CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Malas bermain main


__ADS_3

Dibalik dingin nya sang Ceo Agnibrata Mussaffer, ternyata mau menyetujui kerjasama dengan perusahaan Harry Cargo. Sebelumnya Brata langsung perintahkan, Malik.Tangan kanan nya Brata untuk mencari tahu info tentang Tiara dan Adrie.


" Putri kandung Pak Harry, menarik juga, sangat menggairahkan." Brata mengangkat kedua alisnya dan menganggukan kepala.


" Mona, buatkan surat kontrak satu tahun kerjasama dengan perusaahan Harry Cargo!"


Brata menghubungi sekretarisnya lewat telepon di sisi meja kerja.


" Baik Pak Brata."


.


.


.


.


.


Hari ini Tiara, Adrie, Pak Harry dan Brata serta tangan kanannya Malik, berada disatu meja menikmati jamuan makan siang dan juga mengadakan kesepakatan kerjasama antara Mussaffer airline dan Harry Cargo.


" Kami sangat berterima kasih, Pak Brata. Semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan baik."


" Sama sama, Om Harry." ucap Brata pria 38 tahun berwajah tampan itu.


Tiara tidak menyangka sosok Brata yang di nilai sangat angkuh irit bicara, tapi begitu sudah bertemu satu meja dengan Ayah kandungnya sangat sopan dan selalu tersenyum.


" Ayah Tiara mau ke toilet."


" Iya."


Tiara beranjak dari kursi langkah nya di ikuti oleh sepasang mata Brata menatap punggung Tiara sampai di balik tembok menuju toilet.


" Drie."


" Iya, Om."


" Besok, kita ke kantor Cargo darat dan laut untuk pertemuan berikutnya."


" Baik, Om."


" Om, Brata ijin ke toilet, dulu." Brata kemudian beranjak dari kursi untuk mengikuti arah Tiara.


" Iya, silahkan silahkan!" pandangan Pak Harry kemudian ke Adrie melanjutkan obrolan yang terjeda.


Di bagian dinding ruangan bertuliskan toilet pria dan wanita, Brata berdiri bersandar pada tembok tujuan nya untuk menemui Tiara.


Ketika Tiara sudah keluar dari toilet, dihadang oleh Brata hingga Tiara berhenti, Brata dengan sengaja mendekati Tiara menyisakan jarak beberapa centi saja. Mata Tiara langsung menatap wajah Brata dan memberi senyum kaku, Tiara memberi jalan untuk Brata.


" Silahkan, Tuan Brata!"


Brata menatap Tiara dingin. Namun ketikaTiara bergeser langkah ke kiri, Brata mengikuti bergeser langkah ke kiri. Tanpa berfikir macam macam pada Brata karena Tiara ingin segera kembali kemeja lalu langkah Tiara bergeser ke kanan memberi jalan kembali pada Brata, tapi Brata ikut melangkah ke kanan. Tiara menautkan ke dua alis nya.


" Kenapa, Tuan mengikuti saya?..jalan masih luas, Tuan Brata."


Brata masih tidak memutuskan pandangannya pada Tiara, Tanpa bicara.

__ADS_1


" Seperti nya, saya tidak menghalangi jalan Tuan?" ekspresi wajah Tiara biasa saja menatap Brata.


Tubuh Brata malah sengaja mendekat hingga menempel padaTubuhTiara.Tiara tersentak, tubuh nya meremang bergidik ngeri dengan tatapan Brata seperti ingin memangsa korbannya hidup hidup. Dengan tingkah Brata yang terlihat aneh Tiara memundurkan langkahnya.


" Sepertinya, Tuan yang menghalangi jalan saya, saya permisi!"


Tiara lalu melangkah hendak meninggalkan Brata,


" Dasar pea!" Tiara bersungut pelan gerakan bibirnya dikulum.


Tapi Brata mendengar sungutan Tiara, tangannya langsung menarik lengan Tiara, dan langkahnya mundur. Tiara memekik


" Akh."


