CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Lina menangis di pelukan Devis


__ADS_3

Nampak Lina sedang sibuk mengatur barang barang di toko. Devis memarkirkan mobil nya tepat depan toko itu.


" Perlu bantuan?"


" Euh?, Devis kau di sini?" tangan Lina sedang mengangkut dus dus berisi mie instant itu ke rak.


" Biar aku bantu, kau sendirian saja?"


" Ya semua pegawai ku sedang pulang kampung merayakan lebaran, Dev."


" Oh."


" Aku hanya mengatur barang barang ini agar terlihat rapi dan jarak jalan agak luas untuk di lewati."


Toko sudah terlihat rapih berkat bantuan Devis pekerjaan Lina jadi cepat selesai, Pembeli datang ada 3 orang ibu ibu mencari kebutuhan bahan bahan sembako dan juga bahan untuk membuat kue. Mereka sempat perhatiannya pada Devis.


" Bu Lina, saya kira toko nya tutup?" Ujar salah satu pelanggan Lina.


" Harus nya sih tutup Buk, karena pegawai saya sudah pulang kampung semua."


" Tapi saya mau beli bahan untuk buat kue Bu Lina, masih ada yang kurang, untung saya lihat toko Bu Lina sedang buka."


" Saya hanya beberes saja, Ibu mau beli apa?"


" Saya perlu terigu sama mentega."


" Baik Bu."


" Bu Lina punya pegawai baru ya?, pegawai ibu ganteng lho."


" Iya ya saya baru lihat."


Ibu ibu pelanggan Lina mulai menggoda Devis. Lina hanya tersenyum, namun Devis tetap pasang wajah dingin saja.


" Oh..dia saudara saya, Bu."


" Tampan dan keren lho saudara Bu Lina, boleh dong!, kita kenalan."


Membuat Lina ingin tertawa namun ia tahan.


" Mas ganteng nama nya siapa?"


" Wah kalau ada pegawai ganteng di sini saya bisa belanja tiap hari lho Bu Lina."


Devis yang hanya diam lama lama Devis mengambil sikap ramah terhadap pelanggan Lina.


" Nama saya Devis." Devis senyum pada ibu ibu pelanggan Lina.


" Nama nya Devis, keren ya nama nya kayak orangnya."


Para pelanggan Lina pun semakin akrab pada Devis, sesekali para ibu ibu itu menggoda Devis membuat Devis ikut tersenyum.

__ADS_1


Semakin siang toko Lina masih saja ada pelanggan yang berdatangan, Devis yang menemani Lina memandangi Lina yang sedang melayani para pembeli. Tutur kata Lina yang ramah dan selalu tersenyum kepada pelanggan membuat Devis terpesona karena senyuman itu.


Di waktu jam makan siang Devis berinisiatif memesan makanan karena sedari tadi Lina masih sibuk melayani.


" Ini sudah siang, sudah waktu nya makan. Aku sudah memesan makanan via online saja."


" Iya trimakasih!, Dev maaf aku tidak sempat untuk menyuruh Buk Inah membawa makanan."


" Tidak apa apa sayang."


Makanan pun sudah datang, toko sudah agak sepi Lina dan Devis mengambil kesempatan waktu untuk makan siang.


" Mari kita makan dulu!, sebelum pembeli datang."


" Oke, trimakasih Dev."


Mereka pun makan berdua.


" Toko mu sangat ramai, sayang. Sampai sampai kamu kewalahan."


" Iya memang, tapi aku senang, Dev. Ini memang sudah keinginan ku sejak dulu, dan Adrie sangat mendukung ku."


" Tidak ingin mencoba buka usaha toko yang lain?"


" Ada keinginan itu, Dev. Hanya saja aku belum tahu untuk buka usaha toko apa?"


" Aku lihat kau punya potensi untuk berbisnis, kau bisa kembangkan lagi. kau pasti mampu."


" Sebenarnya ada beberapa jenis usaha yang aku impikan."


" Yaa..seperti usaha toko butik dan salon kecantikan, Dev."


" Kalau kau mau aku bisa bantu, sayang!, untuk cari tempat lokasi dan akan aku beri modal. Bagaimana kau setuju?"


" Hah..eugh e e tidak usah Dev, itu terlalu berlebihan."


" Aku rasa itu tidak berlebihan untuk bantu kamu, ini hanya kita berdua saja yang tahu.Tenang lah!, Adrie tidak akan tahu kalau aku akan membantu mu. Ini semua untuk impian mu, kembangkan lah potensi mu kalau kau memang berbakat."


" Baik lah!, aku akan coba dan yang pasti aku bicara pada Adrie dulu."


Devis seketika langsung menggenggam kedua tangan Lina.


Hari sudah menjelang magrib, Devis membantu Lina kembali untuk tutup toko. Selanjut nya 2 hari berturut turut Devis menemani Lina di toko cabang. Devis sedikit pun tidak pergi, selalu ingin dekat dekat dengan Lina.


Hingga malam hari, Devis di kamar masih menyempatkan untuk bekerja dia sedang serius memeriksa hasil perusahaan nya di layar laptop. Dia pun juga sudah menghubungi supir nya, Parman. Untuk menjemput Devis dan mengantar nya ke bandara.


