
"Jadi itu Ridwan, silahkan duduk." ucap pak Suyatno sambil membaca surat laporan autopsi.
"Terimakasih pak." ucap Ridwan sambil duduk di kursinya.
"Sepertinya kita memiliki kasus yang terbuka dan tertutup, kita dapat menginformasikan kepada pers, bagaimana menurutmu." ucap pak Suyatno sambil menatap wajah Ridwan.
"Pak, tapi kita harus mengambil pendapat yang ahli dalam kasus ini Alex adalah orang yang berpengaruh maka kita harus menunjuk satu orang di departemen kita." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak Suyatno.
"Pendapat ahlinya." ucap pak Suyatno sambil bersandar di kursinya.
"Ya pak, menurut saya Mr. Adi." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak Suyatno.
"Menurut mu pelatih akademik kepolisian, pelatih kebugaran mental kedengarannya bagus, ya silahkan, terus kabari aku." ucap pak Suyatno.
"Terimakasih pak." ucap Ridwan sambil tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya dan pergi berjalan keluar dari ruangan pak Suyatno.
Maria yang sedang asyik memberikan tanda titik dengan lipstik di kaca tiba - tiba Siska masuk kedalam kamarnya.
"Kau tak boleh mencoret kaca itu sesukamu." ucap Siska sambil menatap wajah Maria.
__ADS_1
"Kau hanya perawat disini bu Luna bilang semua ini milikku cermin ku dan lipstik ku adalah milikku." ucap Maria sambil menatap wajah Siska.
"Apa masalahmu aku tidak ingin berdebat denganmu pakai ini, bersiaplah, sudah waktunya ultrasonografi (USG) mu." ucap Siska sambil memberikan pakaian ganti kepada Maria, setelah itu Maria lalu mengganti pakaiannya dan kemudian Siska mengajak Maria untuk keluar dari kamarnya.
"Kau harus makan, yoga dan tidur yang teratur semuanya harus tepat waktu." ucap Siska sambil berjalan yang di ikuti Maria dari belakang.
"Kau tidak bisa berkeliaran sesukamu." ucap Siska tanpa mengetahui Maria telah memperhatikan daerah yang di pasang cctv
"Atau Bu Luna tidak membiarkanmu, apa yang kau lihat." ucap Siska menoleh ke belakang.
"Ruangan USG" ucap Maria menunjukkan tempat pemantauan bayi."
"Ya aku tahu." ucap Siska sambil mengeluarkan s
"Masuk." ucap Siska dan Maria berjalan masuk kedalam ruangan dan di sana sudah duduk seorang dokter bernama Indra yang sedang melihat ke arah komputer.
"Berbaring." ucap Indra sambil melihat ke arah Maria.
"Berbaring keatas tempat tidur." ucap Indra dan Maria pun berjalan setelah itu lalu berbaring di tempat tidur pasien.
__ADS_1
"Buka kancing bajunya." ucap Indra sambil melihat ke arah komputer.
"Apa?." ucap indra sambil menatap wajah Maria.
"Aku ingin perempuan." ucap Maria sambil menatap wajah Indra.
"USG akan menentukan itu laki- laki atau perempuan." ucap Indra sambil tersenyum.
"Bukan itu, aku ingin dokter perempuan." ucap Maria sambil menatap wajah Indra
"Apa gender itu penting? Dokter adalah dokter." ucap Indra mendengar hal itu Maria lalu membuka kancing bajunya.
"Apakah boleh menutup mata sedang melakukan USG?." ucap Maria sambil menatap wajah Indra yang sedang mengoleskan gel di perut Maria.
"Bagaimana cara USG dengan mata tertutup?." ucap Indra sambil menatap wajah Maria.
"Tidak, bolehkah aku memejamkan mata?" ucap Maria sambil menatap wajah Indra
"Terserah." ucap Indra sambil menempelkan transducer di perut Maria dan gelombang dari transducer akan di rekam dan di ubah menjadi gambar pada monitor.
__ADS_1
"Jantungku berdebar." ucap Maria sambil menutup mata.
"Itu bukan detak jantungmu, detak jantung bayimu." ucap Indra sambil melihat gambar pada monitor.