
"Lina...." Devis memanggil masih jarak tidak terlalu dekat, Lina langsung memandang Devis
" uncle Devis... " .Teriak Sakya kemudian disusul Aileen yang juga memanggil Devis.
" Kak Devis..? Lina memundurkan kursi dan berdiri.Sakya dan Aileen sama sama berlari menghampiri Devis, tangan kanan kirinya merangkul dua anak itu dan menciumi pipi Sakya dan Aileen.
" Kalian dari mana?"
" Kita habis dari jalan jalan Ke Du**n Uncle Dev." Devis menganggukkan kepala."
Devis menggandeng Sakya dan Aileen dan mendekati Lina yang masih berdiri.
" Apa kabar Lina?"
" Kabar baik kak Dev...mari kak! duduk bergabung dengan kami." Lina berinisiatif mengambil kursi di meja yang kosong, namun buru buru Devis yang mengambil kursi.
" Biar aku saja yang ambil kursi." Devis kini duduk disamping Lina.
" Adrie mana... tidak bersama kalian?"
" Dia tidak ikut bersama kami, kak." Bang Adrie menjaga toko. Jawab Lina.
" Kak Dev sudah makan? biar sekalian ikut makan bersama kami."
" Tidak usah aku sudah makan."
" Kita bisa kebetulan yaa! bertemu disini."
" Iya Lina..aku memang lagi ada urusan bisnis dengan pemilik restoran ini." Jelas Devis
" Oh..begitu."
" Bapak Yudo pemilik restoran ini mengajak kakak untuk ikut ambil andil usaha restoran ini dan yang kakak liat restoran ini agak sepi..jadi maksud kakak mau membantu beliau."
" Itu Bapak Yudo dan sekertaris Johan disana."
Tangan Devis menunjuk kearah meja Johan dan Yudo.
Seketika mata mereka beradu pandang membuat Lina langsung menunduk dan sedikit gugup.
" Oh iya Lina boleh aku meminta nomor ponsel mu?"
" Oh boleh kak! biar aku ketik nomor aku di ponsel kakak." Lina mengetik angka nomor ponselnya, disaat itu Devis menatap Lina lekat lekat.
" Ini kak nomor ku."
" Oh oke aku simpan yaa, trimakasih!.
" Habis ini kalian langsung pulang?"
" Iya kak, anak anak besok sudah masuk sekolah."
Sakya kemudian memanggil Devis
" Uncle..uncle kapan datang kerumah?"
" Iya Sakya, Uncle pasti datang."
Mereka telah selesai makan dan segera untuk pulang .
" Ya sudah kak Dev, kami duluan yaa."
" Iya Lina, nanti boleh kah aku menghubungi mu?"
Lina sedikit ragu untuk menjawab.
" Iya boleh kak."
Devis mengantar sampai diparkiran.
" Hati hati dijalan ya!.
Devis tersenyum menatap Lina, membuat Lina jadi salah tingkah.
" Mari kak Dev."
__ADS_1
" Dah Sakya dah Aileen..."
Adrie sudah berada dikamar ia tidak bisa tidur karena menunggu Lina dan dan anak anaknya. Merasa bosan ia mengambil ponselnya untuk menelpon istrinya tapi tidak jawaban. 15 menit terdengar suara deru mobil Adrie segera keluar.
Lina turun dari mobil dan menggendong Aldeen Adrie buru buru membantu Lina, Aileen juga sudah tertidur sedari tadi diperjalanan Buk Inah menggendong Aileen dan langsung masuk kedalam kamar anak.
" Malam Tuan."
" Malam Buk Inah."
Tanpa bicara sepatah kata keluar dari mulut Lina, Adrie hanya menatap Lina yang sedang menidurkan Aldeen, kemudian matanya mengekor Lina menuju kekamar mandi luar untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat.
Adrie hanya diam duduk di sofa ruang tv, ia masih belum bisa berbuat apa apa terhadap istrinya. Lina selesai mandi masuk kamar untuk mengambil pakaian ganti kemudian ia masuk kamar anak untuk beristirahat.
Saat menutup pintu Lina bicara kepada suaminya.
