
Taxi yang membawa Lina sudah di pelataran parkiran cafe, teman temannya menyambut kedatangan Lina. Kado yang di tangannya diberikan langsung pada Marwah sahabat kuliahnya dulu.
" Hai Lina akhirnya datang juga lu!"
" Selamat ulang tahun ya Mar!, Maaf telat."
" Trimakasih say, tidak apa blum telat kok!, acaranya juga baru mau dimulai."
Acara ulang tahun itu sudah berlangsung satu jam. Lina dan teman teman kampusnya menikmati acara tersebut dengan tawa dan canda juga hidangan yang tersedia dimeja. Acara terakhir yang ditunggu tunggu adalah pengocokan arisan. Namun tanpa disadari oleh Lina seseorang sedang menatapnya sedari tadi dari kejauhan.
Saat Lina ingin ke toilet orang yang memperhatikan Lina mengikuti Lina.
" Gue ke toilet dulu yaa!"
" Oke!, Ucap via.
Saat di toilet sosok pria itu berjalan santai menunggu Lina keluar dari toilet. Begitu Lina keluar dan melangkah pria itu berdiri dan menghadangnya. Lina yang tidak melihat nya karena menundukkan kepala perhatiannya masih pada kedua tangannya yang ia keringkan dengan tisu dan tiba tiba saja
Dughh! Lina menabrak dada pria itu membuat Lina hampir terjungkal namun dengan cepat tangan pria itu meraih pinggang Lina.
Akhhh! Maaf saya tidak sengaa...DEVIS?"
Lina menatap kaget pada pria yang sudah dia kenal sangat dekat itu.
" Haii..senang bisa bertemu kamu disini." Tatapan Devis mengunci manik hitam Lina tangannya masih mendekap erat pinggang Lina .
" Kak..kkamu ada disini juga.?" Tubuh Lina meremang wajahnya yang kaget sekaligus terpesona pada wajah tampan Devis. Kedua tangan Lina yang tidak sengaja sedari tadi sudah diletakkan di dada Devis.
Keduanya saling menatap Devis tersenyum tipis pada Lina, seperti terhipnotis Lina terdiam membiarkan kedua tangan Devis sudah berpindah mengusap pipi Lina dan menarik wajahnya, bersamaan Devis memajukan wajahnya dan mencium bibir Lina sedikit **********. seketika Lina sadar ia membulatkan matanya dan memundurkan kepalanya melepaskan ciuman bibir Devis, tangannya langsung menepis dari pipinya dan..
Plakk! Lina menampar Devis, Devis sedikit kaget namun ia menyunggingkan sudut bibirnya dan tersenyum.
" Kamu sadar tidak..apa yang baru saja kamu lakukan?"
Ucapan Lina membuat Devis semakin gemas padanya. Bukannya menjawab dan meminta maaf pada Lina, Devis menarik kembali pinggang Lina dan melingkarkan dengan kedua tangannya dengan kencang hingga dada Lina menempel pada dada bidang Devis. Membuat Lina agak sesak, dengan tatapan tajam dan dingin Devis berucap pelan tepat pada wajah Lina yang mendongak.
" Besok temui aku, di hotel B jam 2 siang!"
" Aku tidak bisa!" Lina menggelengkan kepala.
"Jangan sampai kamu menolak ku, aku bisa berbuat apa saja yang membuat kamu tidak bisa berkutik lagi dengan ku." Ancam Devis.
" Apa mau mu?"
" KAU sayang!"
" Kamu sudah gila Devis?, Aku ini istri sepupumu, Sadarlah!, Sekarang juga lepaskan aku…lepas!!
Devis perlahan melonggarkan kedua tangannya dari pinggang Lina dan melepaskannya, buru buru Lina melangkah cepat dari hadapan Devis. Devis memasukan kedua tangannya kedalam saku celana berjalan santai keluar cafe menuju mobilnya.
Lina kembali bergabung bersama sahabat sahabatnya di meja terduduk dengan wajah pucat, Via yang berada disampingnya menoleh pada Lina memperhatikan wajah Lina heran.
__ADS_1
" Lina elu kenapa?, Muka lu pucat lu gitu, elu baik baik saja kan?"
" Ah..masa sih?, Gue gak apa apa kok!"
Lina kembali terdiam menunduk.
" Lina apa ada sesuatu yang terjadi?" Via yang merasa khawatir terhadap sahabatnya itu kembali penasaran karena Lina sebelum ke toilet masih baik baik saja.
" Eehh..gue baik baik aja kok!"
Via menghela napas sesaat dan tidak memaksa pada temannya itu yang tidak mau memberi alasan penyebabnya, karena Via merasa yakin kalau Lina pasti telah mengalami sesuatu yang buruk namun Lina menyembunyikannya.
" Ya sudah kalau begitu."
Lina tidak mungkin bercerita pada sahabatnya itu, kalau ia baru saja bertemu dengan sepupu suaminya dengan beraninya Devis menciumnya.
" Via elu masih mau berlama lama disini?"
" Acaranya belum selesai sih..acara terakhir kita kita mau nyumbang lagu kan?, kita nyanyi nyanyi dulu lah!, Memang nya kenapa? jangan buru buru pulang ahh!"
