
Dan runtuh lah sudah tembok pertahanan harga diri Lina, akal pikiran Lina sudah hilang hanyut terbawa oleh gairah yang membara.
Hubungan terlarang itupun akhirnya terjadi, Devis melakukan percintaan dengan Lina dengan sangat lembut dan rasa sayangnya pada Lina yang sangat dalam.
Mereka tertidur, tubuh keduanya masih keadaan polos. Tangan Devis yang kekar dan berbulu itu memeluk Lina posesive.
Devis mendapat pelepasan kedua, sebenar nya ia ingin kembali melakukan nya lagi tapi mengingat waktu sudah pukul 4 pagi. Lina hanya tertidur satu jam saja. Ketika Lina membukakan mata Devis ternyata sedang memandangi wajah Lina dengan jarak dekat sampai ujung hidung mancung mereka bersentuhan.
" Dev, aku harus keluar. Ini sudah jam 5 pagi mau buat sarapan."
Namun Devis masih menahan nya, Devis mengecup bibir Lina.
" Aku harap kau tidak menyesali, karena akupun tidak akan pernah menyesali ini. Aku sangat mencintai kamu..., siang ini aku pulang ke Amsterdam. Aku akan kembali lagi ke Jakarta dan menemui mu."
" Tapi, Dev."
" Sstt..jangan bicara apa apa lagi." Devis mengecup kembali, dan Lina membalas.
" Dev, aku harus keluar dari kamar ini."
" Baik lah!"
Lina memakai baju nya kembali, Devis bangkit dan kembali memeluk tubuh Lina erat, Devis tidak bisa lagi berkata kata ia hanya mencurahkan segala rasa Devis dalam pelukan Lina. Devis janji akan selalu menjaga Lina, wanita ini juga sudah Devis genggam hati nya.
" I love you so much."
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Devis, namun Lina hanya bisa memandang Devis sebentar dan kemudian Lina keluar dan menutup pintu itu.
Sarapan pagi sudah di hidangkan oleh Lina, Buk Inah sedang menyuapi Aldeen makan. Terdengar suara deru mobil di depan rumah, Adrie sudah tiba.
" Bang sudah pulang, kau mau langsung sarapan?" Lina langsung mengambil tas kerja Adrie dan dibawa ke kamar.
" Tidak sayang, Abang hanya ingin langsung tidur."
" Baik lah."
Adrie langsung menuju kamar, tubuh nya terbaring hanya beberapa menit Adrie langsung pulas.
Ting Tung
" Buk Inah tolong buka kan pintu!"
" Iya Nyah." Buk Inah pun segera membuka kan pintu.
__ADS_1
" Selamat siang, saya Parman mau menjemput Pak Devis."
" Ohh, silahkan duduk, Mas Parman."
" Trimakasih."
Devis sudah bersiap siap dan keluar dari kamar, Lina tidak berani berdekatan dengan Devis karena Adrie sedang berdiri di samping nya.
" Drie kakak pamit dulu."
" Baik Kak, hati hati di jalan sampai di sana beri kami kabar."
" Pasti!, Lina kakak pergi dulu."
" Baik lah Kak, hati hati yaa semoga selamat sampai di sana."
" Trimakasih saya...", Devis hampir saja memanggil Lina dengan sebutan sayang di depan Adrie.
" Euh maksud ku, trimaksih sayang nya kita belum sempat membawa Sakya Dan Aileen jalan, Kakak janji pasti akan mengajak anak anak liburan."
" Dagh Uncle Dev.'
Anak anak Adrie pun berpelukan dengan Om yang sangat mereka sayangi.
" Oke Uncle."
Lina merasa sangat sedih melihat Devis akan kembali ke tanah air nya, Ia hanya menatap punggung Devis yang akan masuk kedalam mobil nya.
" Pak Devis sudah siap?"
" Sudah Parman."
Lina dan Adrie beserta anak anak mereka mengantar Devis sampai di mobil, mobil Devis sudah melaju sampai hilang dari pandangan Lina dan Adrie.