" Aku istirahat dulu mau tidur! jangan lupa matikan lampunya!. Kemudian Lina langsung menutup pintu. Adrie hanya menganggukkan kepala sambil menatap kearah Lina.
Adrie menyalakan sebatang rokok memikirkan istrinya mungkin Lina akan terus tidur dikamar Aldeen Dan Aileen entah sampai berapa lama.
Puntung rokok masih setengah dihisap ia matikan dan memutuskan untuk masuk kamar. Adrie dan Lina sebenarnya belum bisa memejamkan mata, walaupun beda kamar namun hati dan pikiran mereka sama sama memikirkan keadaan berdua.
Hingga menjelang pagi Lina sudah membuat sarapan untuk suami dan anak anaknya ia sudah diingatkan oleh Buk Jum untuk tetap melayani suaminya walau hati sedang terluka.
6 bulan berlalu sudah Lina dan Adrie masih tidur pisah kamar, Adrie selalu pulang tepat waktu hanya sekali kali saja ia pulang malam karena ada urusan pekerjaan itupun Adrie selalu mengirim pesan pada istrinya walau Lina tidak pernah balas pesan darinya. Adrie sangat berharap istrinya menelpon atau kirim pesan disaat ia dikantor atau pulang telat. Ini yang membuat Adrie bertanya tanya apakah istrinya benar benar sudah tidak peduli lagi?.
Hingga pada puncaknya Adrie sudah tidak tahan lagi diperlakukan oleh istrinya, Adrie sudah tahu ternyata Lina diam diam membeli sebuah rumah tanpa persetujuan darinya ia hendak menanyakan apa maksud dari semua itu?.
BRAKKK!
Adrie turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras ia melebarkan langkahnya masuk rumah mencari istrinya. Buk Jum dan Buk Inah tersentak kaget.
" Buk Jum..Buk Inah."
Pengasuh dan asisten pembantu itu buru buru menghampiri Tuannya yang saat ini mereka lihat sedang marah.
" I iiya Tuan ada apa memanggil kami?"
" Mana Nyonya kalian?"
Buk Jum dan Buk Inah bingung dan ketakutan melihat Tuannya sedang tidak baik.
Tak lama Lina datang bersama Sakya dan Aileen.
" Buk Jum dan Buk Inah tolong! bawa anak anak keluar dulu saya ada urusan penting sama Nyonya."
" Ba ba baik Tuan!. Mereka berdua merasa kuatir dengan Lina, takut Tuan Adrie bertindak kasar kepada Nyonya mereka.
Begitu Lina sudah masuk kedalam rumah Buk Inah dan Buk Jum langsung mengajak Sakya dan Aileen keluar. Lina yang baru tiba nampak bingung terhadap Buk Jum dan Buk Inah.
Adrie yang melihat istrinya sudah berada dirumah memanggilnya dengan kasar.
" Heyy..sini kamu istri LAKNAT."
Lina kaget dan beringsut ketakutan dengan suaminya yang berkata kasar mukanya merah sedang marah besar.
Lina yang gemeteran terpaksa mendekat.
SREKK!
Adrie melemparkan map tepat dimuka Lina.
Lina mengambil map itu dilantai.
" Maksud kamu apa? membeli rumah tanpa sepengetahuan ku? HHAAH" Adrie membentak.
Lina yang tidak terima diperlakukan kasar membalas ucapan Adrie.
" Iyaa!... aku memang membeli rumah diam diam tidak perlu harus lapor kamu."
" Ooo begitu..! kamu ingin bercerai denganku?..silahkan! asalkan kamu tahu aku tidak akan menyetujui itu, sampai kapanpun."
" Kenapa memangnya? kamu sudah berkhianat dan aku tidak bisa maafin kamu!
secepatnya aku dan anak anak akan pergi dari rumah ini."
__ADS_1
" Jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini apalagi bawa anak anak."
" Kalau begitu jangan harap juga aku bersikap baik sama kamu! walau kita tinggal satu atap.. urus urusan kita masing masing! aku juga sudah muak menghormati kamu sebagai suamiku."
Adrie menantang Lina kedua tangannya dilipat ke pinggang matanya menatap nyalang rahangnya mengeras sampai giginya menggeretuk. Kesal dengan ucapan istrinya yang sudah sangat lancang bicara kepadanya, tak ada lagi Lina yang penurut dimata Adrie.
