
"Setiap kematian memiliki alasan dibaliknya, akan ada alasan untuk semua kematian." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ali.
Keesokan harinya seperti biasa Ridwan selalu berlatih menembak di kantornya.
"Hai Ridwan." ucap Ali sambil berjalan mendekati Ridwan.
"Setelah memeriksa panggilan Steven dia kebanyakan menelpon kekantor nya, rumah dan nomor ponsel Angga, nomor staf kantor yang bernama Hanna dan hal - hal seperti ini tapi tidak ada yang mencurigakan." ucap Ali sambil menatap wajah Ridwan yang telah meletakkan senjata di atas meja.
"Kemudian kita harus fokus pada pak Anto." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ali.
"Serly dengan jelas menyebutkan bahwa tidak ada yang bertanggung jawab atas kematiannya, saya tidak mengerti kenapa kau meledakkan kasus ini." ucap Ali sambil melihat Ridwan yang sedang melangkah kan kakinya.
__ADS_1
"Tidak semua yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita, terkadang itu akan berubah dalam sedetik, begitulah saya melihat kasus Serly, kau melihat lingkaran - lingkaran dari sini akan terlihat membingungkan tapi hanya jika kamu melihat lebih dekat, kamu akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas hanya jika mendapatkan lelaki misterius yang berkunjung ke rumah Serly."ucap Ridwan sambil menatap wajah Ali dan kemudian menembak ke arah papan lingkaran.
Sore harinya lelaki misterius datang ke apartemen Serly seperti biasa menaiki sepeda motor, memakai helm merah, pakai anting - anting dan pakai kalung, tapi kali ini lelaki misterius memasukkan sepeda motornya ke dalam apartemen, pada saat itu satpam tidak berada di pos, dan dengan santainya lelaki misterius masuk ke dalam apartemen dengan menaiki lift menuju lantai 13 dan ke flat nomor 50 yang ditempati seorang wanita yang bernama Sabina seorang mahasiswa jurusan hukum.
"Tok..tok." lelaki misterius mengetuk pintu rumah Sabina.
"Ayo masuk, kenapa kau datang ke sini." ucap Sabina sambil membuka pintu rumahnya dan kemudian lelaki misterius masuk kedalam rumah Sabina.
"Biarkan mereka bertanya, mengapa kau berbicara seolah - olah aku yang membunuhnya." ucap lelaki misterius sambil menatap wajah Sabina.
"Saya tidak memiliki apa-apa tetapi hanya saya yang akan mendapatkan masalah kamu pergi dulu." ucap Sabina
__ADS_1
"Mengapa kamu mengejar aku sejak aku datang, aku baru saja mengalami kecelakaan dan telah berada di rumah sakit selama 3 bulan dan datang dari Bandung hari ini, aku mencoba menelpon mu tapi tidak masuk - masuk, apakah kau mengganti nomor telepon mu?." ucap lelaki misterius sambil menatap wajah Sabina.
"Oke, apa yang kau inginkan sekarang?." ucap Sabina sambil menatap wajah lelaki misterius dan dengan cepat lelaki misterius meraba tangan sampai rambut Sabina lalu mengecup bibir Sabina selama 30 detik, setelah itu lelaki misterius melepaskan ciumannya.
"Air, tolong ambilkan." ucap lelaki misterius sambil menatap wajah Sabina yang malu.
Setelah itu lelaki misterius pergi meninggalkan rumah Sabina dan berjalan menuju pintu lift, saat pintu lift terbuka Jensen dan Martin telah berada didalam lift.
"Kami akan menelpon dan memberitahu jam berapa dia minta bertemu?." ucap Jensen sambil keluar berjalan dari dalam lift dan sambil melihat ke arah lelaki misterius yang telah berjalan kedalam lift.
"Malam puku lima." ucap Martin sambil menatap wajah Jensen yang telah menghentikan langkahnya.
__ADS_1