
"Apa yang aku bilang?." ucap Ridwan sambil menatap ke arah Serly.
"Apakah kamu tidak tahu, sesuatu yang tidak terlihat buruk bagi orang lain akan terlihat buruk bagi anda." ucap Serly sambil melanjutkan langkahnya.
"Oh.. yang itu." ucap Ridwan sambil mengikuti Serly dari belakang.
"Saya berkata karena itu terlihat buruk bagi saya." ucap Ridwan sambil berlari ke depan Serly.
"Apakah anda akan mengatakan sesuatu jika itu buruk? apakah anda tidak tahu dimana dan bagaimana mengatakannya? itu juga di depan Sheila." ucap Sherly sangat marah.
"Ya jika seorang pria melewati anda tangan anda mencoba menyesuaikan pakaian secara otomatis, Serly apakah aku tidak bisa mengatakan ini sebagai teman." ucap Ridwan sambil menghentikan langkahnya.
"Bisakah anda tidak mengatakan sesuatu jika anda seorang teman?." ucap Serly sambil menghentikan langkahnya.
"Apa yang saya katakan sebagai teman salah, tapi saya mengatakan ini kepada seorang gadis yang saya sukai dan saya cintai."ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly
"Tapi jika kamu anggap itu salah, saya minta maaf." ucap Ridwan sambil melangkah pergi meninggalkan Serly.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Ridwan Serly terus teringat - ingat, sedangkan Ridwan merasa hampa.
Keesokan harinya seperti biasa bus telah datang dan Ridwan menaiki bus yang di tumpangi Serly, dan saat keduanya saling bertatapan Ridwan membuang pandangannya dari Serly.
Kenapa kau memberi uang 10 ribu untuk tiket 2 orang, kalian tidak akan pernah berubah." ucap petugas bus kepada teman Ridwan.
"Lihat ke kesan pak, ada orang yang berjalan seperti bebek, kami baru saja menaiki bus mengapa anda meminta kami segera membeli tiket." ucap William.
"Pemberhentian selanjutnya, saya akan memeriksa tiket, apakah anda siap untuk membayar denda." ucap petugas bus.
"Satu tiket ku dan satu lagi tiket cowok yang di pintu bus." ucap Serly sambil memberikan uang kepada petugas bus.
"Ini dia." ucap petugas sambil memberikan tiket kepada Serly.
"Setelah bus berhenti Serly lalu memberikan tiket ke tangan Ridwan." lalu berjalan dan saat itu Ridwan hanya bisa tersenyum bahagia.
Sorenya saat hujan turun Serly dan Ridwan duduk di dalam bus yang sedang berhenti.
__ADS_1
"Saya tidak ingin lari dan mengatakan itu hanya persahabatan ini adalah kasih sayang diluar itu aku menyukaimu tapi.." ucap Serly sambil menundukkan wajahnya.
"Katakan padaku." ucap Ridwan penasaran.
"Tidak ada gunanya berbicara bahwa kita diciptakan untuk satu sama lain karena kita tidak akan memutuskan apakah kita akan hidup bersama saya dibesarkan seperti itu?." ucap Serly sambil menunduk wajah.
"Apakah anda berbicara tentang rumah anda? berfikir positif." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.
"Tidak Ridwan, setelah mengatakan iya sekarang dan jika itu tidak terjadi dimasa depan saya tidak bisa menerimanya." ucap Serly sambil menatap wajah Ridwan.
"Lalu apa yang anda katakan sekarang ini." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.
"Persahabatan, cinta dan lebih dari itu hubungan yang baik, saya akan senang jika itu berakhir dengan pernikahan, apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?." ucap Serly sambil menatap wajah Ridwan.
"Aku sangat menyukaimu sekarang." ucap Ridwan sambil menundukkan kepalanya.
"Bisakah kau melihatku dan mengatakan ini?."ucap Serly sambil tersenyum manis sambil menatap wajah Ridwan, dan mulai hari itu Ridwan dan Serly selalu menghabiskan waktu bersama dengan bahagia.
__ADS_1