Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
Fitri ketakutan akan terjadi sesuatu menimpa Ali


__ADS_3

Kita harus rencanakan bagaimana cara untuk membalas perbuatan mereka kepada Riko." ucap Ali sambil menatap wajah teman- temannya.


Saat Fitri dan Ali sarapan pagi bersama, tiba-tiba gelas yang berisi susu yang terletak di meja tak sengaja menyentuh tangan Fitri


"ah.. susu ya tumpah." ucap Fitri ketakutan sambil menatap wajah Ali.


"Hem... " Ali hanya memberikan senyuman manis sambil mengecup kening Fitri


"Jangan khawatir aku akan meminum kopi di kantor oke." ucap Ali sambil memandang wajah Fitri yang gelisah lalu pergi berjalan meninggalkan Fitri.


"Tapi Ali..." ucap Fitri mencoba menghentikan langkah Ali.


"Fitri... kekasihku sayangku, tolong jangan khawatir aku bisa mengurus diri ku sendiri." ucap Ali sambil melanjutkan langkahnya.


"Tolong Ali hari ini jangan pergi." ucap Fitri sambil mendekati Ali.


"Kenapa?." ucap Ali sambil memakai jas kantornya.


"Susu yang tumpah memberikan tanda yang buruk aku takut..." ucap Fitri ketakutan.


"Dan keluar rumah aku tidak mungkin mati apa mungkin ada yang menembak ku." ucap Ali membalikkan badannya ke arah Fitri

__ADS_1


"Ali.." ucap Fitri menyakinkan.


"Atau mungkin aku kecelakaan, ayolah sayang.."ucap Ali sambil menyentuh pipi Fitri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Aku heran kau telah menjauh dari kota Jakarta tapi kau terus mengingat takhayul konyol itu, aku telah di tunggu di ruang rapat apa yang aku katakan kepada mereka kalau aku membatalkan pertemuan kami karena pacarku menumpahkan susu jangan konyol, dah..." ucap Ali sambil berjalan meninggalkan Fitri.


"Ali telpon aku setelah kau sampai di kantor." ucap Fitri sambil berteriak melihat Ali pergi meninggalkannya.


Sesampainya Ali di kantor tiba- tiba telpon berdering dan Ali menjawab teleponnya.


"Halo.." ucap Ali menghentikan kerjaannya.


"Siapa.." ucap Darto sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke meja Ali


"Untukku, halo..." ucap Darto mengambil telepon dari tangan Ali.


"Paman.." ucap Sani.


"Ini aku, Veronica dari majalah glow aku ingin wawancara dengan mu, aku tau waktumu sangat berharga." ucap Sani dengan suara merayu.


"Dimana kau sekarang." ucap Darto bahagia.

__ADS_1


"Di hotel resto kamar nomor 4, aku sedang menunggumu sekarang kau datangkan?" ucap Sani dengan nada merayu.


"Iya aku datang." ucap Darto dengan senang hati sambil menutup telponnya.


Darto bergegas menuju hotel resto dan masuk kedalam kamar nomor 4 dan ternyata di dalam kamar sudah menunggu Riko, Ali, Sani, Ridwan, Putri dan Dina.


Sesampainya di sana Darto lalu di ikat Riko di atas tempat tidur dan Darto sangat ketakutan.


"Aku telah belajar dari pelajaran dari kehidupan dan dari beberapa kematian aku selamat dari peluru Ali dan aku akan membakar mu hidup - hidup di depan mataku." ucap Riko sangat marah.


"Ali .. pengkhianat.. Ali pengkhianat.." teriak Darto sambil ketakutan.


"Ali pencuri busuk, dia telah mengkhianati temannya sendiri, seperti mu, aku sangat senang kau melihatmu masih hidup, anakku aku terhindar dari dosa." ucap Darto merayu Riko.


"Tapi kau harus membayar untuk dosa yang telah kau lakukan." ucap Riko sambil menatap Darto yang diikat di atas tempat tidur.


"Tapi kalian tidak tau Fitri masih hidup... Fitri masih.. hidup.." ucap Darto berteriak.


"Kau bohong pada kami." ucap Ali.


"Sudah gini aja kita bakar saja hotel ini dengan minyak lampu." ucap Ridwan dengan menumpahkan minyak lampu ke dinding dan kasur hotel.

__ADS_1


__ADS_2