Cinta Beda Agama

Cinta Beda Agama
Ridwan bertemu dengan adik Sherly


__ADS_3

"Jika tidak bagaimana kami bisa memeriksa apa masalah antara mereka yang datang kesini? dan mereka yang tinggal di sini? bagaimana kita bisa menggunakan kamera untuk memantau semua ini, tolong beritahu kami pak." ucap pak manajer sambil menatap wajah Ridwan yang teringat kepada Serly karena mendengar kata KAMERA.


Sewaktu Serly sedang berdoa di gereja Ridwan mengambil fotonya secara diam - diam setelah keluar dari dalam gereja Ridwan menghampiri Serly.


"Hai Serly, apa kabar."ucap Ridwan sambil menghentikan langkah Serly.


"Oke, kenapa kamu ada disini." ucap Serly sambil tersenyum manis.


"Mereka mengatakan kalau disini adalah gereja yang paling bagus, dan saya kesini untuk menghadiri acara pernikahan saudara temanku." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.


"Hem.."Serly hanya mengangguk kepalanya.


"Hai, minggu depan kau akan datang ke gereja ini saja kan?." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly yang gugup.


"Dengar, jika seseorang yang melihatku disini ..itu sebabnya aku akan pergi." ucap Serly sambil melangkahkan kakinya.


"Anda lihat ini, adalah gereja yang sangat besar semua orang datang ke sini untuk berdoa kepada Tuhan menurut anda siapa yang akan memperhatikan kita." ucap Ridwan sambil menghentikan langkah Serly.


"Anda misalkan dia, apakah Anda mengenalnya? apakah dia mengenalmu?." ucap Ridwan kepada seorang gadis yang lewat di depannya dan mendengar kata - kata Ridwan gadis itu berhenti di tengah Ridwan dan Serly.

__ADS_1


"Mereka datang ke sini untuk berdoa kepada Tuhan dan pergi itu saja." ucap Ridwan sambil menatap wajah Serly.


"Siapa dia kakak." ucap gadis itu kepada Serly mendengar hal itu Ridwan jadi gugup.


"Dia adalah adikku Sheila, saya telah memberitahu anda tentang Ridwan kan?" ucap Serly sambil menatap wajah Sheila.


"Tidak kamu belum memberitahuku." ucap Sheila kebingungan.


"Ini adalah Ridwan." ucap Serly sambil memperkenalkan Ridwan.


"Hai.." ucap Ridwan sambil tersenyum.


"Apakah dia teman sekelas mu?." ucap Sheila sambil menatap wajah Serly.


"Apakah dia teman kuliah mu?." ucap Sheila menatap wajah Serly.


"Tidak, teman bis."ucap Ridwan.


"Teman bis." ucap Sheila kebingungan.

__ADS_1


"Tidak hanya teman, ayo." ucap Serly sambil menarik tangan Sheila.


"Aku akan pergi."ucap Sheila sambil berjalan dengan Serly dan meninggalkan Ridwan.


"Jika kakak berteman dengannya, seberapa dekat hubungan kalian." ucap Sheila sambil menatap wajah Serly.


"Serly." ucap Ridwan mengehentikan langkah Serly dan Sheila.


"Tolong sesuaikan." ucap Ridwan sambil menunjukkan tali bra Serly yang kelihatan keluar.


"ini namanya teman dekat." ucap Sheila sambil menatap wajah Serly yang tertunduk.


"Diam dan ayo kita pergi." ucap Serly sambil berjalan.


Keesokan harinya seperti biasa Ridwan masuk kedalam bis yang sering di tumpangi Serly.


"Hai.." teriak Ridwan sambil melambaikan tangannya kearah Serly yang berada di tengah penumpang bus tapi Serly hanya melihat dan lalu membuang pandangannya dari Ridwan.


Setelah selesai belajar Serly, keluar dari dalam ruang dan ternyata Ridwan telah menunggu di pintu ruangan Serly.

__ADS_1


"Serly, satu menit, selama 2 hari terakhir anda bahkan tidak mengucapkan hai anda bahkan tidak tersenyum dan membuat wajah anda kusam mengapa?." ucap Ridwan sambil mengikuti Serly dari belakang.


"Mengapa saya harus mengatakan hai? mengapa saya harus tersenyum?, suatu hari apakah menurut anda yang anda katakan dihari itu adalah benar." ucap Serly sambil melirik ke arah belakang.


__ADS_2