Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
Maya masuk kemar Ridwan


__ADS_3

"Ada masalah Ali polisi menangkap 4 orang penembak jitu ketika hendak memasuki Malaysia, melalui jalur laut, ini bukan sekedar kebetulan, aku yakin target mereka Abi atau kita." ucap pak Azis sambil mematikan teleponnya.


Sedangkan Ridwan dan Ibrahim duduk di taman belakang penginapan sambil minum teh.


"Ibrahim.." ucap Ridwan sambil mengambil minuman yang ada di meja.


"Jika kau sangat tertarik dengan komputer mengapa kau tak bergabung di tim internasional, kenapa mau jadi polisi." ucap Ridwan sambil meletakkan minumannya di atas meja.


"Kau harus mendengar namaku baik-baik Ibrahim, karena namaku beberapa banyak orang yang akan percaya bahwa aku merupakan seorang pahlawan, kenyataan ini sangat melukaiku, dan aku ingin mengabdi kepada negaraku, meskipun nyawa taruhannya, entah jadi polisi, tentara, atau .. apapun."ucap Ibrahim ucap Ibrahim sambil tersenyum kecil.


"Tapi itu bukan salahku, tuhan menganugerahi ku kecerdasan dibanding kekuatan." ucap Ibrahim sambil menatap Ridwan yang tersenyum kecil mendengar kata- katanya.


"Tapi itu tak jadi masalah pak, aku masih petugas kepolisian." ucap Ibrahim sambil melepaskan kacamatanya.


"Kau benar." ucap Ridwan sambil tersenyum


"Pilihanmu mungkin berbeda, tapi mengabdi kepada negara di atas segalanya." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ibrahim.

__ADS_1


"Ucapanmu sungguh bermakna, aku yakin pukulanmu sama kerasnya." ucap Ibrahim.


"Tunggu sampai ada pertempuran, akan kita lihat pukulannya." ucap Sani sambil duduk di dekat Ridwan.


"Baiklah aku akan menantikan saat itu datang." ucap Ridwan sambil tersenyum melihat kedatangan Sani.


"Selamat malam." ucap Ridwan sambil berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Sani dan Ibrahim.


"Selamat malam." ucap Ibrahim.


"Disaat aku datang dia berlalu pergi." ucap Sani sambil tersenyum manis kepada Ibrahim.


Maya dengan gaun malamnya datang menghampiri Abi yang duduk di kursi rodanya.


"Besok pagi pukul 09.00 wib kita akan dibawa ke Indonesia." ucap Maya sambil berjalan menghampiri Abi yang duduk di kursi roda.


"Itu artinya kita tidak bisa membalaskan dendam Tasya." mendengar hal itu Maya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar meninggalkan Abi sendiri.

__ADS_1


Malam itu Ridwan yang di kamarnya lagi mempersiapkan senjata, dan malam telpon Ridwan berbunyi dari pak Bambang.


"Ridwan Kami dapat informasi akurat, Abi akan segera dijebloskan ke penjara Nusa Kambangan, mereka akan mendapatkan informasi mengenai uangnya lalu membunuh Abi." ucap pak Bambang yang masih berada di kantornya.


"Pak, Abi tidak akan sampai ke Indonesia, saat semua sudah tertidur lelap, aku akan menyelip ke kamarnya dan mengambil semua informasinya, bajingan itu tak akan mendapatkan apapun."ucap Ridwan sambil mempersiapkan senjatanya.


Malam itu Sani tanpa sengaja melihat Maya berjalan mendekati kamar Ridwan dan mengetuk pintunya.


Tok..tok..


"Nanti saya telpon lagi pak." ucap Ridwan sambil mematikan teleponnya, lalu menyembunyikan senjatanya di bawah tempat tidur setelah itu lalu membuka pintu kamarnya, dan Maya langsung berjalan masuk kedalam kamar Ridwan.


"Permisi." ucap Ridwan sangat terkejut melihat keadaan Maya.


"Abi sedang tidur." ucap Maya sambil membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ridwan.


"Kau tidak datang kesini untuk menyelinap kan.?" ucap Ridwan sambil tersenyum manis

__ADS_1


"Kau sungguh pandai berbicara." ucap Maya sambil menatap tajam Ridwan.


"Kaulah yang menginspirasi ku." ucap Ridwan sambil tersenyum manis.


__ADS_2