
"Ini kulkas yang sangat besar model terbarukan?." ucap Diana sambil membuka kulkas dan melihat isinya.
"Ya." ucap Serly sambil mencuci piring.
"Seharusnya putriku yang ada disini, akhirnya kau yang datang." ucap Diana sambil menutup pintu kulkas Serly.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan bibi." ucap Serly sambil memasak makanan.
"Apakah kau mau kalau aku memintamu untuk meninggalkan flat ini atau aku mengusir mu, yah sudah lanjutkan memasak." ucap Diana sambil memegang kotak dan lali pergi dari rumah Serly.
"Iya bibi." ucap Serly sambil mengaduk makanan di atas kompor gas.
"Sebenarnya konsep yang kau ceritakan sangat membingungkan." ucap Steven sambil berjalan masuk ke dalam restoran bersama Angga.
"Saya akan jelaskan lagi, ayo." ucap Angga sambil berjalan bersama dengan Steven.
"Hai..Angga." ucap Ratna teman kuliah Angga
"Hai.. kamu Ratna kan?." ucap Angga sambil menatap wajah Ratna.
__ADS_1
"Ya.." ucap Ratna sambil tersenyum.
"Hai.. sungguh kejutan apakah kau melupakanku begitu cepat." ucap Steven sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Ratna.
"Maaf sudah sangat lama." ucap Steven sambil tersenyum.
"Jadi bagaimana kabarmu." ucap Angga sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Ratna.
"Saya baik - baik saja." ucap Ratna sambil tersenyum manis.
"Saya memiliki pekerjaan mendesak untuk pergi bagaimana kalau kita rapat di kantor saya." ucap Ratna sambil menatap wajah Steven dan Angga.
"Ya tentu." ucap Steven
"Sampai jumpa lagi." ucap Ratna sambil berjalan dengan seorang lelaki sambil bergandengan tangan.
"Sampai jumpa." ucap steven dan Angga.
"Tahun lalu kami bertemu di pesta pernikahan dan sekarang aku melihat dia berubah total, suaminya terlihat tinggi dan adil bukan?." ucap Angga sambil duduk di tempat duduknya.
__ADS_1
"Seperti yang kau katakan, dia tidak berubah, tetapi dia mengubah orangnya pria itu berbeda, dan pria ini bukan suaminya." ucap Steven sambil menatap wajah Angga.
"Suaminya saat ini." ucap Angga kebingungan.
"Pada saat ini, dia duduk di kantor untuk mendapatkan penghasilan bulanan dan bekerja pada keyboard." ucap Steven sambil tersenyum manis.
"Apa yang kau katakan, jika dia tidak menyukainya dia bisa menceraikannya?." ucap Angga sambil menatap wajah Steven.
"Hei, jika dia tidak menyukai suaminya, maka itu tidak masalah, tetapi masalahnya dia masih menyukainya." ucap Steven sambil mengambil daftar menu di atas meja.
"Jangan bicara sesukamu." ucap Angga sambil menatap wajah Steven.
"Hei, kau baru di kota dan kau tidak akan mengerti ini, memiliki satu untuk masyarakat dan satu untuk variasi dan orang - orang mengambil kehidupan dengan begitu mudah
apa yang kau katakan salah disini?." ucap Steven sambil melihat Angga yang sedang minum kopinya.
"Lihat, baik sinema dan politik adalah media publik, jika tidak ada yang beres di sini itu pasti muncul di berita jadi kami jadi tahu, jadi menurutmu dimana itu tidak terjadi." ucap Steven sambil meminum kopinya.
"Perguruan tinggi, rumah sakit, kantor pemerintah, perusahaan perangkat lunak di semua tempat seperti ini, misalnya seperti Hanna yang di kantor kita." ucap Steven sambil menatap wajah Angga.
__ADS_1
"Jadi maksudmu memiliki istri di rumah lebih aman daripada mengirim ke kantor." ucap Angga sambil memegang cangkir kopinya.
"Tolong jangan salah paham, berada di rumah bukan berarti kesalahan tidak terjadi masalah di mulai dari situ." ucap Steven sambil menatap wajah Ridwan.