CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Rindu Yang Tak Tertahankan


__ADS_3

Ajeng yang lucu dengan lontaran kata kata bahasa waria membuat Lina selalu tertawa kadang sampai sakit di perut nya. Kata kata Ajeng memang sangat frontal.


" Tenang say!, yei eike dandanin bukan dandanan ala ala nyebong pokok nya."


" Apalagi sih itu artinya Mba Ajeng?"


" Iihhh, ngelo**e."


" Hahhaha..Mba Ajeng bisa saja."


Lina sedang menikmati pijitan pijitan seluruh tubuh nya sampai pijitan di kepala, saking menikmati pijitan pijitan itu Lina sempat tertidur. Kemudian Ajeng memotong sedikit rambut Lina yang panjang sebahu membentuk oval. Terakhir riasan pada wajah Lina dibuat natural oleh Ajeng. Setelah berganti pakaian, Ajeng dan dua orang pegawai nya kagum akan kecantikan Lina yang begitu sempurna.


" Waw Nyonya sangat cantik." Ucap salah satu pegawai salon Ajeng.


" Yei memang sudah cantik, jadi tidak perlu berlebihan dandanan nya."


Lina masih berada di depan cermin, ia sangat puas dengan hasil karya nya Mba Ajeng.


" Mba Ajeng makasih yaa!"


" Iya say!"


Setelah Lina melakukan pembayaran dan tips untuk dua pegawai salon, Lina pun keluar dan menuju mobil nya.



Lina sudah sampai di sebuah cafe manca negara. Sekretaris Johan menghampiri Lina.


" Selamat siang, Nyonya."


" Selamat siang Pak Johan, apa kabar?"


" Kabar saya baik Nyonya, trimakasih. Tuan Devis sudah menunggu anda Nyonya, mari ikut saya!"


" Oh, oke baik lah."


Lina mengikuti Johan, di mana Johan akan membawa Lina ke sebuah privet room cafe hotel. Ruangan itu letak nya di paling atas atap.


" Permisi Pak Devis. Nyonya sudah datang."


Devis yang sedang berdiri melihat pemandangan kota di sisi kaca jendela, langsung membalik kan badan nya menatap Lina yang masih berada di samping Johan. Johan langsung membungkuk hormat pada Tuan nya dan keluar dari privet room.


Lina belum berpindah selangkah pun ia juga sama memandang Devis, yang mulai melangkah mendekati nya. Jarak mereka kini hanya beberapa senti saja. Devis sangat kagum melihat penampilan Lina sangat cantik anggun dan wangi. Lina makin tak kuasa dengan tatapan Devis yang seakan menghanyutkan, ia pun menundukkan kepala nya malu malu. Membuat Devis tersenyum.


" Kenapa menunduk?" Ucapnya sangat lembut.

__ADS_1


" Euhmm..aku malu."


Dada Lina semakin berdebar, ketika tangan kanan Devis mengulur memegang tangan Lina dan mengecup punggung tangan Lina, sambil kedua manik mata Devis menatap kedua manik mata Lina.


Devis kemudian melingkarkan kedua tangan nya pada pinggang lina yang ramping. Membuat tubuh Lina menempel pada tubuh bidang Devis. Mereka belum memutuskan pandangan nya.


" I Miss you my Dear, I really really Miss you."


Lina tertahan nafas nya, kedua bola mata nya bergerak menatap kedua mata Devis, terlihat ada kerinduan yang sangat dalam di mata nya. Di hati Lina yang paling dalam pun juga merindukan sosok pria yang juga sudah menempati di hati nya. Tapi ia tahan untuk mengatakan ungkapan yang sama terhadap Devis.


" Katakan kalau kau juga merindukan ku, sayang?"


Tanpa menunggu jawaban dari Lina, Devis langsung mencium bibir Lina dan ******* nya. Lina membalas ciuman Devis. Kedua tangan Devis menangkup wajah Lina, Devis semakin memperdalam pagutan nya sampai Lina memejamkan matanya membuka mulut nya agar lidah Devis mengakses rongga mulut Lina dan memainkan ujung lidah Devis pada langit mulut Lina. Pagutan kedua nya sangat lembut, Devis memang selalu melakukannya dengan lembut.


