
" Eum..begini Lina, sesuai dengan prosedur perusahaan bahwa kami akan memberikan pesangon selama almarhum Adrie bekerja di perusahaan ini. Dan semua telah kami penuhi sesuai kebijakan dari kami, jadi tolong di terima dan di tanda tangani!"
Lina membaca berkas itu yang di berikan oleh Tiara, sebelum di tanda tangani.
" Memang Adrie sangat berjasa sekali untuk perusahaan ini, almarhum sangat loyal dalam bekerja. Adrie pemimpin yang cerdas. Tapi kami mohon pada kamu di terima pesangon ini!. Memang tidak bisa di nilai dengan uang atas jasa jasa almarhum Adrie. Tapi kami semaksimal mungkin pesangon almarhum Adrie bisa memenuhi kebutuhan terutama untuk anak anak dan kamu Lina." Tiara bicara sangat hati hati sekali pada Lina.
Saat Lina sudah membaca semua berkas berkas itu, Lina justru terkejut dengan pesangon yang diberikan Perusahaan Pak Harry, nilai nya pesangon nya sangat besar.
" Kak Tiara, Om Harry ini sudah lebih dari cukup bahkan ini sangat besar apa tidak terlalu berlebihan dengan pesangon yang saya terima?"
" Ini sudah kebijakan dari kami Lina. Dan satu lagi tolong ini di tanda tangani, ini adalah dana pensiun Adrie yang Kamu terima setiap bulan dan perusahaan akan mentransfer nya ke rekening kamu, Dan bila putra kamu sudah selesai kuliah, putra kamu akan kami tarik untuk bekerja di perusahaan ini. Dan perusahaan juga memberikan beasiswa untuk sekolah anak anak kamu sampai ke perguruan tinggi."
Lina sangat terharu dengan kebijakan perusahaan Om Harry yang diberikan bahwa perusahaan masih perhatian pada Lina. Mata Lina mulai berkaca kaca.
" Kamu kenapa kok sedih?"
" Aku hanya sangat berterima kasih banyak kepada Om Harry dan Kakak, untuk kebijakan ini."
" Kami memang tidak bisa menilai dengan uang tapi inilah jasa jasa Adrie yang sudah banyak membantu kami. Mengembangkan perusahaan ini."
Lina semakin berderai air mata nya, hingga untuk menanda tangani saja terhenti. Tangan Lina masih terus menghapus air mata nya agar air mata nya tidak jatuh menetes pada berkas itu dan membuat berkas itu jadi basah. Tiara inisiatif memberikan tisu ia berdiri dan memeluk Lina sebelum Lina menanda tangani berkas berkas itu.
" Tenangkan diri kamu Lina, aku tahu kamu menangis juga karena teringat almarhum Adrie bukan?'
__ADS_1
Lina mengangguk.
" Iya Kak."
" Kakak juga sangat kehilangan Adrie,.bukan saja Kakak Ayah ku terutama. Kalau Kakak berada di posisi kamu, Kakak juga sama akan mengingat dan bersedih, tapi Adrie sudah tenang di sana. Sekarang kamu nikmati hidup kamu dengan anak anak kamu saja!, kamu harus semangat."
Lina tersenyum benar apa yang di katakan Tiara, dirinya harus kuat dan semangat menikmati hidupnya bersama tiga anak anak nya.
" Terimakasih banyak Kak, Om."
" Iya Lina." ujar Pak Harry
" Sekarang kamu harus tersenyum, ya sudah jangan bersedih lagi."
" Terimakasih sekali lagi Kak, Om."
" Iya sama sama, aku antar ya sampai depan."
Lina hanya mengangguk.
" Ayah aku antar Lina dulu ya."
" Iya Nak."
__ADS_1
Tiara mengantar Lina sampai depan. Sambil melangkah Lina dan Tiara berbincang bincang.
" Lina."
" Iya Kak."
" Maaf bagaimana kabar nya Devis?"
" Euh?" Lina belum bisa menjawab ia teringat Devis kabar nya akan menikah.
" Kak Devis kabar nya akan menikah."
" Oh..maafin Kakak ya sudah lancang bicara ini ke kamu."
" Tidak apa, Kak."
" Semoga kau segera mendapat pendamping lagi kau masih sangat muda dan cantik."
" Tapi untuk itu aku belum memikirkan hal itu dulu Kak."
" Iya Kakak ngerti, Tapi jangan kau lama lama menutup hati, oke!"
" Baik Kak."
__ADS_1