
Setelah melihat melihat bangunan itu. Devis, Lina dan pemilik bangunan ruko itu bernegoisasi.
" Sayang, bagaimana kau tertarik?"
" Ya Dev, aku tertarik dengan bangunan ini. Tempat nya juga strategis."
Devis tersenyum.
" Jadi bagaimana dengan penawaran harga yang saya ajukan Pak acheung?"
" Haiaa, Tuan naikin sedikit harga nya!'
" Tapi sudah banyak kerusakan bangunan ini!"
" Cincai lah, tapi ruko ini strategis, ay jamin Tuan.Tapi jangan segitu lah Tuan cuan nya."
" Oke baik, Saya ambil ruko ini."
" Sie sie Tuan. Semoga beruntung usaha Nyonya, biar tambah cuan nya."
Setelah bernegoisasi Mereka turun. Devis memerintahkan pada Johan untuk segera di renovasi bangunan ruko itu.
" Jo."
" Iya Pak Devis."
" Segera perintahkan pada anak buah mu, untuk merenovasi ruko ini. Dan buat surat kepemilikan atas nama Bu Lina!"
" Baik Pak Devis."
😍😍
Adrie dan Pak Harry juga Ibu Marlina sudah sampai di kantor kepolisian. Mereka sudah di tunggu oleh penyidik.
" Mari Bapak Ibu, saya antar ke ruang introgasi."
" Baik." Ucap Pak Harry.
Mereka pun langsung bergegas tidak sabar rasa nya mereka ingin tahu orang yang telah menculik putri Pak Harry. Bu Marlina sebagai ibu yang telah melahirkan putrinya pun rasa nya gregetan, sakit rasa nya telah di pisahkan putrinya dari kedua orang tua nya.
Namun di saat mereka sudah masuk, Pak Harry yang ingin marah dan ingin bertindak kasar dia urungkan. Karena Dua orang tersangka sudah lanjut usia tubuh kedua nya pun sangat kurus dan ringkik Pak Harry tak tega. Dua orang tersangka itu sedang menundukkan kepala dan menitikkan air mata.
" Tolong maaf kan kami, kami sudah menyesali nya." Ucap tersangka yang ditaksir sudah berusia 70 tahun. Beda dengan Adrie yang mulai tersulut emosi. Adrie langsung mendekati dan langsung menarik kaos Bapak tua itu.
" ADRIE JANGAN!" Ucap Pak Harry mencegah Adrie. Buru Buru satu orang penyidik melepaskan tangan Adrie yang sudah menarik kaos tersangka itu.
" Ampuun Pak, saya mohon ampun!". Ucap Bapak tua dengan suara bergetar.
" Sabar Nak Adrie!". Balas Ibu Marlina.
" Tahan emosi mu, Drie!, Mereka sudah tua sama seperti Om."
Adrie pun menghela nafas untuk menurunkan amarah nya.
" Iya Om."
Pak Harry kemudian minta penjelasan pada kedua tersangka, kenapa sampai harus menculik putri Pak Harry dan Ibu Marlina.
" Tolong jelaskan pada kami, kenapa Bapak bapak sampai menculik putri kami?" Tanya Pak Harry.
Kemudian kedua tersangka yang pekerja hari hari nya hanya mencari rumput di pinggir jalan tol itu mulai menjawab.
" Baik Pak, pada saat itu saya sedang membutuhkan uang. Istri dan anak saya sedang sakit parah, anak saya butuh biaya yang besar untuk operasi." Jawab nya dengan terisak nangis. Sedangkan teman nya hanya diam menunduk kepala.
Kemudian Bapak tua itu mulai menceritakan kronologi kejadian 25 tahun lalu.
⚡Flash Back.
Selepas magrib Pak jali sedang menemui sahabat nya Pak Usman, yang sedang duduk termenung di teras rumahnya.
__ADS_1
" Usman gimana istri mu?, sudah sembuh belum?" Tanya Pak Jali sambil menyodorkan sebatang rokok untuk Pak Usman.
" Istri ku, besok mau aku bawa ke puskemas saja Li, tapi anak ku sakit nya parah Li..aku sudah periksa ke dokter harus di operasi. Aku bingung Li..duit dari mana?, untuk operasi butuh biaya 10 juta."
" Kamu cari pinjaman saja, Us !"
" Gak Li, hutang saya juga sudah banyak. Itu juga belum aku ganti."
" Ya Allah Us, aku juga gak bisa bantu kamu."
" Jangan Li!, aku juga tahu keadaan kamu."
" Ya sudah Us, ikut aku aja yuk!"
" Kemana Li?,
" Ke rumah Pak Purnomo, beliau orang berduit. Barangkali beliau bisa bantu kamu."
" Ya sudah kita ke rumah nya."
Pak Jali dan Pak Usman pun pergi ke rumah Pak Purnomo. Namun ketika sudah hampir tiba di rumah Pak Purnomo. Pak Jali dan Pak Usman mendengar percakapan suami istri itu di teras rumah. Mereka berdua jadi ragu untuk bertamu karena mendengar istri Pak Purnomo sedang menangis.
" Maaf kan Aku ya Mas, sudah hampir 10 tahun aku belum bisa memberi mu anak."
" Sabar lah istri ku, Mas tidak mempermasalah kan kamu untuk harus punya anak."
