Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
Ridwan di pengadilan


__ADS_3

"Ini bohong." ucap Ridwan sambil menunjuk ke arah Hendri.


"Semua ini bohong pak aku tidak pernah meminta Hendri pergi ke bar dekat bandara dan malam itu kami tidak ada di sana." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak hakim


"Tok..tok." pak hakim langsung mengetok palunya


"Please..." ucap pak hakim sambil menatap wajah Ridwan.


"Harap tenang kau akan diberikan kesempatan berbicara."ucap petugas penterjemah sambil menatap wajah Ridwan yang sangat emosional.


"Ridwan tahu bahwa calon istrinya Sani tidak menyukai minum terlalu banyak, setelah itu mereka berdua ke bandara dengan mobil Hendri."ucap penterjemah bahasa Indonesia kepada pak hakim.


"Dua setahuku hanya seorang." ucap pak Joko sambil melihat jari telunjuk dan jari tengahnya sambil berkata sendiri kebingungan.


"Dan saat tiba di sana Hendri mengetahui bahwa ia melupakan dompet dan kartu kreditnya, Ridwan juga menggunakan kesempatan ini dan mengatakan bahwa ia juga telah melupakan dompetnya dan dompetnya ada pada Sani ia meminta Hendri untuk menunggu di bar dan dia pulang untuk mengambil dompetnya." ucap petugas penterjemah sambil menatap wajah pak hakim.

__ADS_1


"Sendiri tapi yang datang itu dua orang." ucap pak Joko berbicara sendri.


"Hendri menunggu di bar hanya seorang diri hingga jam 5 pagi dan Ridwan tidak pulang ke rumah melainkan ke rumah Hendri dimana hanya ada Novi sendirian." ucap pak penterjemah mendengar hal itu hati Sani sangat hancur sehingga meneteskan air mata di pipinya.


"Dia pikir dia mempunyai kesempatan untuk memuaskan keinginannya tetapi Novi menolak keinginannya dan di saat itu pula dia memukul Novi dengan menggunakan botol minuman hingga dia meninggal dunia." ucap petugas penterjemah sambil menatap wajah pak hakim


"Semua ini bohong, semua ini permainan Hendri dia hanya ingin menjebak ku." ucap Ridwan sambil berdiri dari tempat duduknya sambil menunjuk ke arah Hendri.


"Petugas penterjemah tolong di lanjutkan." ucap pak hakim sambil menatap wajah Ridwan.


"Your excellence pengacara


"Yang mulia untuk membuktikan kebenaran atas semua yang kukatakan aku telah membawakan bukti botol yang dipakai untuk memukul Novi di botol ini hanya ada sidik jari Ridwan." ucap petugas penterjemah melihat botol itu Ridwan langsung teringat kejadian malam itu


"Kau yang harus meminumkan." ucap Hendri sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Aku yang meminumkan, ini dia." ucap Ridwan sambil meminumkan ke mulut Hendri.


"Now i will call witness." ucap pengacara sambil menatap pak hakim.


"Sekarang aku akan memanggil saksi pertama Sani." ucap petugas penerjemah.


"Silahkan." ucap pak hakim lalu Sani berdiri dari duduknya dan berjalan ke meja saksi.


"Aku tahu yang pergi itu satu orang tapi yang kembali itu dua orang pasti ada yang tidak benar disini LP." ucap pak Joko sambil membuka kaca matanya dan membersihkannya dengan dasinya lalu berbisik kepada istrinya.


"Kalau kau tidak memakai kacamata dasi mu pun akan terlihat LP, dasar konyol, apa yang bisa kau lihat dimalam hari kalau begini." ucap istri pak Joko sambil menatap wajah pak Joko.


"Hush..." ucap pak Joko sambil menenangkan istrinya.


"Nyonya Sani apakah malam itu Hendri datang ketempat mu?." ucap petugas penerjemah sambil menatap wajah Sani.

__ADS_1


__ADS_2