
Pukul 04.00 pagi Lina sudah bangun menyusul Buk Jum yang sudah berkutat didapur. Matanya yang sembab habis menangis jadi perhatian asisten pembantunya itu.
" Pagi Buk Jum.."
" Ehh...pagi Nyonya... lho! Nyonya kenapa sudah bangun, ini masih pagi sekali."
" Gak apa Buk Jum."
" Nyonya seperti habis menangis ada apa ya dengan beliau?" Apa sedang bertengkar dengan Tuan Adrie?. Buk Jum bicara dalam hati ingin bertanya namun ia tidak berani.
" Buk Jum.."
" Iya Nyonya."
" Hari ini saya mau ke Bank..tolong masak seperti biasa yaa! dan sehabis dari Bank saya mau keluar ada urusan penting."
" Baik Nyonya!
" Dan nanti kalau Bu Inah sudah datang, anak anak sudah harus sarapan dan mandi siapkan juga baju baju anak masukan didalam tas..sepulang dari Bank saya akan jemput."
" Baik Nyonya! .Buk Jum mengangguk mengiyakan perintah majikannya.
" Sekarang biar saya saja Buk Jum yang masak untuk sarapan."
Kemudian Buk Jum meninggalkan majikannya dan pergi ketempat cucian baju.
Lina yang hatinya masih sakit merasa sedih mengingat kejadian kemarin siang, kembali kedua matanya berkaca kaca.
Tak kuasa rasanya dengan masalah yang sedang dia hadapi sekarang ini.Tak ada semangat untuk memulai rutinitasnya.
Tubuhnya tiba tiba lemas tak bertenaga menarik kursi dengan pelan dan terduduk bahunya ia sandarkan menatap langit langit dengan berurai air mata yang mengalir ke sisi hidung mancungnya dan dibawah pelipisnya,
Lina terisak pelan, walau Isak tangisnya pelan
tak pelak menjadi perhatian buk Jum yang menangkap pendengarannya seperti ada yang sedang menangis.
Buk Jum berjalan pelan mencari sumber suara yang sedang terisak, namun ternyata majikannya sedang menangis didapur, wanita separuh baya itu mau tidak mau menghampiri Lina.
" Nyonya kenapa menangis? Tanya Buk Jum lembut.
Lina yang tidak sadar keberadaan asisten pembantunya sudah berdiri disamping Lina mukanya menoleh Buk Jum, Lina semakin menjadi jadi tangisannya.
Buk Jum langsung berinisiatif mengambil segelas air putih untuk diberikan ke Lina sang majikannya.
" Ya Allah Nyonya.. ayo! minum dulu biar tenang nduk."
Tangan Buk Jum menopang bahu Lina agar tubuh Lina duduk tegap sambil memegang gelas membantu memberi minum karena melihat tangan Lina sudah gemetaran saat megang gelas.
Air putih diminum sampai setengah gelas oleh Lina, sambil Buk Jum mengusap usap bahu Lina seakan memberi kekuatan.
" Maaf Nyonya...! kalau saya lancang, Nyonya ada masalah' kah? kalau ada masalah mungkin saya bisa bantu."
Ingat...anak anak Nyonya!"
Lina langsung memeluk pinggang Buk Jum sambil terisak.
" Menangis lah! Nyonya keluarkan semua tidak apa apa biar lega..." Ceritakan kalau nyonya mau cerita ke saya."
__ADS_1
10 menit Lina menangis di pelukan Buk Jum hingga sisa sisa suara Isak tangisnya saja. Kemudian wajah Lina menengadah menatap Buk Jum. Ibu jari Buk Jum menghapus air mata Lina dengan lembut.
" Trimakasih yaa Buk..!" Lina berucap pelan dengan wajah sendu.
" Iya tidak apa apa nduk..! menangis itu perlu biar hati kita lega tenang tapi...sesudah itu cukup..Nyonya harus kuat."
" Nduk...tidak ada yang namanya rumah tangga yang tidak bermasalah.Tapi...setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan harus dibicarakan baik baik."
Lina yang tersedu sedu mendengarkan ucapan Buk Jum.
" Bapak telah berselingkuh, saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri."
" Ya Allah...! kok tega sekali Tuan Adrie, yang sabar yaa nduk!"
Lina mengangguk pelan.
" Apa yang harus saya perbuat Buk..?" sakiiit hati saya Buk."
" Saya tidak mau bicara sama Bapak lagi, saya sudah tidak mau peduli lagi."
" Jangan nduk!, biar bagaimana pun Nyonya harus tetap mengabdi terhadap suami."
