
"Ali benar ini pasti sebuah jebakan, kalian berdua harus mengeceknya segera." ucap Abi sambil menatap wajah Ali dan Frenky.
"Keesokan harinya Ali dan Frenky pergi kekantor polisi dan melihat Sani dan Ridwan dikawal dari kantor polisi sampai ke bandara, setelah itu Ali dan Frenky pulang menemui Abi.
"Mereka telah pergi kami menyaksikannya sendiri." ucap Frenky sambil menatap wajah Abi.
"Tapi kita tak boleh mengambil kesempatan." ucap Ali sambil menatap wajah Abi.
"Frenky benar, tinggalkan Delon seorang diri." ucap Abi sambil menatap wajah Ali.
"Sekarang Abi tak mau mengambil resiko mengawasi Delon." ucap Ridwan sambil menatap wajah Sani yang sedang berada di sebuah ruangan.
"Delon sekarang pasti melakukan aktivitas, yang mana itu sangat penting untuk pencucian uang gelap, waktu kita hanya satu hari." ucap Ridwan sambil menatap wajah Sani.
__ADS_1
Ridwan dan Sani mulai mengawasi Delon dari rumah sampai Delon nongkrong di sebuah kafe dengan bermain laptop, saat Delon keluar dari kafe, Delon merasa ada seseorang yang mengikutinya, saat di lihatnya ke belakang, Ridwan langsung menarik tangan Sani dan langsung mencium bibir Sani agar Delon tidak curiga.
Setelah Delon melihat tidak ada yang mengikutinya, Sani dan Ridwan melepaskan ciumannya, saat itu Sani sangat bahagia sekali, dan Ridwan mulai mengikuti Delon masuk ke ruangan death recorder, dan Delon berjalan lagi masuk ke ruangan Morgan dan setelah itu Delon berjalan ke pemakaman orang Kristen dan di sana Ridwan dan Sani melihat Delon asyik memotret nama pemakaman.
"Ada hubungan antara keduanya yakni Alkitab dan tempat itu." ucap Ridwan sambil menatap ke arah Delon.
"Apa yang sedang ia lakukan." ucap Ridwan sambil menatap ke arah Delon yang sedang mengetik ponselnya.
"Dia tidak melakukan apapun dan kita juga?." ucap Sani sambil tersenyum manis menatap Ridwan.
"Lupakan saja... biarlah." ucap Sani menghentikan senyumannya.
"Pindah..iya beranjak dari tempatnya.. kau tahu apa yang harus kau perbuat." ucap Ridwan sambil menatap wajah Sani.
__ADS_1
Setelah itu Delon singgah lagi di sebuah kafe dan mengerjakan tugasnya, dan Sani duduk di bangku belakangnya mengawasi Delon, sedangkan Ridwan sudah berada di depan pintu rumah Delon, dan mencari kunci di balik papan nama ada kunci rumahnya, setelah itu Delon lalu membuka pintu rumah dan masuk kedalam.
Sani yang jenuh sendiri mengawasi Delon menelpon Ridwan, saat Ridwan sedang mencari informasi di rumah Delon tiba-tiba teleponnya berdering dan ternyata dari Sani.
"Ya beritahu aku, apa kau menemukan sesuatu?." ucap Sani sambil meminum jusnya.
"Tak ada apa- apa disini." ucap Ridwan sambil memeriksa buku- buku, lemari, dan laci meja Delon.
"Sama, aku tak mengerti satupun item pada daftar menunya, jadi aku tunjukkan sesuatu, sekarang aku sedang meminum sesuatu yang rasanya seperti racun." ucap Sani sambil memegang gelas minumannya.
"Apa itu alkohol?." ucap Ridwan sambil memeriksa laci meja Delon.
"Bukan.. aku tahu betul bagaimana rasa alkohol." ucap Sani mendengar itu Ridwan lalu memasukkan ponselnya kedalam saku jens nya, setelah itu Ridwan melihat ada sebuah album foto terletak di atas meja, lalu Ridwan memperhatikan foto - foto itu dan mulai memikirkan apa yang direncanakan Delon.
__ADS_1
"Sepertinya memiliki ketertarikan pada orang mati, dimana Alkitab nya." ucap Ridwan terus mencari di setiap sudut ruangan.