
Sani, Ridwan, Putri dan para tamu keluar dari ruang sidang.
"Keterlaluan kau sudah kalah karena ada bekas cakaran di tubuhmu, kau simpan hal penting itu dariku kenapa kau tidak mengatakannya kita sudah kalah Ridwan dan semuanya sudah tamat." ucap Putri sangat kesal lalu pergi meninggalkan Sani dan Ridwan.
"Pak Ridwan telah terbukti anda membuat kasus palsu kepada nyonya Nova dan sekarang apa lagi yang anda katakan?." ucap reporter TV dan mendengar hal itu Ridwan langsung memegang tangan Sani dan lalu berjalan bergandengan tangan menghindari para reporter TV.
"Tidak ada komentar." ucap Ridwan sambil berjalan bergandengan tangan dengan Sani.
"Tuan Ridwan belum siap untuk mengatakan apapun tapi pengadilan akan memutuskan minggu depan." ucap reporter TV di depan kamera.
Sesampai di rumah Ridwan Sani langsung masuk kedalam rumah tanpa berbicara sepatah kata pun.
__ADS_1
"Sani ..Sani dengarkan aku dulu."ucap Ridwan sambil berlari mengejar Sani yang pergi meninggalkannya.
"Sani aku tahu apa yang aku katakan di pengadilan telah menyakiti perasaanmu." ucap Ridwan sambil mencoba menghentikan langkah Sani.
"Iya, aku memang sakit seharusnya kau memberitahu sebelumnya, kau merahasiakannya kau bilang Nova yang melecehkan mu tapi yang aku tahu dan aku dengar di pengadilan." ucap Sani sambil mengeluarkan air matanya.
"Sani itu lah yang mau aku jelaskan kepadamu." ucap Ridwan sambil berjalan mendekati Sani.
"Apalagi yang ingin kau jelaskan." ucap Sani sambil menatap wajah Ridwan dengan menangis.
"Tidak Sani, untuk sesaat aku bersalah tapi kemudian saat itu sudah berlalu di pengadilan aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, kalau aku ingin aku bisa saja mendiamkannya, aku bisa saja mengundurkan diri dan tidak menuntut Sani, aku tahu aku membuat kesalahan , tapi itu bukan sesuatu yang aku sengaja, masa lalu membawaku." ucap Ridwan sambil berjalan ke dekat pintu jendela mendengar hal itu Sani sangat terkejut.
__ADS_1
"Lima tahun yang lalu di Surabaya saat aku sedang bertugas sebagai Arjun komisaris polisi (AKP) dan aku di tugaskan sebagai pengamanan perusahaan telekomunikasi di Surabaya aku bertemu dengan Nova saat itu kami mempunyai hubungan khusus pada awalnya aku bertemu dengan dia di pantai, sehingga kami menjadi teman dekat, Nova wanita yang ambisius dia bisa saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kariernya dan sampai Nova hamil dengan ku." ucap Ridwan sambil memandang ke luar jendela.
"Kami berdua mempunyai pikiran dan ideologi berbeda dia menganggap ambisinya lebih penting dan membuang calon anakku dan kemudian kami berpisah dan kemudian aku merasa tertekan, aku meninggalkan semuanya, aku tidak ingin mengatakan ini kepadamu karena aku ingin melupakan masa laluku." ucap rumah sambil berbalik menatap wajah Sani yang berlinang air mata.
"Tapi aku tidak pernah menduga cepat atau lambat masa lalu ku akan datang lagi kepada ku." ucap Ridwan sambil menatap wajah Sani
Tiba-tiba pembantu rumah tangga bernama Lala menghampiri Sani dan Ridwan.
"Pak manager Bank datang?." ucap Lala sambil melihat ke arah Sani dan Ridwan.
"Suruh dia masuk." ucap Ridwan sambil melihat ke arah Lala.
__ADS_1
"Baik pak." ucap Lala lalu berjalan memanggil manager Bank.
"Maaf Ridwan aku telah mengganggumu, tapi ini sangat penting, saat itu aku sedang di Malaysia dan aku baru kembali hari ini dan mengetahui tentang kasus mu ini." ucap Dicky sambil berjalan mendekati Ridwan dan Sani.