" Hiks hiks.. iya tapi..Mas."
" Ya sudah, Mas sayang sama kamu."
" Mas, bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja. Aku mau Mas mengurus nya."
" Tapi Sayang apa harus segitu nya?, kamu yakin ingin mengadopsi anak?"
" Iya Mas, barangkali itu jalan satu satu nya agar kita bisa di beri keturunan. Istilah orang mancing anak."
" Sungguh Mas, Mas setuju?"
" Iya sayang."
setelah mendengar percakapan suami istri itu. Pak Jali Dan Pak Usman tidak berani untuk bertamu. Mereka pun pergi karena merasa tidak enak.
" Li tidak usah aja, aku tidak enak mereka sedang sedih."
" Yaa sudah besok saja kita kemari lagi!
" Iya Li."
Pak Jali dan Pak Usman akhirnya pergi dan mereka jalan tidak ada arah tujuan. Karena sedang bingung.
Sampai akhir nya mereka duduk di kursi kayu di bawah pepohonan yang jarak nya agak jauh dari sisi jalan tol. Hingga pukul 10 malam mereka berdua ingin pulang kerumah masing masing. Namun Baru saja melangkah mereka mendengar suara seperti suara ledakan sangat keras, dan suara ban mobil mendecit
CCYIIITTT
BRUKKGGG
BRAKKK
Dan suara klakson mobil yang tidak berhenti bunyi nya.
TIIIIIIIIINNNNNNNN
Pak Jali dan Pak Usman pun sontak kaget dan menghentikan langkah mereka untuk pulang.
" Li ada kecelakaan mobil."
" Iya Us, Ayo kita lihat!"
Mereka pun menyebrangi jalan tol itu, di mana jalan tol itu sudah sangat sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Karena sudah malam.
__ADS_1
Pak Jali dan Pak Usman mendekati ke tempat kecelakaan itu. Mereka melihat kondisi Mobil truk sudah terbalik, sang supir truk sudah tak bernyawa. Kemudian mereka melihat ada mobil sedan yang mana kondisi badan depan mobil sudah hancur.
Pak Jali melihat suami istri itu dalam keadaan sudah berlumuran darah, entah mereka apa masih hidup atau sudah meninggal?. Namun Pak Jali tiba tiba mendengar suara tangisan anak kecil yang masih berusia hampir dua tahun, Sedang memanggil mama nya.
" Mama..huuuu..mama."
Pak Jali dengan cepat membuka pintu mobil yang terkunci dari dalam. Ia lalu memecahkan kaca mobil untuk membuka pintu.
Nampak seorang anak balita juga sudah keadaan berdarah pada kening nya. namun tidak begitu parah luka nya.
" Us ada anak kecil, sebaik nya kita tolong dulu."
" Iya Li."
" Bagaimana dengan orang tua anak ini Li?, kayak nya mereka masih hidup."
" Kita tunggu mobil yang lewat untuk minta pertolongan."
Namun mobil yang lewat belum juga ada.
" Li bagaimana ini?, mereka bisa mati kehabisan darah."
Anak kecil itu masih terus menangis.
" Sabar ya Nak, Bapak akan cari pertolongan."
Di lihat oleh Pak Jali anak balita itu sangat cantik lucu dan menggemaskan. Kemudian terlintas di pikiran Pak Jali untuk membawa nya.
" Us kemari!"
Usman yang lagi menggendong anak kecil itu menghampiri Pak Jali.
" Us, kamu butuh uang kan?, bagaimana kalau anak ini kita bawa ke Pak Purnomo. Mereka kan ingin adopsi anak."
" Iya ya Li,..kamu yakin Pak Purnomo mau menerima anak ini?"
" Kita bawa saja dulu, anak ini. Ayo Us mumpung lagi sepi, sebelum ada yang datang melihat kita."
" Tapi bagaimana dengan suami istri itu, Li ?"
" Mereka masih hidup biarkan saja, akan repot nanti kalau salah satu dari mereka sadar dan mencari anak ini."
Pak Usman yang masih diam ragu ragu untuk mengikuti Pak Jali.
" Sstt...Ayo buruan!, kenapa malah diam?"
" I i iya Li."
Mereka akhir nya sampai di depan rumah Pak Purnomo. Mereka memberanikan diri nekat untuk mengutarakan maksud dan tujuan mereka.
TOK TOK
" Siapa malam malam begini bertamu?"
" Malam Bu."
" Malam Pak Jali, ada apa malam malam begini kerumah saya?"
Pak Usman yang sedang menggendong anak kecil muncul di hadapan Bu Purnomo.
" Pak Jali, kenapa dengan anak ini, dia terluka?"
Namun Bu Purnomo langsung menggendong anak itu. Di lihat oleh Bu Purnomo anak kecil itu sangat cantik dan menggemaskan. Bu Purnomo langsung jatuh cinta pada anak kecil itu.
" Ada apa sayang?" Tanya Pak Purnomo yang baru muncul.
" Ini lho Mas, Pak Jali membawa anak ini. Anak nya cantik dan menggemaskan.
Pak Purnomo pun, mulai menerka nerka Pada Pak Jali atas kedatangan nya dengan membawa anak itu. Mereka pun di suruh masuk, untuk membicarakan maksud dan tujuan Pak Jali dan Pak Usman.
__ADS_1