Sampai Sampai Bagian bawah Devis mulai membengkak terasa sempit didalam sana. Junior Devis menegang tanpa di sadari oleh Lina. Ciuman dalam kedua nya berjalan sampai satu menit, tapi kemudian Lina mulai menyadari di bagian bawah pusar perut Lina terasa ada sesuatu yang mengeras. Lina langsung memutuskan pagutan nya untuk mengambil nafasnya dalam dalam.


Ibu Jari Devis menghapus basah Saliva di bibir Lina. Devis mengembangkan senyum ia tahu Lina merasakan junior Devis yang mulai berdiri.


" Maaf kan yaa."


" Maaf kan apa. Dev?"


" Junior ku sudah berdiri."


๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Author nulis berdasar imaginasi, malah author sendiri jadi gelenyer sendiri. Welehhh๐Ÿ˜€


Namanya juga laki laki, normal saja! kalau sudah dekat dekat dengan wanita, apalagi dekat wanita yang di cintai nya. Oke Lanjut๐Ÿ‘‰


๐Ÿ˜๐Ÿ˜


" Apa kabar dengan Sakya Aileen Aldeen. sehat sehat kah, mereka?"


Devis menanyakan anak anak Lina sambil punggung tangan Devis mengelus lengan Lina yang terasa sangat lembut dan kenyal kulitnya.


" Mereka sehat dan baik baik saja. Dev."


Devis mengecupi kulit lengan Lina sampai punggung. Lina memang memakai busana tanpa lengan warna putih gading.


" Sukurlah kalau begitu. aku senang mendengarnya."


" Dev."


" Iya sayang." Devis menatap Lina kembali.

__ADS_1


" Kenapa kau tidak menelpon ku?"


" Duduk lah dulu!, kita pesan makanan."


Devis mengajak Lina ke meja dan duduk di samping Devis. Kemudian seorang pelayan pria rastoran datang dengan ramah.


" Good evening, what do you want to order, sir?"


" Sayang kau ingin makan apa?" Ucap Devis


" Sushi dan jus jeruk saja, Dev."


Devis langsung bicara pada pelayan itu.


" I would like to order two plates sushi, two orange juices...and two bottles mineral."


" Alright, Sir. Please a moment, only 20 minutes!"


" Thank you."


Setelah memesan makanan dan minuman. Devis mulai menjelaskan kenapa ia tidak menghubungi Lina selama satu bulan.


" Maaf aku sangat sibuk karena pekerjaan ku di Amsterdam. Aku juga sibuk mengurus kuliah kedua anak anak ku Sander dan Bastian. Memang aku sengaja menahan diri untuk tidak menelpon mu, karena terus terang!, aku harus fokus dengan urusan pekerjaan ku. Akan sulit bagi ku bila sudah menelpon mu, pasti hati ini rasa nya ingin selalu cepat cepat bertemu dengan mu."


" Aku harap selama itu, kamu jangan berfikir hal yang buruk tentang ku!, kau tahu sayang?"


" Apa itu?" Lina sangat serius menyimak penjelasan dan hal yang membuat Lina penasaran.


" Papa ku sudah tahu hubungan ku dengan kamu."


" Hah?, tapi respon papa kamu?"


Membuat Lina terkejut. Apa maksud nya Devis menceritakan hubungan dia dengan Devis pada Papa nya Devis.


" Beliau tidak mempermasalahkan nya. Papa ku mempercayakan pada ku, karena setiap tindakan yang aku ambil pasti di pertanggung jawabkan."


POV Devis.


Sesampai nya Devis di kediaman nya di Amsterdam, Devis duduk bersama kedua anak anak nya di ruang keluarga. Anak anak tampan Devis itu memang sangat mandiri. Mereka kuliah di bidang bisnis agar kelak anak anak Devis yang meneruskan usaha usaha Devis di empat negara Australia, Jerman, Belanda dan Indonesia.


Hingga di suatu sore, setelah Devis mengantar anak anak nya ketempat di mana anak anak nya Devis tinggal, katakan lah tempat sebuah mess yang masih berada di lokasi universitas ternama di Belanda. Devis akan menjemput mereka kembali pada hari Jumat saja.


Devis dan anak anak nya sudah masuk di kamar khusus Sander, yang terpisah dengan ruangan kamar Bastian


Sebagai seorang Ayah, Devis berpesan pada kedua anak nya lulus lah!, dengan nilai yang bagus. Devis ingin anak anak nya mandiri walaupun di kediaman nya cukup megah dan punya pelayan bukan berarti anak anak nya mengandalkan pada pelayan.

__ADS_1


__ADS_2