
Setelah itu pergi meninggalkan Ridwan, dan mengambil keranjangnya.
"Apa yang kau lihat." ucap Hendri sambil berjalan mendekati Ridwan yang melihat kearah Novi yang sedang membawa keranjang.
"Tidak ada." ucap Ridwan sambil berjalan menjauh dari Hendri.
"Katakan saja kalau kau sedang melihat istriku." ucap Hendri sambil memakan roti yang ada dimeja.
"Apa yang kau katakan." ucap Ridwan sambil menatap wajah Hendri.
"Tidak masalah kalau kau sedang melihatnya, Novi memang sangat menarik orang yang melihatnya selalu terpesona." ucap Hendri sambil menatap kearah Novi dan Sani.
"Hem.. enak sekali." ucap Sani sambil memberikan es krim kepada Novi.
"Boleh ku beritahu, calon istrimu lebih baik dari istriku, apa kau ingin tahu apa alasannya, pacarmu itu seperti gelas kaca ini, dan semuanya akan terlihat sangat jelas dan dia ada di tanganmu." ucap Hendri sambil menuangkan minuman kedalam gelas kosong.
__ADS_1
"Sedangkan istriku bagaikan es batu ini, kita merasa bahwa kita bisa menggenggamnya tapi lihat ternyata tidak." ucap Hendri sambil ces kan gelasnya ke gelas Ridwan.
"Hem.. aku akan menceritakan lelucon." ucap Hendri sambil menarik tangan Ridwan dan mengajaknya duduk di dekatnya.
"Aku punya teman di Jakarta yang bernama Arjuna dia mempunyai tetangga yang akrab sekali seperti kita namanya Anto kau tahu apa yang terjadi satu malam Arjun pergi ke tempat istrinya Anto, dan Anto ketempat istrinya Arjun apa kau mengerti." ucap Hendri.
sambil menyilang kedua jarinya.
"Apa - apaan ini, apa ini lelucon." ucap Ridwan dengan nada marah.
"Omong kosong apa ini." ucap Ridwan sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ridwan kita berdua ada di Merkurius disini tidak ada yang mengenal kita, bagaimana jika malam ini kau bersama dengan Novi aku bersama dengan Sani." ucap Hendri sambil membisikkan ke telinga Ridwan.
"Diam kau..aku tidak pernah berpikir seperti itu." ucap Ridwan sambil memegang kerah baju Hendri dan menyandarkan tubuh Hendri ke mobil.
__ADS_1
"Berani sekali kau memandang calon istriku seperti itu." ucap Ridwan sambil menatap wajah Hendri dan lalu Hendri mendorong tubuh Ridwan agar menjauh darinya.
"Dasar orang kampungan kau yang berhati kotor, paling tidak aku mengatakan apa yang aku rasakan, tapi kau sebaliknya berani melihat tubuh istriku tapi kau berpura - pura bersikap baik, tapi hari ini aku mengatakan sebetulnya tapi kau marah - marah." ucap Hendri langsung Ridwan menarik kerah baju Hendri.
"Kenapa kau emosi." ucap Hendri sambil mereka berdua berguling - guling di pasir, melihat itu Sani dan Novi mencoba melerai keduanya.
"Ridwan.." apa yang kau lakukan." ucap Sani sambil memegang pundak dan tangan Ridwan.
"Lepaskan Hendri, cukup." ucap Novi sambil memegang pundak Hendri, dan keduanya pun melepaskan kerah baju masing-masing
"Apa yang sedang kau lakukan." ucap Sani sambil menatap wajah Ridwan.
"Aku tidak apa-apa, ayo kita pergi dari sini." ucap Ridwan sambil merangkul pundak Sani dan berjalan meninggalkan Hendri dan Novi.
Sedangkan pak Joko dan pak Dono sedang asyik memperbaiki rumah pak Joko.
__ADS_1
"Kita adalah orang Indonesia yang suka bergotong royong, jika kamu mau perkejaan cepat selesai maka kita harus melakukannya bersama - sama." ucap pak Dono sambil mengambilkan batu bata satu persatu kepada pak Joko yang sedang berdiri di tangga.