
Tiba-tiba dua orang wanita membuka pintu kamar terbuka Maria.
"Kau tidak akan bisa menangkapnya." ucap seorang wanita yang sangat cantik yang bernama Luna sambil berjalan mendekati Maria yang berada di dekat jendela.
"Aku Luna ini fasilitas ku." ucap Luna sambil mengarah jarinya kepada perawat yang membawa makanan agar diletakkan di atas meja.
"Berkatmu keluarga tanpa anak akan jadi sangat bahagia silahkan duduk." ucap Luna sambil memegang pundak Maria.
"Kau suka kamarnya?." ucap Luna sambil tersenyum
"Ya." ucap Maria sambil menganggukkan kepalanya.
"Jangan terintimidasi bahwa kau di bawa di tempat seperti ini bayi yang kau kandung akan di bawa pergi ke milyarder atau orang penting kami harus pastikan bayimu yang belum lahir sehat dan aman." ucap Luna sambil menatap wajah Maria.
"Siska, perawat mu akan disini menjaga mu, dr. Johan akan mengunjungimu untuk pemeriksaan harian, semua orang di sini siap untuk membantumu ." ucap Luna sambil menyakinkan Maria.
"Aku harus memanggilmu apa?." ucap Maria sambil menatap wajah Luna.
"Panggil aku Luna, atau panggil aku dengan ibu, eh .. Jangan aku belum setua itu panggil aja aku kakak." ucap Luna sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan memanggil mu Bu Luna.." ucap Maria sambil tersenyum menatap Luna.
"Setiap keadaan darurat." ucap Luna sambil menerima sebuah tombol dari perawat Siska.
"Tekan saja tombol ini, penjaga akan segera datang." ucap Luna sambil menyerahkan tombol kepada Maria dan Luna pun berjalan keluar.
"Bu Luna." ucap Maria menghentikan langkah Luna.
"Ya." ucap Luna melihat kearah Maria.
"Apakah semua ini milikku." ucap Maria sambil melirik ke sisi ruangan kamarnya.
Ridwan yang sedang di rumah sakit yang lagi mengurus kasus Alex dan Jesica sedang berdiri di halaman rumah sakit tiba - tiba seorang perawat datang menghampiri Ridwan.
"Pak dokter memanggil mu." ucap perawat dan dengan langkah cepat Ridwan langsung menghampiri dokter Jensen.
"Hai dokter." ucap Ridwan sambil mengulurkan tangannya.
"Hai Ridwan."ucap dr. Jensen sambil bersalaman dengan Ridwan.
__ADS_1
"Apa kabar." ucap Ridwan sambil tersenyum.
"Sehat, ini laporannya." ucap dr. Jensen sambil memberikan laporan autopsi pasien Alex dan Jesica kepada Ridwan.
"Penyebab kematian Jesica dan Alex adalah sesak nafas?." ucap Ridwan keheranan membaca laporan autopsi Jesica dan Alex.
"Iya Jesica dan Alex meninggal karena kekurangan oksigen." ucap dr. Jensen lalu pergi meninggalkan Ridwan.
"Dokter..bukan ledakkan." ucap Ridwan mencoba menghentikan langkah dokter Jensen.
"Bukan, kebakaran di sebabkan karena kantong udara kerusakan tidak ada yang lain." ucap dokter Jensen terus menjauh dari Ridwan.
"Aku tidak percaya, bahkan itu sangat aneh kantong udara adalah penyelamat dan itu penyebab kematian?, pernah kah kantong udara penyebab kematian?." ucap Ridwan sambil menatap wajah dokter Jensen.
"20 kasus seperti itu telah dilaporkan di seluruh dunia itu satu - satu nya data yang kita miliki sekarang, itu kata Google, ok, terimakasih." ucap dr. Jensen berjalan meninggalkan Ridwan.
Setelah itu Ridwan membawa surat laporan autopsi Jesica dan Alex kepada atasannya pak Suyatno.
"Laporan autopsi Alex dan Jesica kerusakan kantong udara pak." ucap Ridwan sambil menyerahkan laporan autopsi Alex dan Jesica.
__ADS_1