
"Dia akan melakukan apapun untuk tetap hidup." ucap Ridwan sambil melihat Niko meletakkan senjata ke tangan Wahyu yang sudah mati, dan kemudian Ridwan terletak di lantai dan perlahan-lahan matanya terpejam.
Mendengar kabar Ridwan tertembak pak Bambang sebagai kepala kepolisian datang menjenguk Ridwan di rumah sakit, saat perjalanan ke ruang Ridwan.
"Selamat pagi pak." ucap seorang perawat yang berpapasan dengan pak Bambang.
"Pagi." ucap pak Bambang sambil berjalan ke ruangan Ridwan.
"Pak."ucap Ridwan sambil duduk bersandar di tempat tidurnya.
Kemudian pak Bambang mendekati Ridwan dan melihat bekas tembakan di tubuh Ridwan dan melihat ada foto kedua orangtuanya.
"Apakah orang tuamu tahu bahwa putranya, yang dulunya biasa saja, sedang melakukan trik seperti ini." ucap pak Bambang berdiri di hadapan Ridwan.
"Hem.. pak, mereka tahu.. bahwa hidupku selalu dalam bahaya." ucap Ridwan tersenyum sambil mengambil foto kedua orangtuanya di atas meja dekatnya.
"Baiklah.." ucap pak Bambang sambil berjalan ke sofa yang ada di ruangan Ridwan.
__ADS_1
"Tapi apa orang tuamu tahu bahwa putranya menembak dirinya sendiri.?" ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.
"Dan hanya untuk membuktikan di pengadilan bahwa itu bukanlah kesengajaan, maksud saya anda bisa menjadi pemicu orang yang bahagia Ridwan." ucap pak Bambang sambil mengambil air yang ada di meja dan meminumnya.
"Itu benar- benar terjadi." ucap Ridwan menyakinkan pak Bambang.
"Apa kau pikir aku sebodoh itu." ucap pak Bambang sambil menutup minumnya.
"Seharusnya aku membiarkanmu menjadi polisi biasa saja, membawamu ke latihan khusus adalah sebuah kesalahan." ucap pak Bambang sambil menatap wajah Ridwan.
"Pak aku seorang intelejen di kepolisian dan akan selalu begitu, meskipun seragamku berubah tapi kewajibanku tetap sama." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak Bambang.
"Satu Minggu lagi pak." ucap Ridwan sambil menatap wajah pak Bambang.
"Ok.. aku tunggu kedatangan mu, semoga cepat sembuh."ucap sambil berjalan keluar dari ruangan Ridwan.
Setelah itu Sani pun datang dan berjalan menghampiri Ridwan dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Ridwan aku tidak ingin kau seperti ini lagi, aku sangat takut." ucap Sani sambil memegang tangan Ridwan dan menundukkan kepalanya.
"Jangan risau hatiku sangat mencintaimu tanpa batas setiap doa - doaku hanya dirimu yang aku pinta, berpisah denganmu bagaikan sebuah kutukan." ucap Ridwan sambil menyentuh wajah Sani.
"Setelah melihatmu, mata ini seperti basah kuyup." ucap Sani sambil meneteskan air matanya.
"Aku bersumpah padamu sayang ini tidak akan terjadi lagi." ucap Ridwan sambil memegang kepala Sani.
"Kesabaran ku telah hilang dari diriku, aku tidak pernah bisa hidup tanpa dirimu walaupun sekejap." ucap Ridwan sambil memeluk Sani dalam dekapannya.
Seminggu kemudian Ridwan dan pak Bambang berangkat bersama kekantor dengan mobilnya yang di pandu oleh supirnya.
Sampai di depan kantor Ridwan dan pak Bambang keluar dari dalam mobil, lalu berjalan bersama ke arah pintu masuk kantor.
"Informasi dari Wahyu sangat berguna, akhirnya misi kita selama satu tahun selesai." ucap pak Bambang sambil berjalan bersama dengan Ridwan.
"Abi Khadafi telah ditangkap di Malaysia." ucap pak Bambang sambil melihat Ridwan.
__ADS_1
"Jika mangsa sudah dalam jaring, lalu untuk apa memanggil pemburu." ucap Ridwan sambil berjalan dan melirik pak Bambang.