" Kayaknya gue harus pulang Via, kasihan anak anak gue di rumah."
" Hemm..ya sudah!, Via mengangguk pasrah.
" Gue duluan yaa!, sampaikan pada Marwah gue pamit pulang dulu."
" Oke..nanti gue sampaikan, mau gue antar sampai depan?"
Lina beranjak dari kursi sambil menyampirkan tas ke bahunya. Mata nya sempat mengedar sekeliling cafe, ia takut kalau kalau Devis masih dicafe. Tangannya merogoh ponselnya didalam tas untuk memesan taxi online.
Sampai diluar cafe belum sempat ia memesan taxi online sebuah mobil mewah berhenti dihadapan Lina. Ia memperhatikan mobil mewah itu yang terbuka kacanya, seketika Lina membelalakkan kedua matanya kalau pemilik mobil mewah itu adalah Devis. Lina kembali gugup matanya langsung menatap ke lain arah dan acuh. Namun dadanya nya tetap saja berdebar.
Devis berada dalam mobil tersenyum dan memanggil wanita pujaannya itu untuk menawarkan tumpangan pada Lina.
" Masuk lah, aku antar kau pulang!"
Lina tetap acuh pura pura tidak mendengar ajakan Devis matanya tetap ke lain arah. Melihat Lina seperti mengabaikan Devis, ia pun turun dari mobil dan menghampiri Lina. Lina semakin gemetaran Devis mendekatinya.
" Aku antar kau pulang..ayolah!"
Lina semakin tidak nyaman keberadaan Devis disampingnya matanya melihat sekeliling takut ada yang memperhatikan dia bersama pria lain.
" Maaf aku tidak mau, aku sudah memesan taxi."
" Jangan sampai aku berbuat hal yang tidak kamu inginkan disini!"
" Apa maksud kamu?"
" Jangan menolak!, Ayo cepat masuk sebelum ada orang yang memperhatikan kita."
" Tapi Kak Dev?"
__ADS_1
Devis menarik tangan Lina, membuka pintu mobil untuk segera masuk. Lina terduduk diam matanya melihat Devis memutari mobil dan duduk di bangku kemudi dan menutup pintu mobil.
" Pakai seat belt mu!" Lina masih diam tidak mau menatap Devis.
" Apa perlu aku pakaikan..hem!" Devis memajukan badannya.
" Ah..tidak usah aku bisa sendiri!"
Mobil sudah melaju di perjalanan Lina yang hanya diam sedari tadi buka suara.
" Kau mengikuti ku?" Lina melirik ke Devis yang fokus menyetir.
" Hemm..pede sekali kamu." Devis menyunggingkan sudut bibirnya.
" Kebetulan aku sedang berada dicafe itu sedang menunggu sekertaris ku, dan melihat kamu datang ke cafe."
" Yang kau lakukan tadi di luar toilet, aku mohon lupakan!" Ucap Lina.
" Kenapa?, Kau juga menikmatinya."
" Jangan ngaco kamu!" Lina berujar wajahnya menoleh ke sisi kaca jendela.
Devis menoleh ke lina, kemudian matanya fokus menyetir.
" Aku menyukai kamu..sejak pertama kali melihatmu."
" Oh ya Tuhan!, Apa kamu sudah gila?, aku ini istri dari sepupumu sendiri Devis, sadarlah!"
" Aku sadar!"
" Lalu apa yang kamu harapkan dari diriku?"
" Membalas perasaanku ini, aku janji aku akan membahagiakan kamu!"
" Kamu akan merusak rumah tanggaku, hentikan jangan bertindak yang aneh!,...Aku mencintai suamiku, sepupumu. Bagaimanapun Adrie lebih baik dari kamu, paham!"
Devis terdiam tidak membalas ucapan Lina dalam benaknya "Kalau memang Adrie lebih baik dari aku, lalu kenapa suamimu masih bermain dibelakang mu Lina.."
Bodoh nya Adrie mau dipermainkan wanita yang bernama Tiara. Devis sudah mendapatkan laporan dari sekertaris Johan, kalau Adrie saat ini sedang bersama Tiara di hotel G. Lagi Tiara diceraikan oleh Yudo rekan bisnisnya karena mantan istrinya tidak bisa mengurus anak anaknya terlalu sibuk dengan karir, fatal bagi Yudo mantan istrinya tertangkap basah telah berselingkuh dengan pria lain.
Lina adalah perempuan baik baik tidak sepantasnya Adrie menyakitinya. Devis merasa prihatin padanya.
Mobil sudah sampai dijalan aspal depan rumah Lina. Devis mematikan mesin mobilnya saat Lina hendak membuka pintu.
" Terimakasih untuk tumpangannya."
" Jangan lupa besok temui aku!"
Lina terdiam sebentar tanpa menoleh ke Devis. Ia cepat cepat turun dari mobil Devis tidak menghiraukan Devis.
Devis tersenyum matanya masih memandangi Lina yang sudah melangkah masuk kerumah. Mobil kembali melaju meninggalkan tempat keberadaan sepupunya itu.
__ADS_1