Begitu Lina hendak meninggalkan Adrie tangan Adrie langsung menarik lengan Lina dengan kasar.
" Lepasin!...jangan sekali kali kamu menyentuh ku!...aku jijik sama kamu."
Adrie semakin tertantang dengan ucapan istrinya. Ia semakin kencang memegang tangan Lina, membuat Lina kesakitan di pergelangannya.
" Aww...sakit!! lepaskan tanganku..bajingan."
Lina memberontak.
" Kita lihat seberapa jijik kamu terhadapku?"
Tiba tiba Adrie mengangkat tubuh Lina seperti memanggul karung beras,
" Turunkan aku bajingan!"
Adrie langsung menghempaskan Lina dengan kasar ke ranjang kamar tidur mereka hingga membuat tubuhnya berkali lipat kesakitan.
Adrie mengunci pintu dan langsung menindih Lina di atas tubuhnya Adrie mengunci kedua tangan Lina disisi bantal.
" ADRIE!! kamu apa apaan sih."
" Kamu berani menantang ku? kamu sudah berani melawan suami mu ini? Hahh."
" Iyaah..! aku tidak sudi jadi istri kamu lagi! kamu penghianat! kamu selingkuh!... sekali selingkuh akan terus selingkuh! aku sudah tidak tahan kamu bejat."
" Ow ow hemm..mulut kamu harus diberi pelajaran!"
PLETAK!
Jari tangan kanan Adrie menyentil sudut bibir Lina.
" Bang*at kamoo."
Adrie kembali menyentil sudut bibir kanan dan menambah sentilan disudut bibir kirinya.
Lina berusaha menahan sakit dari sentilan jari adrie dan juga berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
" Katakan lagi..ayo! keluarkan semua kata kata kotor mu untuk suami mu ini, istri lancang."
Lina diam dadanya naik turun nafasnya terengah engah, Adrie sedikit pun tidak lepas tatapan pada mata istrinya.
" Minggir kamoo! kamu tuh berat, tau gak?"
Lina menghindar dari tatapan Adrie wajahnya menoleh kesamping.
" Lihat aku istri laknat!"
Lina tetap menoleh tidak mau menatap muka suaminya. Adrie mencengkram kedua pipinya dengan satu tangan hingga bibir atas bawah membentuk kerucut memaksa untuk menatap Adrie. Lina memejamkan kedua matanya erat sampai timbul garis kerutan disudut mata. Adrie mengambil kesempatan ******* bibir istrinya dengan kasar.
" Buka mata kamu!"
Lina tetap pada pendiriannya dan menggeleng. Adrie dengan kasar kembali melu*at bibirnya dan dengan sengaja menggigit bibir bawahnya, membuat Lina membuka mulutnya, Adrie semakin gila memainkan lidahnya ke langit langit mulut Lina dan meng**sap lidahnya dengan kencang, mau tak mau mata Lina terbuka. Adrie melirik dan tersenyum iblis merasa menang.
" Puas kamu nyakitin aku, bangsat!"
" Belum..istri laknat!"
Tangan Adrie mere**s da** kiri Lina dari luar baju, bibirnya mulai menciumi leher putih Lina membuat tanda merah kemudian menjalar ke seluruh leher Lina.
" Sudah cukup Adrie..!"
Adrie bukannya berhenti tangannya masuk kedalam blus menelusup bawah branya.Tidak sampai disitu ia membuka pengait bra dan sekaligus menarik blusnya keatas meloloskan dari kedua tangan istrinya. Blus itu dibuang Adrie membuka kemeja dan melemparnya. Lina sudah tidak tahan ini kedua kalinya Adrie memaksa untuk berhubungan badan.
Lina sudah merasa jenuh dengan perlakuan suaminya.
" Aku tidak mau!"
Adrie sukses menelanjangi tubuh Lina, kemudian Adrie cepat cepat membuka seluruh kain yang masih menempelnya.Dua duanya sudah polos. Adrie menyeringai nafasnya terdengar berat karena menahan nafsu selama 6 bulan tidak bergumul.
__ADS_1
.