Brata kembali menatap Tiara mengeluarkan aura tidak suka dengan ucapan Tiara.


" Kau bicara apa?, sangat tidak pantas." ujar Brata.


" Eugh..eumm" Tiara membeku. Kedua nya jadi saling menatap


Brata langsung ******* bibir Tiara, membuat Tiara tersentak mata nya membulat, pagutan bibir Brata sampai beberapa detik hingga akhirnya kedua tangan Tiara langsung mendorong dada bidang Brata. Nafas nya terengah engah. Namun Tiara tidak bisa berkata kata seperti terkunci dengan tatapan Brata.


" Itu hukuman untuk mulut mu yang sangat lancang."


Tiara beranikan diri karena sudah kesal pada Brata sudah menciumnya tanpa ijin.


" Helloo, bukan kah an..?"


Tangan Brata dengan cepat meraih pinggang Tiara sampai menempel pada tubuh Brata. Lagi lagi Tiara membeku.


" Apa?, heum? besok temui saya di cafe xxx jam 7 malam!, jangan sampai tidak datang!, kalau kamu tidak ingin kontrak kerjasama kita, aku tarik kembali."


" I-iya, baik lah!"


Brata kemudian meninggalkan Tiara yang masih terdiam seperti patung. Tiara bergidik mendengar ancaman Brata.


Brata sudah menjauh dan masuk ke toilet pria.


" Sinting." ucap Tiara pelan.


Tiara kemudian melangkah dan kembali ke meja. Di meja itu Adrie, Pak Harry dan juga Malik sedang berbincang. Ekspresi mereka sedang serius membahas proyek kerjasama mereka. Tiara duduk di sisi Ayah kandung nya di mana kursi itu tadi nya adalah tempat Brata ia berusaha tenang. Lalu fokus mengikuti arah pembicaraan mereka. Namun beberapa menit kemudian Brata sudah kembali dan duduk di kursi tempat yang Tiara tempati. Saat Brata duduk mata nya kembali menatap Tiara, Tiara beringsut ke sisi Pak Harry. Kursi nya ia geser lebih dekat lagi ke Ayah kandungnya, mata nya tidak berani melihat Brata.


Seperti anak kecil yang manja pada Ayahnya, tangan Tiara bergelayut pada lengan Pak Harry seperti meminta perlindungan. Pak Harry yang sedang serius bicara sesaat menoleh pada Tiara yang bergelayut manja pada nya.


" Eugh, kenapa sayang?"


" Tidak Ayah, Tiara hanya sayang pada Ayah." ucapnya lembut.


Membuat Pak Harry terkekeh.


" Kalau ada ibu mu di sini, bisa iri pada mu."


Tangan Pak Harry langsung mengusap usap pucuk rambut kepala Tiara. Membuat tiga orang pria di hadapan Pak Harry dan Tiara senyum senyum. Orang yang melihat bisa salah paham Tiara bergelayut manja pada pria tua yang istilah nya sekarang sugar Daddy padahal Ayah kandung nya sendiri.


Dalam mobil di kursi belakang Brata dan Malik masih membahas kerjasama dengan perusahaan Pak Harry. Brata memang sengaja menyetujui kerjasama itu karena di balik itu pun, Brata berniat ingin bermain main dengan Tiara.


" Mal, tolong siapkan kamar hotel untuk ku besok malam."

__ADS_1


" Baik, Tuan!, saya akan menyuruh perempuan panggilan langganan anda untuk datang."


" Tidak usah, saya tidak memerlukan nya.


" Baik."


😀😀😀


Di mobil yang berbeda Adrie dan Tiara kembali ke kantor masing masing, Adrie mengantar Tiara dulu. Sebelum sampai kantor Tiara, dalam perjalanan Obrolan mereka berdua tidak jauh membahas proyek yang sudah di setujui oleh Brata.


" Ra."