" Kesalahan besar apapun Tuan Adrie, masalah besar apapun...Nyonya jangan sekali kali meninggalkan rumah, ingat ada anak anak!"
" Tapi saya benci sama Bapak sekarang!"
" Nyonya..saya yakin Tuan pasti sekarang sudah menyesalinya,..saya tahu Tuan sangat sayang sama nyonya, hanya saja Tuan sudah melenceng saja jalan hidupnya.Tugas Nyonya yang harus meluruskan jalannya sekarang!"
Seketika Lina menatap lekat Buk Jum merasa hatinya terketuk dengan ucapan Buk Jum.
" Nyonya boleh pergi..tapi bukan untuk meninggalkan rumah selamanya! tapi..pergi sekedar untuk menenangkan pikiran hanya beberapa hari saja, tidak apa apa asal tetap minta ijin kepada Tuan."
" Nduk dengarkan Ibu!..kalau Nyonya pergi meninggalkan Tuan, sama saja Nyonya memberi peluang kepada wanita selingkuhan Tuan Adrie atau wanita diluar sana."
" Ingat jangan kasih celah kepada wanita itu!"
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 06.00 Buk Jum dan Lina selesai bercakap di dapur hingga terdengar suara pintu kamar dibuka.
Klek!
" Mama..mamaah" Aldeen keluar memanggil Lina.
" Iyaa sayang! mama disini nak."
" Ya sudah saya tinggal dulu yaa nyah! mau nyuci dulu."
" Iya Buk..! Trimakasih sekali lagi, rasanya saya jadi punya dua ibu."
Buk Jum tersenyum hatinya menghangat dengan ucapan majikannya.
" Sama sama."
Lina kemudian menghampiri Aldeen kedua tangannya direntangkan.
" Anak mama yang ganteng sudah bangun..hhm!" Lina mencium kedua pipi Aldeen dengan gemas.
Tak lama Aileen pun juga sudah bangun dan menghampiri Lina.
__ADS_1
" Mama kemarin kemana saja kok pulangnya lama banget?"
" Iya sayang mama ada urusan jadi mama pulangnya malam..maafin mama yaa!"
Ceklek
Sakya yang baru keluar dari kamarnya tangannya sambil mengucek mata melihat mamanya sedang bersama kedua adiknya. Sakya sudah punya kamar sendiri sejak ia sudah masuk sekolah dasar, ia sendiri yang meminta dibuatkan kamar pada papa mamanya.
" Pagi mama!"
" Pagi Sakya ganteng..sini! cium mama dulu."
Sakya langsung mencium kedua pipi mamanya.
" Kalian sarapan dulu yaa! hari ini kan hari libur.. bagaimana kalau kita jalan jalan?"
" Hayoo mah! aku juga bosan nih..belajar terus." ucap Sakya semangat.
Sedangkan Aileen dan Aldeen langsung menarik narik tangan Lina merajuk.
" Ayo Mama sekalang aja jalan jalannya..!"
Aldeen yang masih cadel bicaranya terlihat lucu karena bibir mungilnya membentuk seperti tokoh kartun tweety. Membuat Lina kembali mengecup bibir Aldeen.
" Iyaa mama sekarang saja!. Timpal Aileen.
Tiba tiba suara Adrie menyahut dari pintu kamar dan sudah berdiri. Membuat Lina menoleh ke Adrie .
" Kalau belum mandi dan belum sarapan tidak boleh jalan jalan!"
" Papa...papa gendong aku!"
Aileen langsung menghampiri Adrie dan meminta untuk digendong oleh papanya.
Adrie langsung menggendong Aileen.
" Huuhh Adek Aileen iri yaa sama Dedek Aldeen biar digendong juga." Sakya menggoda Aileen.
" Ya sudah kita hari ini jalan jalan ke..?"
Adrie pura pura mikir, yang sebenarnya ingin menggoda istrinya.
" Ke..Taman Sa**RI
" Ke Duf** aja bang Sakya!. Aileen protes.
Lina yang diam saja akhirnya bicara.
" Sakya, Aileen mama hanya mengajak kalian jalan jalan bersama Buk Jum dan Buk Inah saja yah!"
Adrie hatinya berdesir dengan kata kata Lina, ia tahu istrinya lagi tidak mau didekati.
" Trus papa tidak ikut?"
" Tidak Sakya papa hari ini jaga toko mama saja ya!"
" Ayo anak anak sarapan dulu kemudian kalian mandi!"
__ADS_1
Adrie kemudian beringsut masuk kekamar lagi.