
Ridwan dan Sani turun dari mobilnya dan membawa sebuah koper.
"Hei kenapa mereka pulang duluan." ucap pak Joko sambil turun dari tangga dan melihat ke arah Sani dan Ridwan.
"Pasti ada masalah, ayo kita tanyakan mereka." ucap pak Joko sambil berjalan dengan pak Dono.
"Hei.. kenapa kalian pulang sendirian,mana teman kalian, mereka tidak menjawab dan meninggalkan kita." ucap pak Dono sambil melihat Ridwan dan Sani pergi menjauh dari mereka.
"Benar aku merasa ada sesuatu yang terjadi pasti ada masalah dengan mereka berdua." ucap pak Joko sambil menatap wajah pak Dono.
Setelah sampai di penginapan Ridwan langsung melempar kopernya.
"Kau tidak mengatakan apa - apa saat di Merkurius, di pesawat pun tidak, walaupun kita belum menikah, apa yang terjadi antara kau dan Novi, sampai kalian bermusuhan seperti ini." ucap Sani sambil melihat ke arah Ridwan yang sedang duduk sambil membuka sepatunya.
__ADS_1
"Bukankah sudah kubilang padamu, seharusnya kita tidak usah pergi dengan mereka, sekarang yang harus kau tahu, sebaiknya kita tidak usah berhubungan dengan mereka lagi." ucap Ridwan dengan nada emosi dan pergi meninggalkan Sani sendiri.
Malamnya Hendri dan Novi tiba di rumahnya dan saat mengeluarkan barang - barang dari dalam bagasi mobil.
"Hendri kau mengatakan tidak ada hal yang terjadi tanpa alasan, tapi keributan ini pasti ada alasan." ucap Novi sambil melihat ke arah Hendri yang sedang menurunkan barang - barangnya.
"Ya memang ada alasannya, aku tidak sadar pikiranku kacau, dan karena itulah aku bertengkar dengannya, kau ingin aku minta maaf kepadanya, kau ingin aku menyembahnya, dan mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa dia." ucap Hendri sambil meninggalkan Novi sendiri, dan saat itu Ridwan melihat dari jendela kamarnya pertengkaran Novi dan Hendri.
Keesokan harinya pak Joko dan pak Dono menggosipkan Ridwan dan Hendri.
"Sudah 2 hari ini mereka tidak berbicara, lingkungan ini terasa sepi sekali, sepertinya kita berdua saja yang tinggal di lingkungan ini, apa alasan pertengkaran mereka." ucap pak Dono sambil menatap wajah pak Joko.
"WWF." ucap pak Joko.
__ADS_1
"Bergulat maksudmu." ucap pak Dono sambil menatap wajah pak Joko.
"Bukan para istri bertengkar maka dari itu mereka bertengkar." ucap pak Joko sambil melipat kedua tangannya.
"Oh.. sekarang aku mengerti semenjak mereka pergi ke Mauritius Island mereka memesan taksi Novi ingin di duduk di depan dan Sani juga ingin duduk di depan begitulah masalahnya." ucap pak Dono sambil menatap wajah pak Joko.
"Ya.. begitulah teman permasalahannya, mereka bertengkar karena rebutan." ucap pak Joko sambil menatap wajah pak Dono.
"Kalau begitu mereka harus melakukan satu hal, kita harus menasehati mereka agar mereka kembali ke Mauritius Island agar di sana mereka menginap di hotel dan mempunyai kamar kecil masing - masing dan pertengkaran mereka selesai." ucap pak dono sambil menatap wajah pak Joko.
"Wow.. wow kau memang begitu pintarnya, ide mu begitu bagus." ucap pak Joko.
"Apa." ucap pak Dono sambil tersenyum.
__ADS_1
"Orang yang jenius, dasar pemikiran mu selalu kacau apa solusi itu yang kau dapat dasar payah, kau pengacau."ucap pak Joko sambil emosi, dan pak Joko meninggalkan pak Dono sendirian.
Saat Ridwan mau menaiki mobilnya, tiba-tiba Hendri datang dengan sepeda motornya dan berhenti di depan Ridwan, dan berjalan mendekati Ridwan, melihat itu Ridwan langsung masuk ke dalam mobilnya.