maka, kita bisa kembali bekerja." ucap Ridwan sambil menatap wajah Maya.


"Oh.. aku takut, tanganku gemetaran." ucap Abi Khadafi sambil tersenyum lebar ke arah Ridwan.


"Dengar petugas..,kau tak usah berlagak sok suci, ini hanya nomor satu yang ditembus oleh koruptor dan politisi di negaraku mereka ingin kasusnya terhenti sampai Abi Khadafi saja mereka mencari kambing hitam dan akulah yang mereka pilih." ucap Abi Khadafi sangat emosional sambil menatap wajah Ridwan.


"Apa kalian tidak mengerti, sialan..aku tidak melakukan apa-apa." teriak Abi Khadafi sambil menangis

__ADS_1


"Abi tenanglah." ucap Maya sambil mengelus pundak Abi Khadafi.


Mendengar hal itu Ali pergi meninggalkan Abi Khadafi dan menelpon ibu Hartati yang sedang di dalam perjalanan ke kantornya.


"Jangan percaya mereka, efek setelah demonetisasi itu bahkan lebih penting dari pada kamu membawa Abi Khadafi kembali ke Indonesia, jika terjadi sesuatu padanya di luar sana, maka rakyat sangat marah, ini bisa memicu kegaduhan." ucap ibu Hartati sambil menatap jalan.


"Ya." ucap Ali


"Bawa ia kembali ke Indonesia dengan selamat." ucap ibu Hartati sambil memutuskan teleponnya.


Setelah itu Ali berjalan menghampiri Ridwan, Sani dan Ibrahim yang lagi duduk di ruang tamu.


"Ikuti perintahku, Abi lebih cerdas dari yang kau pikirkan, jadi kau tidak usah memeras otakmu." ucap Ali sambil berdiri di dekat Ibrahim.


"Ikuti saja perintahku." ucap Ali sambil menatap Ridwan yang tersenyum manis kepadanya, melihat itu Ali lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga di ruangan.


"Setelah ku amati kau benar-benar terpesona dengan istrinya." ucap Sani sambil menatap wajah Ridwan.

__ADS_1


"Naluri seorang bidan dan wanita, apa aku salah, katakan?."ucap Sani sambil tersenyum melihat Ridwan yang hanya termenung.


"Ibrahim, bukankah pak Azis menyerahkan laptop Abi kepadamu." ucap Ridwan sambil menatap Ibrahim.


"Ya." ucap Ibrahim.


"Mari kita selesaikan tugas kita."ucap Ridwan sambil berdiri dari tempat duduknya lalu pergi berjalan bersama dengan Ibrahim meninggalkan Sani sendiri di ruang tamu.


Ridwan dan Ibrahim duduk di belakang penginapan yang pemandangannya ada pantai yang sangat indah, dan di sana ada sebuah tempat duduk dan Ibrahim mulai mencari informasi tentang Abi Khadafi beserta istrinya.


"Bersih." ucap Ibrahim sambil melepaskan kacamata dan meletakkan di atas meja.


"Dia melenyapkan semuanya, dan mereset ulang sistemnya." ucap Ali sambil menatap wajah Ridwan.


"Abi Khadafi harusnya jadi anggota tindak pidana kejahatan cyber." ucap Ibrahim sambil tersenyum lebar.


"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu Ibrahim, apa yang merasuki pikiranmu Abi Khadafi." ucap Ridwan sambil menatap Ibrahim.

__ADS_1


Malam harinya, saat Ali sedang duduk bersandar di dinding kasurnya sedang memegang laptop, tiba-tiba ponselnya berdering di atas meja.


"Halo, pak Azis."ucap Ali sambil menghentikan pekerjaannya.


__ADS_2