Devis ingin keluar kamar namun ia urungkan dia tidak mau di jam jam tengah malam mendengar ******* ******* itu, seperti dua malam lalu. Namun ia membuka pintu koridor kamar dan duduk memandangi langit. Namun saat berdiri mata Devis menangkap Lina sudah memakai busana tidur juga sedang berdiri memandangi langit malam.


" Lina? kenapa dia belum tidur?"


Devis masih terus memperhatikan Lina, ternyata Lina sedang menggenggam ponsel nya.

__ADS_1


" Dia sedang menghubungi siapa?"


Devis kemudian sedikit mendengar pembicaraan Lina di ponsel walaupun kedengaran nya pelan tapi Devis masih bisa mendengarnya.


" Bang kau tidak pulang?"


" Baik lah, aku mengerti."


Terlihat Lina sedang kesal ia menghembuskan nafas nya kasar dan memijit keningnya Lina pun masuk dan menutup pintu itu.


Adrie tidak pulang. Devis sudah tahu Adrie sedang bersenang senang dengan selingkuhan nya. Devis kembali duduk di koridor kamar. Lina masih belum bisa memejamkan mata nya karena memikirkan Adrie yang tidak pulang. Dia pun beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya.


Lina merasa sangat haus, ia menuju ke dapur untuk minum sambil berdiri bersandar pada sisi meja. Merasa bosan Lina ingin mengambil kunci toko nya. Ia nekat pagi pagi buta ingin membereskan toko sembako di samping rumah nya, supaya menghilangkan rasa kekesalan dan kegundahan nya pada Adrie. Ia pun mencari kesibukan.


Lina melewati ruangan yang gelap lampunya sudah padam. Tangan nya kemudian meraih kunci toko pada hanger kunci. Saat ia membalikan badan nya.


" Akhh..Devis?, kau belum tidur?"


Devis ternyata sudah berdiri di balik tubuh Lina kedua tangan ia lipat ke dada nya. Wajah nya dingin menatap Lina, membuat Lina sedikit bergidik.


" Kenapa kamu selalu membuat ku terkejut?, hheuhh ." Lina menghela nafas.


" Dev, ada apa?, kau membuat ku takut." Lina merasa susah menelan saliva nya, ia memandang Devis dan memundurkan langkah nya.


" Apa yang sedang kau lakukan malam malam buta seperti ini, hemm?"


" A a aku tidak bisa tidur, Dev."


" Kau menunggu suami mu?" Ucap Devis masih dengan sikap dingin.


" I i ya makanya a a aku sebaik nya membereskan toko saja."


" Kau gila, ini masih larut malam tunggulah beberapa jam dulu!"


" Ta ta tapi...Dev. A a aku hanya ingin mencari kesibukan saja, Dev."


" Kau seperti sedang kesal dan kau gelisah karena Adrie tidak pulang?, apa sesering itu suami mu tidak pulang?"


Lina dengan cepat menyangkal pertanyaan Devis. Ia menggeleng gelengkan kepala.


" Ti tidak seperti itu, Dev." Lina menunduk.


" Lalu kenapa?" Devis kembali bertanya kepalanya ikut menunduk menanti jawaban Lina. Tapi Devis mendengar isakan tangis dari mulut Lina, Rupanya Lina menangis sambil menundukkan kepalanya.


Tangan Devis memegang dagu Lina untuk menatap Devis. Air mata Lina sudah menetes di pipi. Devis langsung memeluk Lina kepala Lina Devis sandarkan pada bahu nya tangan nya membelai rambut Lina yang Lina ikat Cepol namun Devis melepaskan ikat rambut itu dan membiarkan rambut Lina terurai.


Dalam pelukan Devis, Lina tidak berkata apapun yang keluar hanya suara isakan tangis saja. Devis semakin mengeratkan pelukan nya dan menciumi rambut kepala Lina. Naluri kelakian nya mulai muncul menciumi Lina dari rambut dan menyampirkan rambut Lina ke telinga. Bibir Devis mengecup telinga Lina dan menjalar ke pipi kiri Lina.


Lina mendongakkan wajah nya kedua tangan Devis menyentuh kedua pipi Lina, dengan ibu jari nya Devis menghapus air mata Lina. Devis pun mengecup kedua bibir Lina. Lina membalas ciuman Devis, mereka saling memagut dan semakin memperdalam ciuman keduanya hingga menimbulkan suara decapan dari mulut mereka.


Mereka menghentikan ciuman sejenak untuk mengambil nafas. Dada Lina naik turun, nafas Devis terdengar sudah berat. Tapi Lina agak ragu untuk kembali berciuman, mereka masih saling memandang. Bibir Devis kembali memagut bibir Lina, lidah nya sudah memainkan langit langit mulut Lina. Lina hanya memejamkan mata menikmati kecupan bibir Devis yang kini sudah menjalar ke leher Lina.

__ADS_1


Tangan Devis mulai menjajah dada Lina yang sedari tadi sudah tidak memakai bra. Devis remas dada kanan Lina dengan lembut dari luar baju tidur Lina yang tipis, Lina memekikkan suara nya pelan. Remasan Devis sangat terasa di kulit. Aksi tangan Devis terhenti. Devis tersenyum menatap manik mata Lina yang sudah sangat mendamba.


Devis langsung menggendong Lina ala bridal ke ranjang kamar Devis. Kemudian Devis menutup pintu kamar dan mengunci nya.


__ADS_2