Adrie sudah masuk terlebih dahulu dan masuk kamar. Sebelum Lina menyusul ponsel nya bunyi ada nada pesan masuk. Lina melihat layar ponsel pesan dari Devis.
" Sayang, masuk lah ke kamarku dan lihat di laci lemari aku menaruh sesuatu untuk kamu baca."
Buru buru Lina menuju kamar Devis menginap, dan membuka pintu kamar yang sudah kosong Lina melangkah pelan memasuki kamar Devis. Masih tercium aroma parfume maskulin Devis yang sangat menyejukkan. Kemudian ia melirik ranjang itu, ranjang yang masih berbekas percintaan mereka semalam. Bantal itu pun masih lekat aroma keringat Devis.
Lina sedikit merapihkan ranjang itu. Entah kenapa Lina sudah mulai merindukan Devis.
Ia teringat pesan Devis, bahwa Devis menaruh sesuatu di dalam laci lemari, buru buru lemari itu ia buka dan laci nya ia tarik ada sebuah buku note namun di balik buku note itu ada sebuah amplop putih bertulis initial, Dev
__ADS_1
Lina membuka amplop itu dan mengeluarkan isi dari amplop itu. Ternyata sebuah lembar cek yang bertulis angka senilai 1M.
Lina terkejut mulut nya terbuka tangan kanan nya menutup mulutnya. Melihat lembar cek itu.
dan ada juga surat yang di tulis tangan.
" *Gunakanlah uang ini untuk membuka usaha yang kau impikan itu. Maaf, ku mohon tolong jangan beranggapan dengan cek ini aku membayar atas yang terjadi semalam. Aku akan merindukan kamu, aku pastikan aku akan kembali lagi.
love you, Devis*.
Lina menyimpan cek itu dan membuang kertas surat lalu keluar dari kamar Devis dan menyusul Adrie di kamar yang sedang tidur siang.
😘😘😘😘
Satu bulan sudah Devis di Amsterdam, Lina belum juga mendapat kabar dari Devis. Ia sebenarnya ingin menghubungi nya, tapi masih Lina tahan.
Adrie masih belum bisa melepaskan Tiara, kedekatan kedua nya semakin intim. Hubungan mereka berdua masih di lakukan secara sembunyi sembunyi. Demi kelancaran pertemuan mereka Adrie membeli sebuah rumah untuk Tiara.
Malam hari yang sudah sepi Lina yang terdiam di kamarnya. Memikirkan Adrie yang masih suka pulang larut malam bahkan masih suka tidak pulang. Tapi Lina sudah merasa lelah dengan sikap Adrie yang terlalu egois tidak pernah memikirkan perasaannya bagaimana sakit nya hati Lina yang selalu di duakan.
" Pernikahan macam apa ini?, aku lelah Tuhan."
Lina bergumam mata nya berkaca kaca. Tapi ia selalu bersikap tenang dan kuat di depan anak anak nya yang semakin tumbuh besar.
" Ya aku harus kuat!, demi anak anak ku, demi masa depan mereka aku harus bertahan dalam pernikahan ini."
Dengan Devis, apa kabar nya dia?
Devis sendiri tidak pernah menghubungi nya, kirim pesan pun tidak?.
Lina kembali terbayang bayang percintaan nya dengan Devis, cara Devis memperlakukan nya lemah lembut, belaian Devis, kecupan bibir Devis masih terasa hangat di tubuh nya. Masih sangat kental terasa kenangan kenangan indah yang Devis berikan.
Namun kenapa di saat hati nya sudah mulai sedikit terbuka untuk Devis, malah tak ada kabar dari nya. Apakah Devis mulai melupakan Lina? Apakah Devis memang hanya mempermainkan perasaan nya saja?
Pikiran pikiran itu terus berkecamuk di otaknya.
" Betapa bodoh nya aku, yang sudah jatuh di pelukan nya." Lina mem bathin.
" Aku harus melupakan nya, bantu aku Tuhan!"
Lina akhir nya lelah dan mulai tertidur.
😴😴😴 Author juga lelah mau bobo,👍
__ADS_1