
"Bagaimana menurutmu." ucap Ridwan sambil berjalan bersama Ali.
"Takdir untuk menempatkan dalam istilah lokal dia memiliki waktu yang buruk, apakah kematian melihat seseorang dari usia dan datang." ucap Ali sambil berjalan bersama Ridwan di halaman apartemen.
"Ya Diana orang karakternya buruk dia pantas mendapatkannya." ucap seorang wanita yang sedang bergosip dengan tetangganya.
"Sudah biasa dua orang mati dalam 3 bulan dari apartemen yang sama."ucap Ali sambil berjalan dengan Ridwan.
"Tapi di lantai 13 dan 53 blok dari total 256 flat di apartemen ini." ucap Ridwan sambil memakai kacamatanya.
"Sepertinya kematian sama bloknya sama dan lantainya sama." ucap Ali sambil menatap wajah Ridwan.
"Dua orang yang meninggal dari flat yang berlawanan bukankah hal yang normal itu yang harus kita pikirkan sekarang." ucap Ridwan sambil menunjuk ke arah apartemen.
Setelah itu petugas polisi mulai memasukkan data dari Diana ke komputer dan memeriksa laporan forensik dari rumah sakit.
"Inilah alasan penting kematian Diana, jika kamu melihat penyebab kematian ini hanyalah kecelakaan kebetulan seperti yang saya katakan ini benar - benar kebetulan." ucap Ali sambil berjalan bersama dengan Ridwan.
"Apakah kamu melihat, dari dalam laporan?." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ali
__ADS_1
"Apa." ucap Ali kebingungan.
"Posisi tubuh, jumlah tubuh yang hangus, posisi waktu yang ditentukan setelah menganalisis semua ini suplai tegangan arus biasa adalah 230 v dan hari itu 4500 v, ini adalah jumlah dari transformator itu suatu yang tidak biasa." ucap Ridwan menyakinkan Ali.
"Selamat pagi pak." ucap 2 orang lelaki yang mendekati Ridwan dan Ali.
"Kau telah meminta polisi pengawas dalam kasus Serly kan?." ucap Ali sambil melirik ke arah kedua lelaki.
"Aku Martin." ucap Martin sambil bersalaman dengan Ridwan.
"Aku Jensen." ucap Jensen sambil bersalaman dengan Ridwan.
"Oke pak." ucap Jensen
"Dengan rincian saya berikan untuk identifikasi, jika anda kalian mencurigai seseorang datang ke flat Serly atau flat Diana kabari saya." ucap Ridwan sambil menatap wajah Jensen dan Martin.
"kamu tidak akan mendengarkan saya dan bagaimana langkah kamu selanjutnya." ucap Ali sambil menatap wajah Ridwan.
"Surabaya." ucap Ridwan sambil menatap wajah Ali, dan Ridwan teringat kepada ayahnya Serly.
__ADS_1
"Pak." ucap Ridwan sambil melihat ayah Serly yang sedang sakit berbaring di tempat tidur, saat melihat kehadiran Ridwan ayah Serly langsung shock dan menjatuhkan obat yang ada di mejanya
"Pak hati- hati." ucap Ridwan langsung mendekati ayah Serly.
"Ayah, silahkan duduk." ucap Sheila sambil mendekati ayahnya.
"Minta dia pergi." ucap ayah Serly sambil menunjuk ke arah Ridwan.
"Sheila saya ingin mengatakan."ucap Ridwan sambil menatap wajah Sheila.
"Aku meminta dia untuk pergi dari sini, suruh di pergi." ucap ayah Serly kepada Sheila.
"Ayahku berkata benar, jangan berkata apa - apa sekarang pergilah Ridwan." ucap Sheila sambil menatap wajah Ridwan.
"Ayah tolonglah berbaring." ucap Sheila sambil menangis.
Ridwan teringat pertama kali dia datang ke rumah Sherly untuk melamarnya dan saat itu Serly yang sedang menjemur pakaian di teras atas rumah melihat Ridwan yang telah diantar William dengan sepeda motornya.
"Aku akan datang setengah jam lagi kamu tunggu aku di kedai kopi itu." ucap Ridwan sambil menatap wajah Wiliam yang sedang duduk di sepeda motornya.
__ADS_1