" Eum?" Tiara sambil memejamkan mata karena ia merasa sedikit lelah, namun masih menyimak pertanyaan Adrie.


" Gue lihat, Brata kayak nya suka sama, elu?"


Pertanyaan Adrie, Tiara hanya menanggapi biasa saja. Ia menarik sedikit kedua sudut bibir nya membentuk senyuman. Senyuman itu bukanlah senyuman senang tapi kecut.


" Hem, biarin ajalah, Drie, kalau dia suka."


Membuat Adrie menoleh ke Tiara yang sedang memejamkan mata, sambil fokus menyetir.


" Elu, di ajak ngobrol malah merem."


" Gue lelah, Drie..elu ngomong, juga gue masih denger."


" Ck, elu begadang semalaman?"


" Enggak, hoaamm.. rasa nya, tenaga gue hari ini terkuras, pikiran gue tadi gak fokus gara gara Brata tadi cium gue di toilet.


CITTT


Adrie tiba tiba langsung ngerem mendadak mendengar ucapan Tiara. Sehingga Tiara yang lagi terpejam kedua matanya langsung terbuka lebar lebar ia kaget kepala nya sampai maju dan mundur.


" Elu, kalau mau mati jangan ajak ajak gue!" kesal Tiara. Tangan nya memukul mukul lengan Adrie.


" E, iya iya, ampun ampun!, tadi elu bilang apa?, Brata cium, elu?, tuh!, benarkan Brata suka sama elu."


Tiara menghela nafas menjeda tanggapan Adrie.


" Drie, aku sudah malas nanggapin nya, aku hanya fokus sama perusahaan Papa Harry. Terus terang!, semenjak kita memutuskan untuk tidak ada hubungan dengan kamu, di situ gue hanya ingin membahagiakan dan menyenangkan hati ke empat orang tua ku saja. Aku sudah lelah, sama yang namanya perr cinn taaa annn. Aku sudah pernah gagal dan parah nya aku malah menjalin hubungan dengan kamu yang sudah beristri. Jadi...aku ini sekarang sudah lelah bermain main."


" Ra, waktu itu aku lihat kamu sama pria bule dan kamu berdua masuk ke dalam Taxi."


" Itu klien ku, Drie, saat itu dia meminta ku untuk menjemput nya, di bandara. Karena ia baru pertama kali nya ke Indonesia, hanya tiga hari ia berada di Jakarta dan kembali ke Inggris. Memang saat itu, aku melihat kamu, aku sengaja ingin membuat mu cemburu, tapi...kau malahan tidak peduli pada ku, yaa..memang!, pada waktu itu hati aku, masih tertanam sosok diri kamu, Drie!. Dan di mulai kamu sudah menemui aku dengan orang tua kandung ku, saat itu aku dan kamu memutuskan kita hanya sahabat saja!.


" Trimakasih, Drie!, kamu sebenarnya memberi banyak hal pelajaran yang sangat berharga!, buat aku, bahwa cinta yang sesungguh nya bukanlah cinta yang saling menyakiti, aku masih percaya bahwa cinta untuk ku adalah orang yang mau menerima ku apa ada nya. Aku mau cinta yang datang dari hati yang murni, bukan hati milik orang lain, aku sadar!, aku tidak mau bersenang senang di atas penderitaan orang lain."


Adrie tertegun.


" Maafin aku, ya!, aku juga salah, seharusnya aku menjaga mu, sebagai teman dan sahabat. Tapi, seandainya ada pria yang mendekati mu hanya untuk bermain main, apalagi sampai menyakiti mu, aku juga tidak tinggal diam. Aku akan melindungi mu sebagai, sahabat."


" Trimakasih, Drie."


" Oke, aku antar kau ke kantor!"


" Tidak usah, Drie!, antar aku ke rumah Papa Purnomo saja!, kerena lebih dekat dari jalan ini."

__ADS_1


" Siap, Tuan putri."


__ADS_2