
"Tapi aku berhutang padamu, kuingin kau tetap hidup dan bahagia." ucap Maya sambil melihat pistol yang ada di tangannya.
"Semoga tuhan memberkatimu." ucap Abi Khadafi.
"Sayangnya, aku tak berhutang padanya." sambil menembak ke arah Sani, dan dengan cepat Sani mengeluarkan senjata dari punggungnya dan menembak ke arah Abi, melihat hal itu Ibrahim langsung mendorong tubuh Sani hingga terjatuh ke tanah dan Ibrahim lah yang terkena tembakan Abi di
bahu sebelah kanannya.
"Ah..."teriak Ibrahim kesakitan dan tersungkur di tanah dan tak sadarkan diri.
Melihat kejadian itu Abi lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Ridwan, Sani dan Ibrahim, setelah itu Ridwan lalu berlari ke arah Ibrahim yang terletak di tanah.
"Ibrahim, Ibrahim." ucap Ridwan sambil memegang pipi Ibrahim.
Melihat kejadian itu Sani lalu menangis, sambil mengambil sapu tangan dari saku celananya dan membalut luka Ibrahim agar Ibrahim tidak kehabisan darah.
__ADS_1
Saat melihat mobil ada yang lewat Ridwan langsung berlari ke arah mobil, dan saat itu juga mobil berhenti.
"Tolong bantu kami." ucap Ridwan sambil melihat cewek yang didalam mobil.
"Iya, silahkan masuk." ucap cewek itu sambil menatap ke arah Sani yang telah merangkul Ibrahim berjalan, dan saat itu Ridwan dengan cepat membantu Sani meletakkan Ibrahim masuk kedalam mobil.
Sampai di rumah sakit Sani langsung berlari keluar dari dalam mobil dan memanggil perawat rumah sakit agar membawa tempat tidur dorong untuk Ibrahim.
"Pak silakan tunggu disini." ucap dokter kepada Ridwan dan kemudian Sani dan para dokter mendorong Ibrahim masuk keruang IGD.
"Ridwan telah berkhianat, tak ada yang bisa kita lakukan selama Abi di Thailand, Azis telah memberi perintah untuk menangkap Ridwan bagaimana pun caranya, Azis ingin membuat kesepakatan dengan kita setelah Ridwan tertangkap, kita juga akan membuat kesepakatan dengannya." ucap ibu Hartati sambil menutup teleponnya.
"Bagaimana dokter keadaan Ibrahim." ucap Ridwan sambil berjalan mendekati dokter yang keluar dari ruang IGD.
"Alhamdulillah Ibrahim selamat, dari peluru dan hanya melukai bahu kanannya dan kami telah mengeluarkan peluru itu dari dalam tubuhnya, dan untungnya pasien tidak kehabisan darah." ucap Dokter sambil menatap wajah Ridwan.
__ADS_1
"Apa aku boleh melihatnya." ucap Ridwan sambil melihat ke arah pintu IGD.
"Silahkan." ucap dokter, setelah itu Ridwan berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangan IGD dan berjalan mendekati Ibrahim yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Kau sudah membuktikannya Ibrahim, kau benar-benar melakukannya, kau mengorbankan diri mu untuk menyelamatkan Sani." ucap Ibrahim sambil memegang tangan Ibrahim.
"Aku terus memperingatkan mu untuk tidak mempercayai wanita itu, tapi kau tak mendengarkan ku." ucap Sani sambil berjalan mendekati Ridwan yang terus menerus Ibrahim.
Sedangkan Abi dan ajudannya bernama Frenky sedang menuju terminal 02.
"Aku tak mengerti, setelah bertahun- tahun merahasiakannya, mengapa kau menceritakan semua padanya, siapa kau sebenarnya." ucap Frenky sambil melirik wajah Abi
"Maksudku apakah kau menyukainya?." ucap Frenky sambil menatap wajah Abi yang tidak seperti biasanya.
"Kau tak akan mengerti persamaan aku dengan Ridwan, lagi pula dia akan mencari ku sebelum hari Senin." ucap Abi sambil menatap wajah Frenky.
__ADS_1
"Beritahu Husein untuk mengakui pembunuhan di kampus dan menyerahkan diri, ayo kita cepat untuk berangkat ke terminal 02, Ridwan pasti akan memburu kita." ucap Abi sambil menatap ke jalan.