
Devis langsung memeluk Lina erat, Lina sudah tidak terisak lagi, kepala Lina Devis rebahkan di dada kirinya. Ia mencium pucuk rambut Lina. Keduanya masih terdiam lama dalam dekapan. Hingga Lina mengucapkan sesuatu pada Devis.
" Dev sayang."
" Heum?"
" Pegal kaki ku, keram." Lina berucap pelan masih dengan kepalanya bersandar di dada Devis.
Devis terkekeh, kepala Lina kemudian melepas dari sandaran bahu Devis wajah nya kini menatap kedua mata Devis.
" Dia itu siapa?"
" Lidya, ia membantu Johan sementara selama Johan mengurus pernikahan kita."
Ucap Devis lembut, kedua tangan nya masih melingkar di pinggang Lina. Lina kembali terdiam.
" Ada yang ingin di tanyakan lagi?"
" Tidak ada." Lina menggeleng.
" Kau ingin aku mencium mu?"
Tatapan Lina menurun dan menunduk wajahnya tersipu malu.Devis langsung memajukan wajah nya dan mulai mencium bibir Lina dengan lembut. Devis memagutnya semakin dalam, kini decapan ciuman ciuman itu terdengar indah di ruangan yang sudah terasa sangat sepi.
Sepulang dari kantor Devis menjemput Lina, mereka berdua akan fitting baju pengantin. Devis menutup pintu mobil nya dan melangkah masuk ke ruko salon Lina, saat Devis masuk melewati salon para pegawai dan juga pelanggan pelanggan Lina menatap terpesona dengan ketampanan Devis.
" Hai Cogan..mau kemenong?"
Ucap salah satu pegawai Lina yang terlihat ngondek.
" Saya mau jemput Ibu Lina?" balas Devis.
__ADS_1
" Owh..ada, mari Eike antar."
" Tidak usah biar saya sendiri saja."
" Alaaamaak..baru ini eike di tolak."
Membuat pelanggan pelanggan Lina ketawa.
Setelah itu Devis ke atas dan menemui Lina.
" Sssttt..! itu tadi batangan nya Bu Lina?"
" Iya say.."
" Beuuhh...Strong pisan." ucap pelanggan Lina yang sedang di warnai rambut nya.
,
,
,
,
Devis membuka pintu ruangan Lina, Lina belum menyadari kedatangan Devis, lima terlihat sedang menatapi kertas kertas di atas meja nya.Tangan nya sebentar sebentar memijit leher belakang nya yang terasa pegal, Devis melangkah pelan setelah mendekat tepat di belakang tubuh Lina tangan Devis Tiba Tiba memijit leher belakang Lina dengan jari jari besar nya.
Lina tersentak kaget, lalu menoleh pada Lina.
" Dev."
" Dev sayang!" jari jari Devis memijit leher belakang Lina.
__ADS_1
" Dev sayang,.nanti ada lihat." Lina sedikit menghindari leher nya dari Pijatan jari jari Devis.
" Ssstt..tenanglah aku sudah kunci pintu nya."
Jari jari Devis masih memijit leher Lina, Lina mulai terasa nyaman dengan pijatan Devis. Lina memejamkan matanya.
" Kau sakit?"
" Tidak, Cuma agak mual saja."
Pijatan Devis lama lama terasa hilang rasa pegal Lina pada leher nya.
" Terimakasih Dev sayang, sudah agak enakan."
" Hari ini kita fitting baju."
" O iya..ya sudah kita jalan."
Lina kemudian berdiri dan merapihkan kertas kertas itu dan di masukan ke dalam file kabinet.
Devis sudah di berikan info dari Johan, bahwa Devis dan Lina sudah di tunggu oleh designer terkenal. Devis dan Lina langsung meluncur ketempat designer itu.
Setelah mengukur tubuh kedua nya, designer itu rencana nya akan membuat model baju pengantin yang menurut Lina sesuai dengan selera Lina, Desingner itu sudah membuat sketsa gaun pengantin Lina. Namun Desingner itu memberi saran pada Lina.
" Zes Lina, bagaimana kalau gaun pengantin nya saya buat off shoulder, karena bahu kamu indah."
Devis yang berada di sisi Lina, mempertimbangkan saran designer itu, mata nya menatap Lina, Lina yang ditatap nya minta persetujuan Devis.
" Tidak apa." balas Devis
Lina tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Devis.
__ADS_1
" Baik lah!, Pak Devis, saya akan buat baju pengantin zes Lina dengan model sangat anggun saya yakin hasilnya pasti sangat indah di pakai oleh calon istri anda Pak Devis." ucapnya ramah dan selalu mengembangkan senyum.
Pernikahan Lina dan Devis tinggal menunggu dua Minggu lagi, Persiapan pernikahan mereka sudah 80 persen, satu Minggu sebelum nya undangan pernikahan akan segera di sebarkan.