
"Bisakah kau memberikan waktu untukku ayahku." ucap Serly sambil menatap wajah Ridwan.
"Aku bisa menunggu selama bertahun-tahun tapi aku tidak sabar menunggu ayahmu." ucap Ridwan sambil mengambil handuk kecil dari tasnya.
"Dia adalah ayahku, mengapa kau tidak mengerti, saya tidak bisa mengambil keputusan terburu-buru, aku bisa meninggalkan ayahku, apakah kau tidak memikirkan Sheila" ucap Serly sambil menyakinkan Ridwan dan terduduk di kursi.
"Apakah kau tidak memikirkan ku?." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ridwan.
"Aku sudah memberitahumu untuk tidak memikirkan kawin lari, mendaftarkan pernikahan dan kamu bilang kita bisa menyakinkan tapi sekarang, Ridwan ayahku tidak pernah mengatakan kalau dia tidak menyukaimu." ucap Serly sambil menatap wajah Ridwan.
"Ayah mu bilang dia tidak menyukaiku." ucap Ridwan sambil melemparkan handuk kecil ke tasnya.
"Tidak, tidak seperti itu Ridwan, kau ingin bercita - cita sebagai polisi dan kau tidak mungkin meninggalkan itu dan bahkan saya tidak meminta kau meninggalkan profesi mu, bahkan aku tidak bisa meninggalkan mereka dan yang datang." ucap Serly sambil tertunduk.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?." ucap Ridwan sambil mendekati Serly.
__ADS_1
"Beri ayah waktu, dan coba bicara lagi dengannya, ayah ku akan mengerti." ucap Serly sambil menatap wajah Ridwan.
"Bagaimana jika ayahmu tidak pernah akan setuju?." ucap Ridwan
"Tidak.. tidak ayahku akan setuju." ucap Serly.
"Bagaimana jika tidak setuju, katakan padaku, katakan padaku." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.
"Aku tidak bisa mengatakan Ridwan, tapi aku pasti akan bicara padanya." ucap Serly
"Kamu akan melakukan apa yang dikatakan ayahmu, jadi minta surat penolakan sebelum jatuh cinta, aku memikirkan sesuatu yang lain ketika kau mengatakan persahabatan, cinta, hubungan dan aku baru sadar itu hanya agar kau aman di kampus, dan bisa memilih lelaki yang sesuai dengan pilihan orang tuamu,
"Apa yang kau katakan Ridwan." ucap Serly sambil berdiri dari tempat duduknya dengan mata berkaca- kaca.
"Kenapa anda bisa berfikir dan berkata seperti itu tentang saya." ucap Serly sambil menangis.
__ADS_1
"Ya bahkan kau memiliki mentalitas wanita biasa, semua yang kau katakan kepadaku bohong, aku telah ditipu, aku sudah paham." ucap Ridwan membalikkan badannya.
"Apakah hanya itu yang kau mengerti tentang diriku? tapi aku sangat memahami mu, seperti apa kau, apabila saya menikahi seseorang saya tidak akan memikirkan dirimu , kau katakan apa yang aku lakukan dan katakan selama ini kepadamu adalah bohong, lalu kenapa kau tidak tinggal aku." ucap Serly sambil menangis dan lalu pergi meninggalkan Ridwan.
"Serly." ucap Ridwan sambil menarik tangan Serly.
"Tinggalkan aku Ridwan." ucap Serly sambil menghempaskan tangan Ridwan.
"Maaf, aku tidak akan menyebut namamu." ucap Serly lalu berjalan meninggalkan Ridwan, dan hujan turun membasahi Ridwan.
Setelah itu Sani datang mendekati Ridwan sambil memegang payung agar Ridwan tidak terkena hujan.
"Aku selalu mendukungmu." ucap Sani dan mendengar hal itu Ridwan langsung memeluk Sani.
"Terimakasih sayang, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku." ucap Ridwan sambil menangis di pelukan Sani.
__ADS_1
Sore harinya angin bertiup sangat kencang pak Amri yang sedang membawa payung dan asik bertelepon dengan temannya.
"Rumah putriku ada di sini, setiap aku merasa bosan aku akan kerumahnya hanya perjalanan 5 menit sudah sampai di rumahnya." ucap pak Amri sambil berjalan dengan memegang payung.